Tampilkan postingan dengan label Cerita Iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Iseng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 September 2013

Catatan Katak

Tidak ada yang tahu siapa saya. Seperti apa saya hidup. Dan bagaimana saya bersikap.
Sejak dulu saya seperti dilatih untuk curiga pada apa yang saya temui. Tujuannya mungkin biar saya waspada. Tapi itu berlanjut menjadi paranoid berkepanjangan yang akhirnya membuat saya terisolasi dari dunia. Saya menjadi terbiasa untuk menunduk, memalingkan wajah, atau memicingkan mata ketika berhadapan dengan dunia. Tidak (atau belum) ada yang berhasil meyakinkan saya bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak perlu dicurigai.

Ada banyak orang yang seperti saya, tapi hanya saya yang belum bisa keluar menyapa dan menyalami dunia seperti kawan lama. Hanya saya yang masih membawa tempurung untuk melindungi diri. Hanya saya yang lebih memilih untuk tinggal di rumah pada saat semua orang bersenang-senang. Hanya saya yang masih mencari celah untuk lari tapi tidak pernah menemukan.

Dulu saya merasa nyaman menjadi makhluk dalam tempurung. Tapi sekarang, saya seperti narapidana yang harus menunggu antrian untuk sidang padahal tidak pernah berbuat salah. Menjadi makhluk dalam tempurung bukan keinginan saya. Menjadi seseorang yang menutup diri dari dunia tidak pernah ada dalam daftar keinginan hidup saya. Tapi melepaskan tempurung begitu saja, belum rela saya lakukan.

Rabu, 26 Desember 2012

Idola (Tidak) Sama Dengan Dewa

Ada satu fenomena menarik yang akhir-akhir ini saya bahas bareng seorang teman kantor. Tentang groupies atau fanatis mungkin lebih tepatnya. Mereka ini adalah fans yang bisa dibilang gila-gilaan lah mendukung idolanya. Mohon dikoreksi kalo istilah saya salah ya. Apalagi dengan mudahnya teknologi seperti sekarang, sangat gampang bagi seorang idola menggalang dukungan dan memperoleh fans sebanyak-banyaknya. Pun untuk para fans, gampang banget buat mereka berinteraksi dengan idolanya meskipun cuma di dunia maya.

Tapi seiring berjalannya waktu, lama kelamaan saya jadi mendapati ada semacam bullying antar fans -jiah... bahasa saya kayak editor tabloid aja... hahaha...- Yang paling gampang diinget aja, pas Selena Gomez pacaran sama Justin Bieber , para beliebers langsung mention ke akun twitter Selena Gomez pake ancaman yang nggak cuma ekstrim, tapi triple ekstrim. Pake mau ngebunuh segala. Udah gitu yang kena ancem bukan cuma idolanya, tapi juga fans-nya. Pernah denger cerita dari temen juga kalo dia pernah in touch sama seorang K-Pop Lovers. Temen saya nih kebetulan seorang Japanesia. Orang Indonesia yang suka segala hal tentang Jepang. Nah, si K-Pop Lovers ini suka nggak terima tuh waktu temen saya membahas kekurangan para Idol K-Pop. Dia ngebelain orang-orang negeri ginseng yang belum tentu kenal sama dia ini sengotot-ngototnya bahkan kalo perlu sampe mati kali. Hahaha... Miris banget denger ceritanya. Belum lagi kalo suka baca berita para seleb di internet -ampun dah...!!!- yang melibatkan para fans di garda depan sebagai Pasukan Pembela Idolanya, kadang suka ketawa sendiri. Bukan berarti saya nggak menghargai idola setiap orang. Saya sendiri juga punya idola. Mungkin sama dengan idola kamu, tapi saya nggak akan -dan mudah-mudahan nggak akan pernah- se-brutal para groupies yang ngebelain idolanya mati-matian. Mulai dari nyerang orang lain yang mengritik idolanya, bullying via twitter, sampe curhat di-wall facebook dan yang lebih parah adalah memuja idolanya setinggi langit. Padahal belum tentu mereka ngebelain ibunya sendiri se-ekstrim itu

It's ok kalo kamu mau appreciate prestasi idola kamu, tapi nggak usah langsung menghujat haters ketika mereka menghina idola kamu. Bukannya itu malah nunjukin kalo kamu bukan fans yang qualified untuk mengidolakan sosok yang WOW? Rasanya saya pengen gitu ngomong ke fans yang lebay ini, cobalah lihat gimana idola kamu menghadapi haters. Kalo dia menanggapi komen para haters dengan cara elegant, ya kamu harus menirunya juga. Tapi kalo idola kamu menanggapi para haters dengan brutal dan kamu menirunya, berarti kamu salah memilih idola. Hahaha... -maksa sekali- Dan satu lagi. Idola juga manusia. Jadi ketika mereka tersandung masalah dan jadi bulan-bulanan media, kita dukung seperlunya aja. Cukup support moril tanpa mengabaikan kekurangan dia. Jangan tutup mata karena itu sama saja kita mendewakan mereka.

At least, silahkan jika kamu mau mendukung idolamu dalam karyanya dan menguatkan mereka dalam musibahnya. Tapi be elegant, itu yang menunjukkan kalau kita adalah fans yang cerdas. Banggakan kelebihannya, dan terima kekurangannya. Maka para haters pun akan menghargai idola kamu dan para fans-nya.

Selasa, 24 April 2012

STORY FROM

Orang ketiga
Kimi menatap ponsel di tangannya kesal. Dari tadi ditelepon nggak bisa-bisa! Pasti sama cewek itu lagi deh. Gerutunya dalam hati.
“Abdi nggak bisa ditelepon lagi Kim?” Tanya Dian, teman sekantornya.
“Iya. Huh, pasti dia teleponan sama cewek itu lagi.” Sungut Kimi.
“Cewek yang mana?”
“Mantan pacarnya. Mmm… mantan pacar bukan ya?”
“Tau… lha kamu yang jadi pacarnya gimana?” Dian balik bertanya sebelum duduk di depan meja Kimi.
“Ya… Abdi bilang sih mereka udah putus. Tapi ceweknya ini nggak mau diputusin.”
“Trus si Abdi ini selingkuh sama mantan pacarnya yang nggak mau diputusin itu?”
“Nggak bisa dibilang gitu juga. Abdi selalu bilang apa pun yang dia obrolin sama cewek itu ke aku kok.”
“Kok aku nggak paham ya? Gimana sih?”

Kimi menghela napas. Apa yang dialaminya memang termasuk langka dalam sejarah hubungan asmara manusia, termasuk dirinya. Ia juga nggak nyangka bakal mengalami ini. Tadinya yang Kimi inginkan hanya punya kekasih yang sesuai keinginannya, menjalin hubungan yang baik dan menikah. Cita-cita yang sederhana. Sampai ia tahu kalau sebenarnya sang pacar masih menjalin komunikasi dengan perempuan yang pernah menjadi pacarnya. Setidaknya begitulah pengakuan Abdi. Abdi dan perempuan yang belakangan ia tahu bernama Ayu itu masih saling kontak sebagai kekasih. Itu cukup menyakitkan buat Kimi. Ia merasa dikhianati oleh orang yang ia sayangi. Tapi menurut penjelasan Abdi, ia terpaksa menuruti keinginan Ayu untuk nggak memutuskannya karena masih punya tanggungan ke Ayu.
“Jadi gitu Di, aku sama Abdi pacaran. Tapi cewek yang namanya Ayu ini juga ‘pacaran’ sama Abdi.”
“Dan kamu mau diduain gitu aja?!”
“Aku nggak diduain.”
“Haduh Kim, kamu tu stupid atau bego sih? Istilahnya apa kalo bukan diduain?! Selingkuh? Diliat dari sisi mana pun, si Abdi itu selingkuh sama Ayu. Kok ya kamu masih mau-maunya jalan sama dia?!” omel Dian.
“Selingkuh itu kalau Abdi diam-diam menjalin hubungan sama Ayu. Ini dia masih ngasi tau aku semua sms dia sama Ayu kok. Dia juga selalu bilang kalau abis ditelepon sama Ayu dan isi obrolan mereka.”
“Kimi, denger ya. Kamu itu DIDUAIN sama Abdi. Jelas?! Bisa aja kan masalah tanggungan itu Cuma alasan dia biar leluasa untuk komunikasi sama pacarnya yang lain. Trus, si Ayu ini tau kamu nggak?” Kimi diam sejenak.
“Nggak… Abdi bilang kalau Ayu tahu aku pacaran sama dia, Ayu bakal bunuh diri dan nulis surat kalau penyebab bunuh dirinya itu Abdi yang udah khianatin dia.”
“Hahahaha…” Kimi kaget ketika Dian tiba-tiba tertawa setelah mendengar penjelasannya. “emang kata ini sinetron apa?! Pake acara bunuh diri segala! Si Ayu ini lebay binti alay banget ya? Berarti Cuma satu kesimpulannya Kim. Kamu itu selingkuhan Abdi.”
“Nggak lah.” Sahut Kimi.
“Lha buktinya, kamu tau soal Ayu tapi Ayu nggak tau soal kamu. Berarti kamu yang jadi selingkuhan kan?”
“Kalo aku selingkuhan Abdi, dia nggak mungkin dong ngenalin aku keluarganya. Bahkan aku bisa sampai akrab banget sama adiknya.”
Dian terdiam. Iya juga sih. Yang namanya selingkuhan itu biasanya nggak dikenalin sama keluarga besar. Kalo ada yang masih nekad, sungguh terlalu…. –jiahhh, Rhoma Irama!-
“Trus, solusi kamu sama Abdi gimana?” Tanya Dian.
“Ya… aku pernah sih nawarin bantuan untuk menyelesaikan tanggungannya. Tapi Abdi nolak, dia ngak pengen aku ikut keseret dalam masalah dia. Jadi sementara ini aku masih biarin Abdi sama Ayu tetap komunikasi, sampai Abdi lepas tanggungannya.”
“Sampai kapan?” sahut Dian. Kimi mengangkat bahu, sementara Dian menghela napas.
“Setiap langkah yang kita ambil mengandung resiko Kim. Kalo kamu pilih diemin Abdi nyelesaiin masalah dengan caranya sendiri, kamu bakal sakit tiap hari. Nggak rela kan kalo liat cowok kita saling kirim pesan singkat romantic sama orang lain?! Tapi kalo kamu milih nyelesaiin masalah ini bareng-bareng sama Abdi, kalian bakal nyakitin orang lain dan ada kemungkinan masalah kamu tambah rumit.” Jelas Dian panjang.
Mereka berdua terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Terutama Kimi, karena ini masalahnya.
Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan dering ponsel Kimi yang nyaring.
“Halo?”
“Sayang, kamu tadi telepon ya? Maaf ya, nggak aku angkat. Tadi masih…”
“Nggak apa-apa Mas.” Potong Kimi. Senyum kecil mengembang di bibirnya. “aku ngerti.”