Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2015

Angel Bab 2 (Part 1)

Lanjutan Bab 1 (Part 3)

"SENDIRI DULU?!" Tanya Dewi dengan suara penuh penekanan tajam. Rika melihat bingung antara Dewi dan Dhani secara bergantian.
"Dew, aku..."
Dewi menyentak tangan Dhani dari tangannya. Ia lalu bergegas menuju pantry diiringi suara Rika yang manja dan terkesan polos.
"Kamu kenal dia, babe?"
Eukh.... rasanya Dewi ingin muntah saat itu juga. Berhari-hari tanpa kabar, begitu ketemu minta putus, dan belum lima menit mereka putus seorang perempuan yang selalu terlihat cute memanggil babe kepada mantan pacarnya. Kenapa nggak sekalian aja mereka nikah di depanku? rutuk Dewi dalam hati.

Dewi menghempaskan badannya di bangku ruang locker karyawan. Gumpalan dalam dadanya sekarang keluar berupa air mata. Dewi menangis sendirian dalam ruang locker tanpa suara. Entah kenapa ia tiba-tiba teringat saat Diana, adiknya, saat baru putus dan ia meledeknya. Ia berkata tidak seharusnya Diana menangisi cowok yang cuma main-main. Harusnya ia lega karena sudah terbebas dari cowok seperti itu. Dewi pun sempat sesumbar jika dia tidak akan menangis jika putus. Kalau cerai, mungkin saja. Tapi kenyataannya, justru dia sesenggukan sendiri tanpa ada siapa pun yang menenangkannya. Jadi ini yang dirasakan Diana waktu putus.

Sekarang apa? Apa ia harus resign dari Fishbone untuk menghindari pertemuan dengan Dhani atau ia tetap bertahan untuk menunjukkan kepada siapa pun, terutama Dhani bahwa ia tegar, baik-baik saja. Dua-duanya pilihan yang berat. Faktanya ia tidak setegar itu. Dewi kembali menangis. Ia tidak peduli jika nanti supervisor memanggilnya dan memberi surat peringatan. Surat pemecatan sepertinya lebih bagus. Atau sekalian saja Tuhan mencabut nyawanya saat ini juga supaya dia tidak merasa tertekan saat bertemu Dhani.

Dewi menghapus air matanya. Kenapa saya, Allah? Dan kenapa saya harus sesedih ini? Dhani mungkin bukan yang terbaik, jadi tolong hentikan air mata saya. Tapi dia kembali menangis. Sedetik kemudian dia mengambil tas dan jaket. Dia tidak peduli shift-nya masih lama, dia hanya ingin pulang sekarang. Besok dia siap menghadap supervisor atau bahkan Rosaline sekali pun. Dewi memakai jaketnya sambil sesenggukan lalu berjalan cepat keluar restoran saat ponselnya berbunyi.

"Halo?" sapanya dengan suara bergetar.
"Hai, Dew. Kemarin kakakku pulang dari Solo bawain baju batik buat kamu. Bagus deh. Sepasang lho. Bisa kamu pake kembaran sama Dhani. Nanti aku bawain ya...." air mata Dewi mengucur makin deras. Suara Risa yang ceria kabur. Dia tiba-tiba saja tidak menangkap apa yang ia katakan. Dia butuh Risa. Dia ingin bicara dengan sahabatnya itu saat ini juga. Kenapa sih Risa mesti pulang ke Blitar di saat seperti ini? Kenapa Allah suka sekali melihat dia menderita?
"Halo, Dew? kamu nangis?" Dewi hanya menjawabnya dengan senggukan. Hanya itu yang bisa dia katakan sekarang. Mungkin Risa baru menyadari kalau Dewi menjawab setiap kalimatnya dengan senggukan.
"Kamu nangis kenapa Dew? Cerita dong sama aku. Siapa yang udah bikin gara-gara sama kamu? Jangan bilang Dhani ya?! Kalo sampe dia..."
BRAAKKKK!!!
Risa tersentak saat mendengar suara benturan di telinganya.
"Ha... halo, Dew?" Tidak ada jawaban. Bahkan senggukan seperti yang baru saja ia dengar. Malah suara dengung panjang yang menandakan komunikasi mereka putus yang tertangkap telinganya.
Perasaan cemas tiba-tiba menyergapnya. Risa takut sesuatu yang buruk terjadi pada Dewi. Ia buru-buru lari ke kamarnya.
"Hei, ati-ati dong." gerutu kakaknya yang hampir ia tabrak.
***

Diana sedang menyiapakan cemilan sore saat ponselnya berdering.
"Halo?... Iya, saya Diana. Adiknya..." Diana mendengarkan suara orang yang meneleponnya, kemudian mendadak seluruh tenaganya habis. Ia buru-buru berpegang pada tepian meja.
"Bu..." panggil Diana. Suaranya nyaris tak terdengar tapi anehnya ibu menjawab panggilannya.
"Kenapa Di? Lho, kamu ngapain duduk di lantai?" Diana memandang ibunya dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca.
"Mbak Dewi..." jawabnya dengan suara tercekat.
Tiba-tiba perasaan ibunya tidak enak.
***

Jam 6 petang tepat saat Risa turun dari bus yang ditumpanginya dari Blitar. Ia lalu menumpang becak menuju Fishbone. Perasaannya campur aduk membayangkan yang tidak-tidak terjadi pada Dewi. Sahabatnya itu tidak mungkin menangis sampai tidak bisa bicara kalau tidak ada sesuatu yang memukul telak perasaanya. Dewi adalah pribadi yang sangat sensitif dan lugu. Risa pernah mengatakan padanya untuk tidak terlalu memikirkan apa kata orang dan lebih berani. Tapi sepertinya terlalu sulit bagi Dewi untuk melakukannya.
"Terima kasih, Pak." ujar Risa saat membayar ongkos becak. Ia bergegas menuju Fishbone yang lumayan ramai. Didorongnya pintu kaca lalu menuju kasir.
"Wulan, mana Dewi?"
"Lho, kamu bukannya cuti Ris?" tanya Wulan balik.
"Nggak usah dipikirin. Sekarang mana Dewi?"
Wulan baru akan menjawab tepat saat ponsel Risa berbunyi.
"Halo?"
"Mbak Risa. Ini Diana, mbak?"
"Eh, Di. Kenapa?"
Bukannya menjawab, Diana malah menangis. Risa mengerutkan kening. Kenapa semua orang yang dihubunginya menangis si? Oke, nggak semua. Cuma dua. Dewi dan Diana, adiknya. Tapi masalahnya Risa nggak bisa menerjemahkan tangisan seseorang.
Diana masih menangis beberapa saat. Lalu dengan terbata-bata ia bercerita. Dewi mengalami kecelakaan lalu lintas saat pulang kerja. Untungnya si penabrak bertanggung jawab dan bersedia menanggung semua biaya pengobatan sampai sembuh. Tapi berdasarkan diagnosa dokter, Dewi mungkin akan koma dalam beberapa waktu karena mengalami trauma yang sangat hebat.
Tanpa membalas sedikit pun apa yang disampaikan Diana, Risa memutuskan sambungan. Ia berharap Diana mengerti, ia terlalu shock untuk menjawab.
"Ris, kenapa? Itu tadi adiknya Dewi kan? Dewi kenapa?" Berondong Wulan dengan raut khawatir.
"Lan, Dewi itu orangnya ati-ati banget kan? Kamu pasti tau apa yang bikin dia ceroboh sampe sekarang... dia di rumah sakit." Risa tidak sanggup dan bakan ragu saat akan mengatakan jika Dewi koma.
"Dewi di rumah sakit? Jangan becanda kamu."
"Diana yang barusan kasih tau sampe nangis-nangis. Kamu seharian di sini kan? Sekarang jelasin."
Wulan menghela napas sejenak. Ia lalu bercerita tentang cewek 'Korea' yang siang tadi datang ke Fishbone, pembicaraan pribadi Dhani dan Dewi, sampai Dewi yang berteriak di depan Dhani dan menangis di belakang. Wulan tidak tahu jika Dewi akirnya pulang lalu mengalami kecelakaan dan sekarang di rumah sakit.
Risa mengepalkan tinjunya di atas meja kasir.
"Kampret tuh si Dhani!" umpatnya. Wulan menggamit lengannya dan menunjuk ke belakang Risa dengan dagu. Risa menolah dan seketika hatinya mendidih saat melihat siapa yang ditunjuk Wulan.
"Dhani!"
Dhani yang sudah membuka pintu, dan semua orang di restaurant menoleh ke arah suara yang meneriaakan namanya bersamaan dengan bogem mentah yang mendarat mulus di wajahnya.
"Ya ampun! Baby...!!" teriak Rika histeris.
"Diem kamu, perek! Baby, baby....! Babi yang bener!"
"Ris... udah Ris. Nanti kamu bisa dipecat." Wulan buru-buru menahan tangan Risa yang siap melancarkan tinju kedua. Sementara Rika menangis tersedu-sedu di sebelah Dhani.
"Bodo amat! Mending jadi pengangguran daripada kacung babi kayak dia!"
"Risa!"
Keempatnya menoleh. Begitu juga dengan semua orang di ruangan itu. Rosaline menyilangkan kedua tangannya.
"Ke ruangan saya." katanya singkat, lalu menuju ruang manajerial. "liat apa? Semuanya kembali kerja. Layani para tamu." Ia menarik salah satu pelayan yang dilewatinya. "bilang Pak Braham, kasih semua tamu malam ini seporsi tom yam sebagai compliment dari Fishbone."
"Siap bu."

Bersambung.....

Kamis, 31 Juli 2014

Angel (Bab I Part 3)

Udah baca Angel (Bab I Part 2) kan? Silahkan baca lanjutannya... :)

"Meja 14!" seru Layla dari balik counter. Dewi segera mengambil nampan berisi dua porsi gurami bakar yang masih hangat dan mengantarkannya ke meja yang dimaksud. Risa menyusul di belakangnya dengan jus tomat dan teh hijau pesanan meja yang sama.

Fishbone di hari libur, hari sibuk untuk semua staff-nya. Entah kenapa resto ini jadi tujuan favorit hampir semua orang. Sepertinya harga yang lumayan menguras kantong tidak menjadi masalah. Yah, setidaknya ini menjadi alasan senyum lebar di wajah Rosalin yang tidak luntur sejak jam 9 pagi tadi. Sama seperti Dewi yang sudah mulai capek tapi belum memiliki kesempatan untuk istirahat. Semua orang tidak bisa istirahat. Begitu satu meja kosong, langsung terisi oleh pengunjung baru. Dewi melirik jam tangannya yang sudah ganti baterai. Jam 1 siang. Berarti dia sudah wara-wiri selama 4 jam. Hebat, untung saja nggak pingsan. Tapi kakinya mulai pegal. Dia bertanya-tanya apa Rosalin nggak merasa lelah seperti dirinya kalau terus bekerja selama 4 jam? Tapi mungkin nggak, mengingat manajer-nya itu hanya duduk sepanjang waktu di ruangannya yang sejuk dengan berbagai gadget yang terus terkoneksi dengan klien dan bukan di dapur bergelut dengan bau amis sea food.

Seruan staff dapur yang menyatu dengan riuh pengunjung dan denting alat makan lama kelamaan membuat Dewi pusing. Dia mendorong troley yang penuh peralatan makan kotor ke dapur.
"Pak, saya minta ijin istirahat bentar ya." katanya pada Rafi, lelaki perusia 45 tahun yang menjadi supervisor bagian dapur.
"Kamu sakit Dew?" tanya Rafi.
"Nggak pak. Cuma capek. Dan lagi, ini sudah lewat jam makan siang. Apa nggak sebaiknya sebagian dari kami istirahat?" usul Dewi. Rafi melihat ke ruang restaurant. Para waiters masih sibuk melayani para pengunjung yang seolah tidak habis dengan wajah seramah mungkin. Tapi siapa pun tahu kalau mereka sudah kelelahan.
"Oke, kamu istirahat dulu. Saya akan minta sebagian untuk makan siang juga." jawab Rafi.
Dewi mengucapkan terima kasih dengan wajah lega sebelum melepas sepatunya dan berjalan ke ruang ganti untuk istirahat. Tiba-tiba Ragil, salah seorang staff dapur memanggilnya.
"Ya?" jawab Dewi.
"Gua tadi bikin udang saus Inggris kebanyakan. Daripada ketahuan Pak Braham trus dimarahin, nih lo makan deh."
"Wah, makasih ya." kata Dewi sambil menerima lunch box yang diberikan Ragil.
Sambil  menikmati udang, Dewi membuka handphone yang sejak tadi nggak disentuhnya. Hm, tumben dia belum sms? Batin Dewi.Sejak kejadian di mobil itu, Dewi memang agak menjaga jarak dengan Dhani. Ia ingin pacarnya itu mengerti bahwa hal-hal intimate bukanlah yang ia kejar dari hubungan mereka. Tapi…. Apa ya? Dewi tercenung. Garpunya berhenti di udara. Ya, apa yang ia cari dari sosok Dhani? Apakah Dhani sudah memenuhi kriteria suami idamannya? Mengapa ia menerima Dhani sebagai pacar? Bukankah yang ia cari seharusnya pendamping hidup di usianya yang sekarang?

“Hei, ngelamun aja?” Risa menepuk pundaknya pelan. Dewi hanya tersenyum kecil. “Dhani jarang ke sini Dew?”
“Katanya lagi banyak tugas. Maklumlah, udah mau skripsi.” Risa tertawa mendengar jawaban Dewi.
“Aku juga pernah kuliah Dew, ya meskipun nggak sampe jadi sarjana. Tapi sesibuk-sibuknya orang, apalagi mau skripsi. Dia pasti nyempetin lah kalo buat pacar. Kamu yakin dia nggak punya cewek lain?”
“Apa sih?” sahut Dewi.
“Ih, serius ini. Biasanya cowok kalo udah mulai jarang hubungi kita atau datengin kita. Itu artinya dia bosen atau yang lebih parah, punya cewek lain.” Ucap Risa dengan wajah serius lalu sibuk dengan makan siangnya. Sementara Dewi tercenung. Apa iya? Ah, tapi Dhani bukan tipe laki-laki seperti itu. Atau mungkin hanya setahu Dewi ia tidak seperti itu. Kalau mereka lagi nggak berdua kan siapa yang tahu?
***
Nanti aku ke Fish Bone jam 1.

Itu saja yang dikatakan Dhani dalam SMS yang diterima Dewi pagi itu. Setelah menghilang tanpa kabar selama dua minggu –sampai Dewi hampir lupa kalau ia punya pacar- akhirnya Dhani muncul kembali. Lewat SMS. Dewi tersenyum kecut. Yah, setidaknya dia masih ingat dengan pacarnya.
Hari ini Risa nggak masuk. Dia harus mengunjungi Mamanya di Blitar. Dewi jadi agak kesepian, karena dari semua waitress di Fish Bone, dia paling akrab dengan Risa. Huh, kali lain aku akan coba ngobrol dengan yang lain. Batin Dewi bersamaan dengan denting bel pintu restaurant. Seorang perempuan muda berusia awal 20-an melangkah masuk. Dewi menebak dia pasti seorang pengeemar drama Korea. Dari mulai baju, sepatu, tas, bahkan ekspresi wajahnya saat mencari meja sangat negeri ginseng. Dewi lalu mendatangi perempuan itu dengan membawa daftar menu saat si perempuan ‘Korea’ itu menempati meja di dekat kasir.
“Selamat siang. Selamat datang di Fish Bone. Mau pesan apa mbak?” kata Dewi dengan ramah. Perempuan itu menerima buku menu yang ia sodorkan sambil tersenyum.
“Ehm… saya baru kali ini ke sini mbak. Yang special apa ya?” Tanya perempuan ‘Korea’ itu.
“ Oh, banyak mbak.”
“Jangan panggil mbak lah.” Sahut perempuan itu. “panggil aja Rika.”
“Baik mbak. Eh, maksud saya Rika.” Mereka berdua tertawa kecil, lalu Dewi melanjutkan, “kita ada Dori steak with oriental sauce. Trus juga ada Grilled Lobster with Brown Sauce and Potato. Nah, yang ini baru dari kami mbak, eh, Rik, Traditional Bandeng Steak.” Tutup Dewi.
“Wah, mbak cocok lho jadi marketing. Kenapa justru jadi waitress?” komentar Rika. Dewi tertawa kecil.
“Takdir kali ya, Rik. Jadi mau pesan yang mana?”
Rika mebolak-balik buku menu di tangannya. “Sebenernya saya nggak terlalu laper. Tapi Dori Steak ini kayaknya enak. Saya pesen ya. Sama lemon squash nggak pake gula.” Katanya.
“Baik. Silahkan ditunggu. Nanti kalau perlu bantuan bisa dengan saya, Dewi. Atau rekan yang lain.”
Dewi menggantungkan menu di counter lalu membunyikan bel bersamaan dengan bel pintu berbunyi pelan. Ah, tumben hari ini rame? Dewi tersenyum kecil dan bersiap menyambut tamu selanjutnya. Senyumnya makin lebar saat ia mengetahui siapa si tamu. Dhani. Laki-laki yang sulit dihubunginya dan membuatnya khawatir akhir-akhir ini.
“Dhani…” Dewi menghambur memeluk kekasihnya. Dhani sedikit terkejut namun balas memeluk Dewi .
“Kamu ke mana aja sih? Aku udah kirim SMS berkali-kali, telepon, WA, semua nggak dijawab.” Tanya Dewi dengan nada kesal campur rindu.
“Maaf Dew, kan aku udah bilang kalo lagi ngerjakan skripsi.” Jawab Dhani. Dewi mengernyit kecil. Ada yang aneh dengan nada bicaranya. Tapi apa ya? “oh, ya. Aku mau ngomong sesuatu. Kamu lagi sibuk?”
“Nggak terlalu. Mau ngomong apa?”
Dani tidak langsung menjawab. Ia melihat sekeliling. Lalu menarik Dewi ke balik dekorasi kaca pembatas ruang. Ia menghela napas sejenak diikuti tatap mata penasaran Dewi.
“Dew, sebelumnya aku minta maaf. Aku mengatakan ini bukan denga maksud apa-apa. Tapi ini demi kebaikan kita, terutama kamu.” Dhani berhenti lagi, “aku kayaknya… nggak bisa lanjut sama kamu.” Dewi terbelalak. Ia yakin telinganya salah dengar.
“Tolong kamu jangan marah Dew. Aku masih sayang kamu. Tapi aku nggak mau terus-terusan bikin kamu nggak nyaman…”
“Nggak nyaman?” putus Dewi. “kapan aku nggak nyaman sama kamu?”
“Aku… itu… hh…, kamu memang nggak bilang kalo nggak nyaman sama aku. Tapi dari gerak-gerik kamu selama kita jalan. Kayaknya kamu menjaga jarak sama aku.” Dewi mengernyitkan keningnya lagi. Kali ini lebih dalam. Apa itu salah?
“Aku ngerti kita maasih pacaran. Tapi gimana aku bisa tau kamu kalo kamu jaga jarak? Jadi maaf Dew, mungkin kita sampe di sini aja. Lagipula aku sekarang menghadapi skripsi. Aku nggak mau ngecewain Papa. Jadi, aku butuh waktu buat sendiri dan konsentrasi sama pendidikanku.” Jelas dhani panjang. “Tolong kamu ngerti.”
“Bukan karena kamu udah punya pacar baru kan?” Tanya dewi penuh selidik.
Dhani tertawa kecil. Dewi baru menyadari kalau kekasihnya yang akan segera menjadi mantan ini lebih tampan kalau tertawa. “Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu? Aku murni melakukan ini buat kita. Biar kamu lebih konsentrasi kerja. Dan aku konsentrasi ke pendidikan. Itu aja. Kan aku udah bilang kalau mau sendiri dulu.” Jawabnya.
Dewi tercenung. Ia nggak terima ini. Jujur, dalam hati kecilnya meskipun selama ini ia seperti yang dituduhkan Dhani, menjaga jarak, tapi bukan berarti ia nggak sayang dengan Dhani. Ia menyayangi Dhani dengan caranya sendiri. Tapi mungkin ia juga salah. Yang dibutuhkan Dhani bukan sekedar kalimat atau text berisi kata sayang, ia butuh tindakan nyata. Ekspresi cinta yang terlihat. dan inilah yang harus terjadi. Dhani memilih mengakhiri hubungan mereka setelah menghilang. Hanya karena Dewi yang terlalu pasif. Egois sekali. Pikirnya.
“Kamu jangan diem aja Dew.” Kata Dhani. Gesture-nya terlihat gelisah.
“Apa kita nggak bisa perbaiki Dhan? Aku nggak pengen putus dari kamu.” Kata Dewi.
Dhani menggeleng. “Maaf Dew. Aku juga berat melakukan ini. Tapi, hubungan kita udah mentok.”
Dewi menghela napas dengan berat. Yah, sabar aja lah. Toh, kami masih bisa berteman.
“Ya udah kalo itu mau kamu.” Dhani tersenyum lebar. Entah kenapa Dewi merasa kalau Dhani benar-benar ingin mereka putus.
“Makasih Dew. Kita masih bisa berteman kok.” Dhani menggenggam tangannya.
“ Ya….” Jawab Dewi malas. Ia tidak berminat membalas genggaman Dhani. Ya sudah, sampai di sini saja ia dan Dhani. Tapi Dewi ragu ia bisa kuat menerima kenyataan kalau ia dan Dhani hanya berteman mulai sekarang. Bagaimana pun, suatu saat Dhani akan mengambil alih Fishbone dan itu semakin memperbesar kesempatan mereka bertemu. Ya Allah, kenapa Anda begitu jahat pada saya?

Dewi masih tercenung sejenak sementara Dhani telah beranjak dari sampingnya. Ia sudah menyiapkan diri jika hal seperti ini terjadi. Tapi ternyata persiapan dan kenyataan itu dua hal yang sangat berbeda.

Ada sesuatu yang besar dan menggumpal mendesak untuk keluar dari dalam jantungnya. Dewi ingin mengeluarkan gumpalan itu, tapi yang ada malah tetesan air dari kedua sudut matanya. Ia mengusapnya lalu menarik napas beberapa kali. It's ok. Semuanya bakal baik-baik saja. 

"BABY...!!! Kamu di sini? Ya ampun, seneng banget aku ketemu kamu...." Suara nyaring Rika terdengar terkejut namun senang saat melihat seseorang.
"Ka... Kamu ngapain di sini?"
"Ya makan lah. Aku mau minta anter kamu jalan-jalan, tapi kamu selalu alesan nggak bisa. Jadi ya aku pergi sendiri. Eh, mbak Dewi. Sini mbak." Rika menarik tangan Dewi. "kenalin, ini pacar aku, Dhani. Kita baru jadian lhoh."
Raut bersalah campur tertangkap basah tampak jelas di wajah Dhani, sementara Dewi menatap tajam tepat ke matanya.
"Sendiri dulu, huh?!" gumamnya tajam.

To Be Continued.....................

Sabtu, 28 Juli 2012

Angel (Bab I part 2)

Sambungannya Angel (happy reading)




Jeep itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat coklat. Dewi menoleh ke arah pemuda yang tadi menjemputnya.

"Makasih ya Dhan, udah jemput." kata Dewi.
"Biasa lah. Kayak aku ini siapa kamu aja."
"Mau mampir?"
"Nggak usah. Udah malem ini. Kamu nanti langsung istirahat ya."
"Oh.. ya udah, aku masuk dulu ya."
"Eh, tunggu Wi." Dhani menahan Dewi yang akan membuka pintu mobil dan menoleh ke arah Dhani.
"Kenapa Dhan?" tanya Dewi.

Dhani tidak menjawab. Ia memegang erat kedua tangan Dewi dan perlahan mendekatkan wajahnya. Nafas Dewi tertahan tidak siap.

"Ya ampun, udah jam 10. Kamu harus pulang, nanti Mama nyariin. Sekali lagi makasih udah dianter ya, Dhan." Dewi menarik tangannya dan terburu keluar dari jeep Dhani.
"Nanti aku telepon." kata Dhani singkat sebelum menyalakan mesin mobilnya. Dewi mengangguk sambil tersenyum.
"Hati-hati ya." katanya sebelum Dhani benar-benar pergi.

Dewi menghembuskan nafas. Maaf ya, Dhan. Gumamnya dalam hati lalu membuka pagar rumah. Sudah 8 bulan mereka jalan. Kadang-kadang Dewi masih belum percaya ia dan Dhani pacaran. Ia seorang waitress di Fishbone, sedangkan Dhani, mahasiswa tingkat akhir sebuah universitas di Malang yang kebetulan adalah putera tunggal pemilik jaringan resto tempatnya bekerja. Ia sempat bertanya-tanya apakah Tuhan nggak salah membuat Dhani menembaknya tepat awal tahun ini? Dewi jadi merasa seperti cinderella abad 21 dengan cerita yang absurd. Se-absurd perkenalannya dengan Dhani.

Ia ingat bagaimana dulu mengira Dhani sebagai karyawan baru ketika dia kali pertama datang ke perayaan 5 tahun Fishbone cabang Kediri. Itu gara-gara informasi teman seprofesi-nya, Lana, yang mengatakan kalau mereka akan kedatangan trainee baru untuk menggantikan Siska yang mengundurkan diri. Ditambah lagi, Rosalin, manajer Fishbone yang kebetulan akrab dengan Dewi memintanya untuk men-training si anak baru. Singkat cerita, nggak salah kalo informasi absurd dari rekan-rekannya itu membawa Dewi ke perkenalan yang absurd juga dengan Dhani. Entah kenapa ia suka tersenyum dan malu sendiri mengenangnya.

Tapi, se-absurd perkenalan mereka, hubungan yang baru jalan 8 bulan ini pun dirasa nggak jelas oleh Dewi. Entah kenapa, ada sebagian kecil hatinya yang merasa kalo dia nggak seharusnya buat Dhani. Itu sebabnya gaya pacaran mereka terkesan seperti main-main dan nggak romantis menurut adiknya. Sampai saat ini, bisa dihitung dengan jari durasi kencan mereka. Paling cuma ke coffee shop langganan Dhani di Kediri Mall, itu pun nggak sampe berjam-jam karena Dewi selalu beralasan harus datang on time ke Fishbone atau belanja sesuatu untuk ibunya.

Perasaan itu juga dirasakan Dewi saat Dhani mengantarnya tadi. 8 bulan, dan mereka at least, belum pernah kissing. Dewi tau Dhani sangat menginginkan itu. Tapi itu tadi, sebagian kecil hatinya yang selalu kontra dengan Dhani menolaknya. Tapi yang bisa dilakukan Dewi hanya menggumamkan maaf saat Dhani sudah nggak ada di depannya.

"Gagal lagi?" celetuk Diana, adiknya, saat Dewi memasuki ruang tamu. Di tangannya ada novel Breaking Dawn yang terbuka.
"Belum tidur kamu?" tanya Dewi.
"Besok hari sabtu, kakakku sayang. So, hari ini gagal lagi?"
"Oh iya. Kuliah kamu libur sabtu sama minggu ya.." kata Dewi.
"Jawab pertanyaanku dong..." kata Diana jengkel.
"Sejujurnya aku nggak ngerti kamu nanya apa." kata Dewi datar. Diana berdecak sebal. Kakaknya ini bego atau lemot sih?
"Kamu, sama Dhani, 8 bulan. Dan nggak ada perkembangan apa-apa." Dewi belum bereaksi atas penjelasan Diana yang mirip men-dikte soal matematika. "your first kiss." kata Diana lugas.
"Ah... itu. Penting banget ya?"
"Ya iyalah, mbak. Kamu sama Dhani tu nggak kayak orang pacaran. Aku memang nggak sama kalian kalo lagi nge-date, tapi aku tau kalo kamu masih jaga jarak sama Dhani. Iya kan?"
"Hmmhh... gimana ya, Di? Anggap aja aku belum siap buat itu."
"Hah?! Alesan kamu absurd banget tau, mbak. Mana ada orang belum siap buat hal-hal yang lebih, just say, intimate padahal udah pacaran. Gimana kalo nanti kamu married? Mau nunggu sampe kamu siap juga buat ML?"
"Hush! Ngomongmu itu, lho." sahut Dewi.
"Kita udah gedhe mbak. Nggak usah ngerasa tabu buat ngomongin hal-hal kayak gini lah."
"Terserah anggapan kamu kayak apa. Tapi aku akan ngelakuin itu kalo aku udah siap. Aku nggak tau gimana perasaan Dhani, tapi aku harap dia paham." pungkas Dewi sebelum berlalu ke kamarnya.
Diana menghela napas lalu kembali menekuni kisah cinta Edward-Bella yang sejenak ia tinggalkan.

(to be continued...)

Rabu, 29 Juni 2011

Angel

I

Dewi memandang keluar jendela yang berembun karena hujan. Senyum kecil terkembang di bibirnya. Ia suka hujan. Mulai dari yang hanya rintik-rintik, sampai yang sangat deras. Tapi yang paling ia suka adalah aroma tanah basah setelah tersiram air hujan.

"Dewi." Panggil sebuah suara yang membuatnya menoleh. "pesanan meja nomer 9." Sambung suara tadi. Dewi mengangguk dan segera mengambil nampan yang sudah terisi tiga gelas juice alpukat. Sementara Aldi, staff dapur yang memanggilnya tadi, menyiapkan nampan lain berisi dua porsi salmon lada hitam dan satu porsi salad tuna yang segera diambil Risa.

"Silahkan. Selamat menikmati." Kata Dewi setelah menghidangkan tiga gelas juice alpukat di meja nomor 9. Tak lupa ia memberikan senyum termanis untuk pelanggan yang terlihat lelah yang menempati meja itu. Risa, temannya sesama waitress, menyusul di belakangnya dan menghidangkan tiga porsi makanan berbahan ikan yang dibawanya. Pelanggan meja nomor 9 mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua dan segera menyantap hidangan yang mereka pesan.

"Shift kamu bentar lagi abis kok Dew, tenang aja." Kata Risa saat melihat Dewi melihat jam tangan mungil yang melingkar di lengan kirinya. Dewi menoleh kepada Risa lalu tersenyum.

"Aku nggak nungguin shift abis kok Ris. Jamku mati, makanya dari tadi kok waktunya lambat banget." Jelas Dewi sambil mengacungkan lengan kirinya.

Risa tertawa geli. Tidak menyangka alasan Dewi sesederhana itu. Dewi dan Risa adalah dua diantara dua puluh pelayan, satu chef kepala, empat chef dan dua petugas kasir di Fishbone. Rumah makan yang terletak di pusat kota Kediri. Sejak berdiri dua tahun yang lalu, tempat ini sudah menarik perhatian masyarakat. Mulai dari desain tempatnya yang unik sampai masakannya yang semua berbahan dasar ikan atau hasil laut lainnya. Dan siang ini juga siang-siang sebelumnya, Fishbone ramai oleh para pengunjung yang kebanyakan adalah karyawan perusahaan atau mahasiswa berdaya beli tinggi.

Dewi sendiri baru satu tahun bekerja sebagai waitress di Fish Bone. Posturnya yang bertinggi 155 cm memang kalah tinggi dengan Risa yang 165 cm. Meskipun dibantu sepatu hak tinggi. Tapi wajahnya yang selalu cerah menyambut para tamu yang datang ke Fishbone, lebih akrab daripada siapa pun. Menurut Risa, faktor itulah yang membuat orang-orang selalu kembali ke rumah makan ini, selain masakan lezat hasil racikan Pak Braham, Head Chef  Fishbone. Setiap hari, senyum tulus hampir tidak pernah hilang dari wajah Dewi, seakan-akan ia tidak pernah memiliki masalah dalam hidupnya. Wulan yang berjaga di kasir pun heran, dan pernah iseng bertanya, bagaimana membuat Dewi cemberut? Tapi Dewi justru menanggapinya dengan tawa.

"Dew, bantu Bagas antar pesanan ke meja nomer 3 ya." Kata Aldi ketika Dewi sampai di konter penyajian. Sebuah troley sudah terisi dengan berbagai hidangan dalam porsi besar.

"Ok bos. Wah... pesennya banyak amat. Siapa nih?"

"Biasa. Kelompok eksmud mampir." Sahut Bagas.

"Cowok semua lho Dew, ati-ati ye.." Canda Aldi yang diiringi tawa Bagas. Dewi hanya tersenyum lalu mengikuti Bagas yang mendorong troley perlahan.

Meja nomor 3 memang diperuntukkan bagi pelanggan yang ingin mengadakan jamuan besar. Biasanya yang mem-booking adalah para bos yang ingin mengadakan rapat dalam suasana yang santai dan privat karena letaknya juga agak terpisah dari meja-meja lain. Meja ini terletak di ruangan yang dibatasi dinding kaca dengan hiasan ornamen dari kaca patri warna-warni. Dewi agak terkejut ketika sampai di meja yang dituju, hanya ada empat orang pria di sana. Sangat sedikit jika melihat jumlah makanan yang dipesan yang seharusnya untuk delapan orang.

"Akhirnya makanan datang..." Kata salah seorang di antara empat pria tadi. Badanya tinggi besar dan berkacamata

"Wah, kita udah kelaperan nih mbak Dewi." Sahut yang lain.

"Lho, elu kenal sama mbaknya Jo?" Tanya pria ketiga yang berwajah oriental keheranan.

"Enggak sih. Tapi kan ada namanya." Pria yang dipanggil Jo tadi menunjuk name tag berhias tulang ikan berbentuk huruf 'O' yang menjadi simbol Fishbone yang tersemat di dada kiri Dewi.

"Jiah... kirain kenal..." Si pria pertama menoyor kepala Jo yang justru tertawa.

"Mbak Dewi udah punya pacar belom?" Tanya si pria oriental yang disusul ledekan dari teman-temannya.

"Memangnya kenapa mas?" Dewi balik bertanya sambil meletakkan setiap hidangan di meja.

"Nggak. Tuh, teman saya yang di ujung baru putus, kali aja mbak minat." Pria keempat yang sedari tadi hanya diam melirik kesal ke arah teman-teman yang menertawakannya. mereka pikir putus itu peristiwa paling lucu dalam sejarah. Dewi melihat ke arah pria itu, wajahnya putih dan cerah serta berpostur tegap. Fisik yang sempurna dan pasti hidupnya mapan. Aneh jika pria seperti ini mengalami putus cinta. Gumam Dewi dalam hati.

"Wah, sayangnya saya udah punya pacar." Jawab Dewi yang disambut 'yaahh....!!' oleh ketiga pria, kecuali pria keempat yang sepertinya tidak peduli dunia ini mau jadi apa. "tapi temen saya ini masih jomblo lho." Dewi menepuk pundak Bagas yang segera disambut tawa oleh ketiganya, sementara Bagas tidak terima dengan kata-kata Dewi.

"Emangnya aku udah nggak doyan cewek?!" Tanya Bagas sewot. Dewi hanya tertawa geli menanggapi. Ia kemudian mempersilahkan tamu-tamunya untuk bersantap siang sebelum kembali ke dapur bersama Bagas. Saat melewati meja kasir, Dewi berhenti sejenak. Seorang pria berpenampilan casual -mungkin mahasiswa- yang baru melewati pintu masuk melambaikan tangan ke arahnya, Dewi balas melambaikan tangan dan memberi tanda agar pria itu menunggu.

"Deuh.. udah dijemput." Celetuk Wulan. Dewi menoleh dan tersenyum ke arah temannya itu.

"Aku duluan ya.." Katanya.

to be continued....