Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Januari 2013

IT WILL RAIN



            "God, I knew You have the cure for my wound"

            4 tahun. Dan dia masih sama seperti saat kami bertemu. Caranya bicara, berjalan, caranya memandangku bahkan saat tertawa. Daftar lagu di MP3-nya masih Frank Sinatra dan Nat King Cole. Dan ketika kami dinner berdua seperti sekarang, dia selalu memesan secangkir espresso setelah makan.

            “Kamu inget nggak waktu kali pertama kita bertemu?” dia bertanya.
            “Mana mungkin lupa?! Itu adalah peristiwa paling memalukan seumur hidupku.” Wajahnya langsung cemberut begitu mendengar jawabanku. Sementara aku malah tertawa kecil. “becanda, sayang. Nggak mungkin lah aku malu pernah kenal sama kamu.” Kataku sambil mengacak rambutnya.
            “Tapi kalo dipikir-pikir, waktu itu memalukan juga sih. Kita sampe jadi perhatian seluruh cafĂ© gara-gara rebutan meja.” Gantian dia yang tertawa. Matanya yang sipit jadi semakin kecil.
            “Nggak terasa udah empat tahun.” Gumamku.
            “Iya. Ternyata kita udah selama ini.”

            Sunyi. Kami berdua sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sesekali saling pandang dan melempar senyum seakan kami bertelepati. Terlalu banyak hal yang sudah aku jalani bersama Amanda. Dia perempuan yang cantik, baik, sopan dan penurut. Nggak ada hal yang paling aku inginkan di dunia ini selain menikahinya dan hidup bersama. Tapi cita-cita sederhana itu ternyata nggak mudah untuk diwujudkan. Apa pun yang aku miliki sekarang, masih belum bisa untuk mendapatkan dan memiliki Amanda seutuhnya.

            “Eka.” Panggilnya.
            “Hm, kenapa sayang?” aku sedikit heran dia hanya memanggil namaku.

            Sunyi kembali. Amanda memainkan cangkir espresso-nya beberapa saat. Lalu memandangku yang menunggu kalimat selanjutnya. Mata itu berbeda dengan beberapa menit yang lalu yang terlihat berbinar.

            “Aku ingin kita putus.” Tidak ada kata pengantar atau kalimat petunjuk. Singkat dan beberapa saat membuatku berpikir kalau aku salah dengar. Tapi meskipun pantai di belakangku saat ini terkena gelombang tsunami pun, aku rasa kalimat itulah yang dia ucapkan.
            “Kamu serius?” aku nggak tau harus mengatakan apa. Hanya ini satu-satunya yang aku pikirkan.
            “Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Hubungan kita nggak mungkin dipertahankan.” Jelas Amanda.
            “Kita sudah jalan selama empat tahun. Pasti masih bisa lebih lama dari itu.” Dia menggeleng. Wajahnya terlihat putus asa.
            “Nggak, Eka. Sejak awal kamu tau kalo pada akhirnya akan begini. Hubungan kita nggak mungkin diteruskan.”
            “Trus buat apa dulu kita susah-susah bikin rencana buat masa depan?” sambungku cepat. “Anda, aku udah berkorban banyak buat hubungan kita. Aku sudah memikirkan segala resikonya ketika pacaran sama kamu. Dan setelah empat tahun, kamu minta putus?”
            “Aku juga nggak menginginkan ini. Tapi Cuma ini jalan satu-satunya yang bisa memperjelas status kita.” Jawabnya. “kita berbeda, Ka.”
            “Nggak ada yang salah dengan perbedaan. Kita masih tetep bisa menjalaninya sama-sama kok.”
            “Nggak. Terkadang sebuah perbedaan nggak harus bersatu. Kita nggak seiman. Aku nggak mungkin mengikuti keyakinan kamu. Kalo pun kita nekad untuk menikah dengan tetap menganut keyakinan masing-masing, Mamiku nggak setuju.” Katanya.

            Aku membuang pandang ke arah pantai yang berjarak hanya beberapa meter dari kami. Berharap suasana hatiku akan lebih baik. Ini bukan kado yang aku harapkan di ulang tahun kami yang keempat. Dan aku nggak berharap bukan ini solusi yang tepat untuk hubungan kami yang terlalu banyak perbedaan. Ya, aku dan Amanda memang terlalu berbeda. Aku Jawa, dia Tionghoa. Aku bartender, dia pelukis. Aku shalat di masjid, sedangkan dia tidak pernah absen mengikuti misa di gereja. Sejak awal pertemuan kami di pulau dewata ini sampai menjalin hubungan hingga sekarang, aku tahu ini tidak akan mudah.

            “Kamu sudah tahu sejak menghadap ke Mami tiga tahun yang lalu, Mami dan keluarga besarku nggak akan merestui kita. Tapi kamu masih ingin kita jalan.” Kata Amanda setelah menunggu aku tidak mengatakan apa pun. “sudahlah, Ka. Ini semua sia-sia aja. Meskipun ibu kamu nggak masalah dengan keyakinanku, tapi kita tetap nggak bisa menikah tanpa restu dari Mami. Aku minta maaf kalo akhirnya harus mengatakan ini sama kamu.” Sambungnya.
            “Tolong lihat aku kalo lagi ngomong!” suaranya agak meninggi saat aku masih serius memandangi pantai. Mau tidak mau aku menoleh ke arah wajahnya yang kesal bercampur marah. “aku minta maaf.” Dia mengatakannya lagi. “tolong kamu ngerti.”

            Aku tidak menjawab. Hanya tersenyum samar dan mengacak rambutnya lalu berdiri dan berjalan menuju kasir. Amanda memandangku bingung dari meja kami. Setelah melunasi bill makan malam, aku mendatanginya kembali.
            “Ayo ikut.” Ajakku.
            “Ke mana?”
            “Jalan-jalan.” Dia menurut. Diraihnya tanganku yang terulur dan mengikutiku.

            Sepanjang jalan kami hanya saling diam. Sesekali Amanda memainkan ombak yang menyapa kakinya yang telanjang sementara tangan kirinya menggenggam erat tanganku. Entah sudah berapa jauh kami menyusuri pantai. Saat bertemu dengan pohon kelapa yang tumbang, aku mengajaknya duduk untuk beristirahat. Langit sudah sangat gelap, tapi aku belum ingin pulang. Diam-diam aku berdoa supaya Allah mengirim tsunami saat ini. Supaya kami bisa sama-sama menghadapNya. Hhhh…. Tapi itu pikiran konyol.

            “Sini.” Kutarik tangannya dan Amanda pun menempelkan tubuhnya padaku. Aku lalu melingkarkan lenganku ke tubuhnya yang kecil sementara kepalanya bersandar di bahuku. Kami kembali diam. Hanya menikmati suara debur ombak yang terdengar malas. Semilir angin berhembus pelan, membuat Amanda sedikit gemetar dan semakin merapatkan tubuhnya kepadaku.
            “Dingin ya?” tanyaku.
            “Iya.” Jawabnya yang lebih terdengar seperti menggumam. Aku melepas jaket yang kukenakan lalu menyelimutkan ke tubuhnya sambil mengeratkan pelukanku.
            “Makasih.” Katanya sambil tersenyum memandangku. Aku balas tersenyum lalu mengecup bibirnya. Suara debur ombak masih terdengar malas bahkan saat aku menjauhkan wajahnya dariku. Tanpa terasa kami sudah berpelukan sepanjang malam saat matahari samar-samar menyemburatkan cahayanya.

            Pelan-pelan kulepaskan tubuhnya, berdiri lalu berbalik pergi. Kubiarkan dia tetap mengenakan jaketku. Meninggalkan jejak pelukanku di tubuhnya. Aku berjalan cepat dan tiba-tiba saja pandanganku kabur. Seorang turis asing tanpa sengaja kutabrak. “Sorry.” Kataku lalu kembali berjalan cepat.

            Secerah apa pun hari ini, bagiku tetap saja mendung. Siapa yang sangka kalau putus ternyata sesakit ini. Sudahlah, ini memang yang terbaik. Dia hanya ingin aku bahagia. Dan pasti mengatakan kalimat terkutuk itu juga menyakitkan buat Amanda. Aku hanya perlu mencari obat untuk menyembuhkan kesedihan ini. Sudahlah Eka. Semua bakal baik-baik saja. Aku mengusap sudut mataku lalu menyalakan mesin motor dan segera pergi. Pulang.

-FIN-

PS: Untuk sahabatku yang baru berpisah. Percayalah, Allah will gives you the cure for your wound.
            

Minggu, 23 September 2012

Suatu Petang Di Taman Dayu...

Hidup ini penuh misteri, penuh kejutan, serba kadang-kadang, dan absurd yang semuanya terangkum dalam satu kata, takdir. Mungkin takdir juga lah yang mempertemukan aku dengan seorang sahabat lama.

Sore menjelang petang adalah waktu yang Tuhan pilih untuk mempertemukan aku dengannya di Food Terrace, sebuah pujasera yang berlokasi di Taman Dayu, tempat hangout paling hip di Pandaan, sebuah pusat industri di Kabupaten Pasuruan tempat aku mencari nafkah.

"Ups, maaf..." gumam seorang perempuan yang nggak sengaja menabrakku.
"Nggak apa-apa." kataku sambil tersenyum sekilas dan berlalu ke meja yang kuincar setelah memesan seporsi nasi bebek dan segelas wedang jahe di salah satu stand. Bersamaan dengan aku duduk, tiba-tiba smartphone-ku berbunyi. Rupanya ada pesan. Segera kuperiksa sambil menunggu pesanan datang. Hmm.... sekalian ber-twitter sepertinya nggak masalah. Pesanannya mungkin agak lama.
"Uhm... maaf mbak, boleh duduk sini?" tegur seseorang.
"Silahkan... lho?" aku tertegun sejenak. Bukan karena orang yang menegurku ini adalah orang yang menabrakku tadi, tapi dia adalah orang yang sudah lama nggak kujumpai. Perempuan itu juga sama-sama kaget.
"Lyla?" tanyaku ragu.
"Iya... kamu... Sessa, bukan?" ia balas bertanya.
"Iya. Subhanallah... apa kabar Lyl?" aku bergegas berdiri dan merangkulnya. Terkejut sekaligus senang dengan pertemuan kami yang tiba-tiba.
"Baik. Alhamdulillah... nggak nyangka ketemu kamu di sini."
"Harusnya aku yang ngomong begitu. Ayo duduk." ajakku, "aku kan emang kerja di kota ini. Sedangkan kamu, bukannya di Bandung? Kok nyasar ke Pandaan?" Lyla tertawa kecil mendengar pertanyaanku.
"Aku kan udah pulang kampung. Masa nggak tau sih?"
"Hahaha... iya, iya. Akunya yang lupa, maklum, udah menuju usia lanjut." ujarku yang diiringi tawa kami bersamaan dengan pesanan yang datang.

Lyla adalah teman sekolahku waktu di Kediri, kota kelahiranku. Kami nggak bisa dibilang dekat, tapi juga nggak terlalu renggang. Berteman biasa. Setahuku memang Lyla tinggal di Bandung setelah menikah dengan seorang pengusaha begitu lulus kuliah. Jadi aku cukup kaget ketika menjumpainya di Pandaan, kota yang setahuku belum pernah ia kunjungi. Sambil menyantap pesanan masing-masing, kami bertukar cerita saat masih SMA dulu. Gimana kabar teman-teman dan apa pekerjaan mereka. Juga keinginan untuk mengadakan reuni.
"Eh iya, gimana kabar anakmu? Siapa ya, namanya?"
"Armand." sahut Lyla.
"Nah, itu. Apa kabarnya? Udah segedhe apa sekarang?" kataku antusias.
Lyla tidak segera menjawab. "aku nggak tau." katanya pelan.
"Kok nggak tau?"
"Yah... dia kan udah punya mama baru. Jadi aku nggak tau kabarnya sekarang." jelas Lyla.
"Kamu divorced ya?" Lyla mengangguk. "sorry."
"It's ok. Aku nggak menyesal kok, Ses. Cuma yang aku sesali, kenapa Armand nggak bisa sama aku. Aku mungkin memang nggak sekaya Daryl, mantan suamiku. Tapi aku masih sanggup memenuhi kebutuhan Armand, bahkan menyekolahkan dia nanti." curhatnya.
Suasana jadi agak murung. Sementara aku melahap suapan terakhir dan Lyla meletakkan sendok. Sepertinya selera makannya lenyap.
"Udahlah, aku nggak pengen ngomongin itu sekarang. Sesekali masih bisa ketemu anakku kok. Lagian sekarang juga, aku udah punya pacar." katanya. Aku tersenyum.
"Ternyata Lyla yang dulu masih ada. Easy go, easy come." kami tertawa menanggapi kata-kataku. "kalo boleh tau, sama siapa nih sekarang? Kalo bisa jangan lama-lama pacarannya."
"Kamu kenal orangnya kok."
"Oh ya? temen kita juga dong?"
"Hm... bisa dibilang begitu."
"Wah, siapa ya? Kenapa main rahasia segala sih?" tanyaku benar-benar penasaran. Lyla tertawa, lalu mengambil smartphone-nya dan mengutak-atik sejenak. Beberapa menit kemudian ia menghadapkan layar smartphone-nya kepadaku. Foto Lyla bersama seorang pria yang wajahnya cukup familiar untukku.
"Ini... bukannya Zacky ya?" tanyaku memastikan. Aku ingat, di SMA dulu kami punya senior bernama Zacky yang sempat berpacaran dengan Lyla. Tadinya kupikir Lyla akan menggeleng, tapi di luar dugaan dia mengangguk dengan tanpa ragu.
"Tapi bukannya Zacky udah married?" tanyaku. Lebih tepatnya menggumam.
"Yup. Begitulah." jawab Lyla ringan seraya mengambil kembali smartphone-nya dari tanganku. "tapi nggak masalah. Dia memang mencintai istrinya. Tapi masih sayang sama aku." lanjutnya sambil tersenyum.
Aku balas tersenyum datar. Senang mengetahui Lyla nggak banyak berubah. Tapi miris kenapa dia harus jadi selingkuhan orang....
"Kamu nggak kasihan sama istrinya?" tanyaku setelah kami saling diam beberapa menit.
Lyla tersenyum kecil. "gimana ya? Istri Zacky, wanita yang baik. Taat sama suami. Sayang, Zacky nggak ada bedanya sama Daryl." katanya datar. Tapi suaranya terdengar muram. Aku menunggunya bicara lagi. "Olivia, istri Daryl yang sekarang, dulu posisinya sama kayak aku. She's a lucky woman. Setidaknya Daryl menikahinya. Sedangkan aku... hmh... mungkin bakal jadi pacar gelap Zacky terus." jelasnya yang disusul tawa hambar.
"Aku becanda kok, Ses. Tentu aja one day aku pengen punya suami yang bukan suami orang dan mau membimbing aku." katanya dengan nada ceria dan optimis. Tapi aku nggak yakin dia seoptimis itu. Aku ikut tersenyum. Bingung harus gimana sebenernya...

Lima menit kemudian Lyla pamit. Dia harus ke Surabaya untuk mengurus bisnis barunya. Aku dengan tulus memberikan support-ku untuk yang satu ini dan memeluknya sebelum dia berlalu menuju mobilnya. Aku masih duduk di meja dan menatap kosong pada tumpukan tulang dan mentimun di piring, lalu mengambil smartphone-ku dan mencari nama seseorang di buku telepon.

Nada sambung terdengar sebelum kemudian seseorang berkata,
"Halo, sayang..."
"Assalamu'alaikum, honey."
"Wa'alaikumussalam... tumben kamu telepon?" katanya lembut.
"Kamu sayang aku kan?" tanyaku tanpa basa-basi.
Sunyi. Tapi selanjutnya aku mendengar dengan sangat jelas dan tidak perlu merasa khawatir lagi.
"Aku sayang kamu kemarin, hari ini, besok dan seterusnya meskipun kamu nggak tanya dan nggak mau tahu."
Aku tersenyum, bersamaan dengan gerimis yang membasahi bumi Pandaan..

--End--