Tidak ada yang tahu siapa saya. Seperti apa saya hidup. Dan bagaimana saya bersikap.
Sejak dulu saya seperti dilatih untuk curiga pada apa yang saya temui. Tujuannya mungkin biar saya waspada. Tapi itu berlanjut menjadi paranoid berkepanjangan yang akhirnya membuat saya terisolasi dari dunia. Saya menjadi terbiasa untuk menunduk, memalingkan wajah, atau memicingkan mata ketika berhadapan dengan dunia. Tidak (atau belum) ada yang berhasil meyakinkan saya bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak perlu dicurigai.
Ada banyak orang yang seperti saya, tapi hanya saya yang belum bisa keluar menyapa dan menyalami dunia seperti kawan lama. Hanya saya yang masih membawa tempurung untuk melindungi diri. Hanya saya yang lebih memilih untuk tinggal di rumah pada saat semua orang bersenang-senang. Hanya saya yang masih mencari celah untuk lari tapi tidak pernah menemukan.
Dulu saya merasa nyaman menjadi makhluk dalam tempurung. Tapi sekarang, saya seperti narapidana yang harus menunggu antrian untuk sidang padahal tidak pernah berbuat salah. Menjadi makhluk dalam tempurung bukan keinginan saya. Menjadi seseorang yang menutup diri dari dunia tidak pernah ada dalam daftar keinginan hidup saya. Tapi melepaskan tempurung begitu saja, belum rela saya lakukan.
Tampilkan postingan dengan label Curahan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curahan Hati. Tampilkan semua postingan
Kamis, 26 September 2013
Jumat, 06 Juli 2012
When We Down
Lagi nyoba modem baru nih... -pamer... pamer...- hehehe... Jadi saya manfaatkan aja sekalian buat update blog saya yang hampir tak tersentuh selama bulan juni. Masalahnya nih, saya mesti berjuang ekstra buat nyambung ke jaringan internet -duh... bahasanya...- maklum lah, sinyalnya up and down, tapi lebih banyak down-nya. hehehe. Bicara soal down, saya akhir-akhir ini ngerasa down banget. Dikarenakan banyak hal. Mulai dari urusan pekerjaan sampai pribadi. Atau lebih tepatnya, yang satu kena imbas masalah yang lain. jeleknya saya, kalau udah merasa down, alias jatuh banget, kayak orang depresi -atau emang depresi kali ya?- Don't what to do, where to go, what to say, whose to tell. Serba bingung. Saya memang introvert, but I do need somebody to hugs and a shoulder to cry on. Tapi masalahnya, saya nggak bisa pilih sembarang orang. i am too picky. Susah buat saya percaya sama orang setelah mengalami masalah dengan kepercayaan. Tapi akhirnya saya menemukan itu pada tunangan saya -Love u so much, bebek.... *hugs*- I can tell him anything without afraid everybody will know it. Dia benar2 seorang good secret keeper. Saya bebas bercerita apa pun meski nggak senyaman ketika memeluk Ibu saya. Percaya deh, meskipun kita sudah menemukan seseorang untuk sharing. Entah itu sahabat, pacar, suami, istri atau boneka, tetap nggak ada yang bisa menggantikan pelukan ibu. The best solution whole the world. Saya memang bebas bercerita apa saja dan percaya sama tunangan saya. Tapi saya toh tetap 'anak' yang butuh ketek ibunya. hehehe, istilah saya kasar banget ya, kayaknya. No, I mean, we do need them. A trusty one and parents. they are the best.
Langganan:
Postingan (Atom)