Orang ketiga
Kimi menatap ponsel di tangannya kesal. Dari tadi ditelepon nggak bisa-bisa! Pasti sama cewek itu lagi deh. Gerutunya dalam hati.
“Abdi nggak bisa ditelepon lagi Kim?” Tanya Dian, teman sekantornya.
“Iya. Huh, pasti dia teleponan sama cewek itu lagi.” Sungut Kimi.
“Cewek yang mana?”
“Mantan pacarnya. Mmm… mantan pacar bukan ya?”
“Tau… lha kamu yang jadi pacarnya gimana?” Dian balik bertanya sebelum duduk di depan meja Kimi.
“Ya… Abdi bilang sih mereka udah putus. Tapi ceweknya ini nggak mau diputusin.”
“Trus si Abdi ini selingkuh sama mantan pacarnya yang nggak mau diputusin itu?”
“Nggak bisa dibilang gitu juga. Abdi selalu bilang apa pun yang dia obrolin sama cewek itu ke aku kok.”
“Kok aku nggak paham ya? Gimana sih?”
Kimi menghela napas. Apa yang dialaminya memang termasuk langka dalam sejarah hubungan asmara manusia, termasuk dirinya. Ia juga nggak nyangka bakal mengalami ini. Tadinya yang Kimi inginkan hanya punya kekasih yang sesuai keinginannya, menjalin hubungan yang baik dan menikah. Cita-cita yang sederhana. Sampai ia tahu kalau sebenarnya sang pacar masih menjalin komunikasi dengan perempuan yang pernah menjadi pacarnya. Setidaknya begitulah pengakuan Abdi. Abdi dan perempuan yang belakangan ia tahu bernama Ayu itu masih saling kontak sebagai kekasih. Itu cukup menyakitkan buat Kimi. Ia merasa dikhianati oleh orang yang ia sayangi.
Tapi menurut penjelasan Abdi, ia terpaksa menuruti keinginan Ayu untuk nggak memutuskannya karena masih punya tanggungan ke Ayu.
“Jadi gitu Di, aku sama Abdi pacaran. Tapi cewek yang namanya Ayu ini juga ‘pacaran’ sama Abdi.”
“Dan kamu mau diduain gitu aja?!”
“Aku nggak diduain.”
“Haduh Kim, kamu tu stupid atau bego sih? Istilahnya apa kalo bukan diduain?! Selingkuh? Diliat dari sisi mana pun, si Abdi itu selingkuh sama Ayu. Kok ya kamu masih mau-maunya jalan sama dia?!” omel Dian.
“Selingkuh itu kalau Abdi diam-diam menjalin hubungan sama Ayu. Ini dia masih ngasi tau aku semua sms dia sama Ayu kok. Dia juga selalu bilang kalau abis ditelepon sama Ayu dan isi obrolan mereka.”
“Kimi, denger ya. Kamu itu DIDUAIN sama Abdi. Jelas?! Bisa aja kan masalah tanggungan itu Cuma alasan dia biar leluasa untuk komunikasi sama pacarnya yang lain. Trus, si Ayu ini tau kamu nggak?”
Kimi diam sejenak.
“Nggak… Abdi bilang kalau Ayu tahu aku pacaran sama dia, Ayu bakal bunuh diri dan nulis surat kalau penyebab bunuh dirinya itu Abdi yang udah khianatin dia.”
“Hahahaha…” Kimi kaget ketika Dian tiba-tiba tertawa setelah mendengar penjelasannya. “emang kata ini sinetron apa?! Pake acara bunuh diri segala! Si Ayu ini lebay binti alay banget ya? Berarti Cuma satu kesimpulannya Kim. Kamu itu selingkuhan Abdi.”
“Nggak lah.” Sahut Kimi.
“Lha buktinya, kamu tau soal Ayu tapi Ayu nggak tau soal kamu. Berarti kamu yang jadi selingkuhan kan?”
“Kalo aku selingkuhan Abdi, dia nggak mungkin dong ngenalin aku keluarganya. Bahkan aku bisa sampai akrab banget sama adiknya.”
Dian terdiam. Iya juga sih. Yang namanya selingkuhan itu biasanya nggak dikenalin sama keluarga besar. Kalo ada yang masih nekad, sungguh terlalu…. –jiahhh, Rhoma Irama!-
“Trus, solusi kamu sama Abdi gimana?” Tanya Dian.
“Ya… aku pernah sih nawarin bantuan untuk menyelesaikan tanggungannya. Tapi Abdi nolak, dia ngak pengen aku ikut keseret dalam masalah dia. Jadi sementara ini aku masih biarin Abdi sama Ayu tetap komunikasi, sampai Abdi lepas tanggungannya.”
“Sampai kapan?” sahut Dian.
Kimi mengangkat bahu, sementara Dian menghela napas.
“Setiap langkah yang kita ambil mengandung resiko Kim. Kalo kamu pilih diemin Abdi nyelesaiin masalah dengan caranya sendiri, kamu bakal sakit tiap hari. Nggak rela kan kalo liat cowok kita saling kirim pesan singkat romantic sama orang lain?! Tapi kalo kamu milih nyelesaiin masalah ini bareng-bareng sama Abdi, kalian bakal nyakitin orang lain dan ada kemungkinan masalah kamu tambah rumit.” Jelas Dian panjang.
Mereka berdua terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Terutama Kimi, karena ini masalahnya.
Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan dering ponsel Kimi yang nyaring.
“Halo?”
“Sayang, kamu tadi telepon ya? Maaf ya, nggak aku angkat. Tadi masih…”
“Nggak apa-apa Mas.” Potong Kimi. Senyum kecil mengembang di bibirnya. “aku ngerti.”
Selasa, 24 April 2012
Jumat, 02 Maret 2012
Hari ini
Saya agak terkejut ketika melihat pengikut blog saya ada 4 orang. Well, bagaimana pun terima kasih. Pada dasarnya saya bukan orang yang harus setiap detik update di status jejaring sosial. Tapi untuk blog kan tidak harus setiap detik ya. Beberapa hari sekali atau bahkan beberapa bulan sekali juga nggak ada yang melarang. Tadinya saya berencana membuat akun baru di blogdetik.com bahkan sudah membuat akunnya. Tapi, saya pikir-pikir lagi, sepertinya saya akan kembali pada blog ini deh. Dan untuk yang di blogdetik itu, saya nggak tau bagaimana menutupnya. hehehehe
Minggu, 08 Januari 2012
Our Promises
It's not about confusion
It's just reminding about our old deal
We promised to stay together
Eat the same menu
Drink the same water
Breathe with the same air
Hand in hand when walking
Running on the same speed
Crying
Laughing
Honest each other
Complete each other
If I can write all of our deal, I will
But I prefer to keep it in my mind and my heart
Keep what we've made in other way
It's just reminding about our old deal
We promised to stay together
Eat the same menu
Drink the same water
Breathe with the same air
Hand in hand when walking
Running on the same speed
Crying
Laughing
Honest each other
Complete each other
If I can write all of our deal, I will
But I prefer to keep it in my mind and my heart
Keep what we've made in other way
Jumat, 25 November 2011
Story from...
FACEBOOK
Alvin menoleh ke meja kerja di sampingnya. Tumben amat si Sari betah di depan komputer. Biasanya kalo udah mendekati jam 12 siang gini udah burur-buru ke kantin buat istirahat.
"Sar." panggil Alvin.
"Heh, apa Vin?" jawab Sari.
"Tumben lo nggak buru-buru nyambangi kantin?"
"Hehehe. Lagi asik. nanti aja. Lagian bakso kikilnya nggak abis cuma dimakan bu kantin seorang."
"Ngapain lo? Liat situs bokep ya?"
"Sembarangan!" Sari menoyor kepala Alvin yang mencoba mengintip komputernya. "emang elu?! hobinya buka situs gituan! Gua cuma buka facebook nih...." katanya emosi.
"Tumben amat... kayak abg."
"Emang facebook identik sama abg, gitu?"
"Ya abis, yang getol on line kan cuma abg."
"Elu juga rajin on line."
"Beda Sar, gua kan on line karena rata-rata terima job dari situ. Gua kan memasarkan kaos rancangan gua sendiri lewat facebook. Yah, sesekali main game online sih... hehehe."
"Heleh, kadang-kadang juga lo nulis status alay nggak jelas gitu..."
"Itu gara-gara akun FB gua dibajak. Emang ada apa sih di FB lo? sampe betah nggak turun ke kantin."
Sari kembali menghadap layar komputernya.
"Nggak ada. Cuman baca status temen-temen gua yang ..."
"Alay?"
"Lo baca sendiri deh."
Alvin menarik kursinya dekat Sari.
"Gila... temen-temen lo namanya ajaib-ajaib gini ya? Adek ChayanxBuangetts SamaAbang. hahaha... nama apaan nih?! Panda Lophes Kitty. Ini nama asli ya?"
"Ya bukan. Fotonya juga bukan foto asli. Ada sih yang kayaknya pake foto sendiri. Tapi pose-nya manyun semua."
"Eh, ini yang dipake status bukannya lagu melayu yang lagi banyak di-airplay di radio itu ya?"
"Nggak semua radio lah. Di radio kita, ini lagu di-blacklist." sanggah Sari.
"Trus, ini ada yang curhat kayaknya."
Alvin menggeser kursor ke bawah.
"Ckckckc... temenmu rata-rata gini ya?"
"Gini apaan?" tanya Sari.
"Alay. Sama kayak lo. hahaha"
"Alay juga manusia kalee..." Sari ngeles. Sementara si Alvin masih ngakak. "mereka lebay begitu juga pasti ada alasannya. Bukan sekedar nyari sensasi."
"Lebay, lebay aja. Pake alasan segala... lagi, orang nggak jelas gitu ngapain lo confirm? Paling dia temen-temennya nggak jelas juga."
"Kalo menurut gua, kayaknya mereka ini tipe-tipe yang suka menyendiri gitu deh. Lebih tepatnya kesepian. Makanya mereka lari ke dunia maya. they more comfortable to be a part of digital world than reality."
"Makanya mereka finding friends as much as possible gitu?"
"Yah, salah satunya. Semakin banyak yang jadi temen mereka, semakin banyak perhatian yang dia dapet."
"Jadi ceritanya mereka haus perhatian?"
"Mungkin. Tapi diakui atau nggak, pasti ada keinginan dalam hati kita untuk mendapat komen atau minimal 'like' dari orang yang baca status kita."
"Ah, gua nggak gitu banget. Elu kali."
"Ya, elu kan make FB pure buat bisnis online. Dan ralat, gua nggak alay-alay banget ya. Gua cuma share hasil tulisan blog gua lewat wall."
"Yah, whatever. Pokoknya lo alay. hahaha...." kata Alvin sambil ngacir. Menghindar dari jitakan Sari yang membabi buta.
Alvin menoleh ke meja kerja di sampingnya. Tumben amat si Sari betah di depan komputer. Biasanya kalo udah mendekati jam 12 siang gini udah burur-buru ke kantin buat istirahat.
"Sar." panggil Alvin.
"Heh, apa Vin?" jawab Sari.
"Tumben lo nggak buru-buru nyambangi kantin?"
"Hehehe. Lagi asik. nanti aja. Lagian bakso kikilnya nggak abis cuma dimakan bu kantin seorang."
"Ngapain lo? Liat situs bokep ya?"
"Sembarangan!" Sari menoyor kepala Alvin yang mencoba mengintip komputernya. "emang elu?! hobinya buka situs gituan! Gua cuma buka facebook nih...." katanya emosi.
"Tumben amat... kayak abg."
"Emang facebook identik sama abg, gitu?"
"Ya abis, yang getol on line kan cuma abg."
"Elu juga rajin on line."
"Beda Sar, gua kan on line karena rata-rata terima job dari situ. Gua kan memasarkan kaos rancangan gua sendiri lewat facebook. Yah, sesekali main game online sih... hehehe."
"Heleh, kadang-kadang juga lo nulis status alay nggak jelas gitu..."
"Itu gara-gara akun FB gua dibajak. Emang ada apa sih di FB lo? sampe betah nggak turun ke kantin."
Sari kembali menghadap layar komputernya.
"Nggak ada. Cuman baca status temen-temen gua yang ..."
"Alay?"
"Lo baca sendiri deh."
Alvin menarik kursinya dekat Sari.
"Gila... temen-temen lo namanya ajaib-ajaib gini ya? Adek ChayanxBuangetts SamaAbang. hahaha... nama apaan nih?! Panda Lophes Kitty. Ini nama asli ya?"
"Ya bukan. Fotonya juga bukan foto asli. Ada sih yang kayaknya pake foto sendiri. Tapi pose-nya manyun semua."
"Eh, ini yang dipake status bukannya lagu melayu yang lagi banyak di-airplay di radio itu ya?"
"Nggak semua radio lah. Di radio kita, ini lagu di-blacklist." sanggah Sari.
"Trus, ini ada yang curhat kayaknya."
Alvin menggeser kursor ke bawah.
"Ckckckc... temenmu rata-rata gini ya?"
"Gini apaan?" tanya Sari.
"Alay. Sama kayak lo. hahaha"
"Alay juga manusia kalee..." Sari ngeles. Sementara si Alvin masih ngakak. "mereka lebay begitu juga pasti ada alasannya. Bukan sekedar nyari sensasi."
"Lebay, lebay aja. Pake alasan segala... lagi, orang nggak jelas gitu ngapain lo confirm? Paling dia temen-temennya nggak jelas juga."
"Kalo menurut gua, kayaknya mereka ini tipe-tipe yang suka menyendiri gitu deh. Lebih tepatnya kesepian. Makanya mereka lari ke dunia maya. they more comfortable to be a part of digital world than reality."
"Makanya mereka finding friends as much as possible gitu?"
"Yah, salah satunya. Semakin banyak yang jadi temen mereka, semakin banyak perhatian yang dia dapet."
"Jadi ceritanya mereka haus perhatian?"
"Mungkin. Tapi diakui atau nggak, pasti ada keinginan dalam hati kita untuk mendapat komen atau minimal 'like' dari orang yang baca status kita."
"Ah, gua nggak gitu banget. Elu kali."
"Ya, elu kan make FB pure buat bisnis online. Dan ralat, gua nggak alay-alay banget ya. Gua cuma share hasil tulisan blog gua lewat wall."
"Yah, whatever. Pokoknya lo alay. hahaha...." kata Alvin sambil ngacir. Menghindar dari jitakan Sari yang membabi buta.
Minggu, 13 November 2011
The Trully Street Artist
Wow, it's november!! Dan saya baru nulis lagi. Yah maklum, meskipun sempat bilang kalau saya pengen jadi penulis. Pada kenyataannya kalau disuruh nulis suka moody juga. hahaha. Dan kali ini saya ingin share tentang hal berbeda yang saya jumpai hampir sepuluh tahun ini. Terhitung setelah saya berani kemana-mana naik bus sendiri. It was on my 13th. Dan yang ingin saya bagi hari ini adalah tentang seniman jalanan. I often see them along my trip to and from the place I call home. Keberadaan mereka mengundang berbagai reaksi dari orang-orang. Ada yang bilang unik, nggak sedikit juga yang berpendapat mengganggu. Tapi apa pun itu, mereka tetap manusia yang berusaha bertahan hidup dengan cara yang mereka yakini benar.
Seniman jalanan yang saya maksud di sini, of course, para pengamen. Tahu kan? yang sering cover lagu-lagu orang itu lho. hahaha. Istilahnya.... tapi bener deh. setelah kurang lebih selama sepuluh tahun ini saya sering pergi keman-mana dengan menggunakan jasa bus -maklum, belum punya mobil- saya menjumpai berbagai macam pengamen yang membuat saya sebal dan juga respect. Sebal bukan berarti saya merendahkan mereka. Maksud saya sebal di sini, karena terkadang, dan bahkan sering, mereka menyanyikan lagu yang seharusnya sounds good jadi ancur. Atau menyanyikan lagu yang tidak seharusnya didengar penumpang anak-anak. Tapi rasa sebal itu nggak berhak saya keluarkan. Salah-salah malah menimbulkan keributan massa. Jadi kalau misalnya bus yang saya tumpangi kebetulan berhenti untuk menaikkan penumpang plus-plus -plus pedagang asongan dan pengamen- saya langsung tutup mata dan telinga. Nggak secara harfiah sih, untuk tutup telinganya. Tapi, honestly, saya malas mendengarkan karya music yang seharusnya bagus dan bikin orang seneng, tapi jadi acak-acakan gara-gara orang yang bawain. Dan belakangan ini saya jadi tertarik untuk mengamati para musisi jalanan ini.
Karena tempat kerja saya yang sekarang mengharuskan saya menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dari dan ke rumah -meskipun itu hanya sekali dalam seminggu- saya jadi memerhatikan apa yang ada di sekitar saya. Terutama musisi jalanan yang 'tugasnya' menghibur para penumpang. Kalau biasanya saya kurang respect karena mereka suka membawakan lagu-lagu yang -seringnya- kurang pantas didengarkan anak-anak, maka pikiran itu berubah sejak hari pertama saya berangkat ke kota industri ini. Musisi jalanan yang waktu itu kebetulan 'tampil' di bus yang saya tumpangi menyanyikan lagu band favorit saya, Andra & The Backbone yang judulnya hitamku dengan suara yang sangat mirip dengan vokalis aslinya. Perjalanan yang biasanya bikin saya stress, jadi menyenangkan. Well, that should happened to me since 10 years ago. Kemudian, setelah sekira dua minggu setelahnya, ketika saya perjalanan pulang lagi di suatu sore, pengamennya lagi-lagi bikin saya kagum. Well, awalnya nggak sih. Soalnya mereka ngobrol pakai bahasa ke-Jakarte-an. Pikir saya, belagu banget tuh dua orang!! Pengamennya ada dua soalnya. Tapi saya langsung amazed begitu mereka membawakan lagu wonder wall milik Oasis perfectly. Dan kekaguman saya semakin bertambah ketika mereka menyanyikan lagu milik The Cranberries yang saya lupa judulnya dan The Second You Sleep milik Saybia yang juga saya suka banget >_<
Mereka menutup 'show' sore itu dengan lagu Selamat Tinggal milik Five Minutes. Satu-satunya lagu berbahasa Indonesia yang dinyanyikan sore itu. Pengalaman itu memberikan pendapat tersendiri buat saya. Saya yang biasanya -sorry- rada pelit ngasih pengamen karena saya nggak sreg dengan cara mereka menyanyi jadi nggak sayang untuk mengeluarkan ribuan dengan nominal yang agak besar untuk mereka. Musisi jalanan yang berbakat. Ah ada lagi, kira kira kemarin lusa saya menjumpai pengamen yang unik. Awalnya saya pikir dia akan menyanyi lagu-lagu koplo populer seperti biasanya. Tapi ternyata, pengamen yang satu ini memainkan medley lagu pop dan campursari with violin. Yes, just the musics not the lyrics. And it sounds so classic. Lagunya pun dipilih yang sekiranya everlasting dan mudah dihapal. So, sebenarnya saya pribadi mau menghargai mereka dan bisa kagum dengan talenta musik para musisi jalanan ini. Dengan catatan, mereka tidak sekedar genjrang-genjreng. Sangat sedikit musisi jalanan yang benar-benar mengikuti passion mereka lebih daripada beberapa lembar ribuan yang diberi penumpang. Harapan saya sih, musisi jalanan seperti mereka lah yang memanjakan telinga kita ketika dijalan. Even better, from our mp3 player. Something good wouldn't make us regret to pay.
Seniman jalanan yang saya maksud di sini, of course, para pengamen. Tahu kan? yang sering cover lagu-lagu orang itu lho. hahaha. Istilahnya.... tapi bener deh. setelah kurang lebih selama sepuluh tahun ini saya sering pergi keman-mana dengan menggunakan jasa bus -maklum, belum punya mobil- saya menjumpai berbagai macam pengamen yang membuat saya sebal dan juga respect. Sebal bukan berarti saya merendahkan mereka. Maksud saya sebal di sini, karena terkadang, dan bahkan sering, mereka menyanyikan lagu yang seharusnya sounds good jadi ancur. Atau menyanyikan lagu yang tidak seharusnya didengar penumpang anak-anak. Tapi rasa sebal itu nggak berhak saya keluarkan. Salah-salah malah menimbulkan keributan massa. Jadi kalau misalnya bus yang saya tumpangi kebetulan berhenti untuk menaikkan penumpang plus-plus -plus pedagang asongan dan pengamen- saya langsung tutup mata dan telinga. Nggak secara harfiah sih, untuk tutup telinganya. Tapi, honestly, saya malas mendengarkan karya music yang seharusnya bagus dan bikin orang seneng, tapi jadi acak-acakan gara-gara orang yang bawain. Dan belakangan ini saya jadi tertarik untuk mengamati para musisi jalanan ini.
Karena tempat kerja saya yang sekarang mengharuskan saya menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dari dan ke rumah -meskipun itu hanya sekali dalam seminggu- saya jadi memerhatikan apa yang ada di sekitar saya. Terutama musisi jalanan yang 'tugasnya' menghibur para penumpang. Kalau biasanya saya kurang respect karena mereka suka membawakan lagu-lagu yang -seringnya- kurang pantas didengarkan anak-anak, maka pikiran itu berubah sejak hari pertama saya berangkat ke kota industri ini. Musisi jalanan yang waktu itu kebetulan 'tampil' di bus yang saya tumpangi menyanyikan lagu band favorit saya, Andra & The Backbone yang judulnya hitamku dengan suara yang sangat mirip dengan vokalis aslinya. Perjalanan yang biasanya bikin saya stress, jadi menyenangkan. Well, that should happened to me since 10 years ago. Kemudian, setelah sekira dua minggu setelahnya, ketika saya perjalanan pulang lagi di suatu sore, pengamennya lagi-lagi bikin saya kagum. Well, awalnya nggak sih. Soalnya mereka ngobrol pakai bahasa ke-Jakarte-an. Pikir saya, belagu banget tuh dua orang!! Pengamennya ada dua soalnya. Tapi saya langsung amazed begitu mereka membawakan lagu wonder wall milik Oasis perfectly. Dan kekaguman saya semakin bertambah ketika mereka menyanyikan lagu milik The Cranberries yang saya lupa judulnya dan The Second You Sleep milik Saybia yang juga saya suka banget >_<
Mereka menutup 'show' sore itu dengan lagu Selamat Tinggal milik Five Minutes. Satu-satunya lagu berbahasa Indonesia yang dinyanyikan sore itu. Pengalaman itu memberikan pendapat tersendiri buat saya. Saya yang biasanya -sorry- rada pelit ngasih pengamen karena saya nggak sreg dengan cara mereka menyanyi jadi nggak sayang untuk mengeluarkan ribuan dengan nominal yang agak besar untuk mereka. Musisi jalanan yang berbakat. Ah ada lagi, kira kira kemarin lusa saya menjumpai pengamen yang unik. Awalnya saya pikir dia akan menyanyi lagu-lagu koplo populer seperti biasanya. Tapi ternyata, pengamen yang satu ini memainkan medley lagu pop dan campursari with violin. Yes, just the musics not the lyrics. And it sounds so classic. Lagunya pun dipilih yang sekiranya everlasting dan mudah dihapal. So, sebenarnya saya pribadi mau menghargai mereka dan bisa kagum dengan talenta musik para musisi jalanan ini. Dengan catatan, mereka tidak sekedar genjrang-genjreng. Sangat sedikit musisi jalanan yang benar-benar mengikuti passion mereka lebih daripada beberapa lembar ribuan yang diberi penumpang. Harapan saya sih, musisi jalanan seperti mereka lah yang memanjakan telinga kita ketika dijalan. Even better, from our mp3 player. Something good wouldn't make us regret to pay.
Jumat, 14 Oktober 2011
Tentang Hidup
Apa yang membuat kalian bertanya sampai saat ini? Saat Tuhan memberikan kesepatan untuk kalian menghirup udara yang penuh polusi sampai saat ini? Saya nggak bisa menebak satu-persatu. Jawaban itu, ada dalam hati kalian dan saya masing-masing. Dari mulai kita bisa berpikir, sampai sekarang. Pasti banyak pertanyaan muncul yang berkaitan dengan kehidupan dan pernak-perniknya. Tapi pertanyaan yang pasti selalu ditanyakan setiap orang adalah, kenapa hidup ini begitu sulit? Saya juga bertanya seperti itu. Kenapa hidup ini sulit buat saya? Semakin lama, semakin sulit. Untuk yang pikirannya pendek, mungkin lebih baik tidak usah hidup daripada mengalami kesulitan.

Tapi ketika suatu malam sepulang kerja -atau main?- dan merasa sedikit capek di kamar. Iseng-iseng saya memainkan beberapa permainan favorit di laptop -thanks buat pacar tersayang yang sudah meng-install beberapa games di laptop saya :)
Ketika permainan saya sampai pada level yang cukup tinggi, saya beberapa kali mengalami game over dan harus mengulang. Bahkan sampai waktu menunjukkan pukul 24.00, yang berarti sudah hampir 4 jam main, saya belum berhasil juga. Kesel sih, kurang sedikit lagi saya bisa menyelesaikan game itu. Tapi mau nggak mau saya harus tidur, besok masih harus datang ke kantor baru saya.
Sebelum tidur, saya sempat berpikir tentang game saya. Bukan tentang strategi bagaimana saya harus menyelesaikan tanpa game over duluan. Tapi tentang hidup dan game. Sebenernya, nggak ada hubungannya antara game dengan hidup. Tapi kalo dipikir-pikir, hidup itu seperti main game. semakin tinggi level yang kita mainkan, semakin sulit misinya. Sama kayak hidup. Semakin matang kehidupan yang kita jalani, semakin sulit ujian yang Tuhan berikan untuk kita. Tapi sayangnya, dalam dunia nyata kita nggak memiliki cadangan nyawa seperti dalam game. Kalo kita kalah, bisa mengulang dari awal dengan tanpa cacat sedikit pun. Enak ya, kalo bisa kayak gitu. Setiap kita melakukan kesalahan atau mengalami musibah, kita putar waktu dan mengulang dari awal. Tapi kalo dipikir-pikir sebenernya kita juga punya 'nyawa cadangan' itu. Ya nggak bener-bener berfungsi seperti dalam game sih. Ibaratkan saja 'nyawa cadangan' itu seperti bagian lain dalam kehidupan kita. Hal yang pasti selalu ada ketika kita melakukan kesalahan atau mengalami musibah.
Kehidupan itu seperti game. Semakin tinggi level-nya, semakin sulit misinya. Semakin lama kita hidup, semakin berat ujian yang Tuhan berikan. Kita memang tidak punya 'nyawa cadangan'. Kalo kita memutuskan untuk 'game over' dari kehidupan, kita tidak bisa mengulang dari awal untuk memperbaiki semuanya. Kalo kita melakukan kesalahan, sulit buat kita mengulang lagi dan menghindari kesalahan yang sama. Kalo kita mendapat musibah, kita nggak bisa melawan dengan 'senjata'. 'nyawa cadangan' kita nggak berbentuk. Tapi dia memang ada ketika kita menjalani ujian dari Tuhan, melakukan kesalahan, atau mendapat musibah.
Sampai sini sudah ngerti? Yah, kalo ada yang nggak ngerti dari apa yang saya ketik sih, saya maklum. Ini kan hasil dari pemikiran saya sendiri. Dari pengamatan saya.
Yang jelas, 'nyawa cadangan' itu memang ada. Tapi bukan nyawa yang bisa bikin orang mati bangkit dari kubur. Hm... coba diobrolin sama teman, saudara, keluarga, atau pasangan deh. Pasti seru ngbrolin 'nyawa cadangan' ini. Mungkin bahkan kita bisa menemukan jawaban yang berbeda-beda dari setiap orang yang kita tanya. Kembali ke kehidupan yang seperti game. Yang jelas, kehidupan itu lebih menarik daripada game. Lebih kompleks. nggak monoton. Kadang warna-warni, nggak jarang juga yang hitam-putih atau cuma hitam.
Selasa, 11 Oktober 2011
A letter to my dear
Sayang,
Aku tahu ini mungkin terdengar berlebihan. Tapi aku cuma ingin kamu tahu apa yang aku rasakan.
Sayang,
Kita baru saja bertengkar. Karena suatu hal yang berbeda antara kamu dan aku.
Bagaimanapun, itu semua salahku. Aku akui itu.
Aku mungkin nggak mendengarkan kamu sebagai seseorang yang butuh teman untuk bicara atau berbagi masalah.
Aku cuma mementingkan kekhawatiran dan ketakutanku sendiri.
Ketika malam itu kamu mengungkapkan kekecewaanmu, aku akui memang aku yang salah.
Tapi aku menangis.
Bukan karena menghadapi kamu yang marah.
Semuanya lebih karena aku menyesal nggak mengerti apa yang kamu inginkan.
Aku belum bisa menemani kamu di saat-saat kamu butuh teman untuk bicara.
Saat kamu lagi ada masalah.
Saat kamu butuh seseorang untuk membuat kamu tetap semangat.
Saat kamu bahkan merasa sangat lemah sampai butuh seseorang untuk membantu kamu tetap tegar.
Aku memang belum bisa menjadi seperti itu.
Apalagi dengan jarak kita yang agak berjauhan sekarang.
Semakin sulit buat aku dan kamu untuk bicara dan berbagi suka duka menjalani kehidupan kita yang baru mulai.
Kemudian aku minta maaf. Meskipun oke, terlambat.
Aku bukannya nggak mau minta maaf ke kamu. Bagiku, ketika meminta maaf. Berarti kita benar-benar melupakan kesalahan masing-masing dan kembali seperti semula.
Aku takut jika minta maaf, malah kamu anggap suatu alasan untuk menghindari kesalahan.
Biasanya itu kesan yang aku dapat dari orang lain.
Jadi, kalau memang kamu sudah memaafkan aku, ya sudah.
Jadilah kamu seseorang yang sebelum kamu marah sama aku.
Aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama, jika itu yang kamu mau.
Aku selalu ingin buat kamu bahagia, tapi mungkin caranya yang salah.
Aku melakukannya dengan caraku. Bukan dengan cara kita.
Kali waktu, aku akan mendengarkan kamu bicara.
Aku sediakan bahuku jika kamu ingin menangis -itu kalau kamu bisa menangis-
Aku ikut jika kamu butuh teman untuk jalan.
Aku berusaha untuk nggak mengecewakan kamu lagi.
Kalau pada akhirnya ada yang menganggap aku sudah dibutakan sama kamu,
Aku akan jawab:
Aku nggak buta. Itu semua karena aku butuh kamu dan kamu butuh aku.
Love,
Me
Aku tahu ini mungkin terdengar berlebihan. Tapi aku cuma ingin kamu tahu apa yang aku rasakan.
Sayang,
Kita baru saja bertengkar. Karena suatu hal yang berbeda antara kamu dan aku.
Bagaimanapun, itu semua salahku. Aku akui itu.
Aku mungkin nggak mendengarkan kamu sebagai seseorang yang butuh teman untuk bicara atau berbagi masalah.
Aku cuma mementingkan kekhawatiran dan ketakutanku sendiri.
Ketika malam itu kamu mengungkapkan kekecewaanmu, aku akui memang aku yang salah.
Tapi aku menangis.
Bukan karena menghadapi kamu yang marah.
Semuanya lebih karena aku menyesal nggak mengerti apa yang kamu inginkan.
Aku belum bisa menemani kamu di saat-saat kamu butuh teman untuk bicara.
Saat kamu lagi ada masalah.
Saat kamu butuh seseorang untuk membuat kamu tetap semangat.
Saat kamu bahkan merasa sangat lemah sampai butuh seseorang untuk membantu kamu tetap tegar.
Aku memang belum bisa menjadi seperti itu.
Apalagi dengan jarak kita yang agak berjauhan sekarang.
Semakin sulit buat aku dan kamu untuk bicara dan berbagi suka duka menjalani kehidupan kita yang baru mulai.
Kemudian aku minta maaf. Meskipun oke, terlambat.
Aku bukannya nggak mau minta maaf ke kamu. Bagiku, ketika meminta maaf. Berarti kita benar-benar melupakan kesalahan masing-masing dan kembali seperti semula.
Aku takut jika minta maaf, malah kamu anggap suatu alasan untuk menghindari kesalahan.
Biasanya itu kesan yang aku dapat dari orang lain.
Jadi, kalau memang kamu sudah memaafkan aku, ya sudah.
Jadilah kamu seseorang yang sebelum kamu marah sama aku.
Aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama, jika itu yang kamu mau.
Aku selalu ingin buat kamu bahagia, tapi mungkin caranya yang salah.
Aku melakukannya dengan caraku. Bukan dengan cara kita.
Kali waktu, aku akan mendengarkan kamu bicara.
Aku sediakan bahuku jika kamu ingin menangis -itu kalau kamu bisa menangis-
Aku ikut jika kamu butuh teman untuk jalan.
Aku berusaha untuk nggak mengecewakan kamu lagi.
Kalau pada akhirnya ada yang menganggap aku sudah dibutakan sama kamu,
Aku akan jawab:
Aku nggak buta. Itu semua karena aku butuh kamu dan kamu butuh aku.
Love,
Me
Langganan:
Postingan (Atom)