Kamis, 12 Juli 2012

Bingung

Pernah merasa di posisi yang nggak jelas? Misalnya saja, kita terbiasa dengan segala macam keteraturan atau terbiasa dengan diri kita sendiri tapi tiba-tiba merasa menjadi orang asing di tempat yang udah kita kenal sejak kita masih ingusan. Itulah yang disebut bingung, perasaan nggak jelas ketika kita merasa di posisi nggak jelas juga. Kita bingung apa yang harus dilakukan, mau ke mana, bahkan bingung dengan perasaan kita.

Akhir-akhir ini saya ngerasa bingung dan nggak beres. Ada yang salah dengan saya. Atau ada yang salah dengan diri saya. Saya selalu merasa kegiatan sehari-hari yang saya lakukan nggak ada gunanya. Cuma main-main, bukan apa yang saya inginkan, dan terlalu disetir. Saya nggak ngerti kenapa jadi begini? Rasanya kayak kehilangan jati diri, atau malah bingung dengan jati diri saya sebenarnya. Saya ingin sebentar saja berhenti dan mencari apa yang hilang dari saya. Tapi kesempatan itu belum datang. Dan saya nggak punya hak untuk berhenti. Saya harus terus berjalan biar pun kaki saya udah capek dan nyeri.

Jumat, 06 Juli 2012

When We Down

Lagi nyoba modem baru nih... -pamer... pamer...- hehehe... Jadi saya manfaatkan aja sekalian buat update blog saya yang hampir tak tersentuh selama bulan juni. Masalahnya nih, saya mesti berjuang ekstra buat nyambung ke jaringan internet -duh... bahasanya...- maklum lah, sinyalnya up and down, tapi lebih banyak down-nya. hehehe. Bicara soal down, saya akhir-akhir ini ngerasa down banget. Dikarenakan banyak hal. Mulai dari urusan pekerjaan sampai pribadi. Atau lebih tepatnya, yang satu kena imbas masalah yang lain. jeleknya saya, kalau udah merasa down, alias jatuh banget, kayak orang depresi -atau emang depresi kali ya?- Don't what to do, where to go, what to say, whose to tell. Serba bingung. Saya memang introvert, but I do need somebody to hugs and a shoulder to cry on. Tapi masalahnya, saya nggak bisa pilih sembarang orang. i am too picky. Susah buat saya percaya sama orang setelah mengalami masalah dengan kepercayaan. Tapi akhirnya saya menemukan itu pada tunangan saya -Love u so much, bebek.... *hugs*- I can tell him anything without afraid everybody will know it. Dia benar2 seorang good secret keeper. Saya bebas bercerita apa pun meski nggak senyaman ketika memeluk Ibu saya. Percaya deh, meskipun kita sudah menemukan seseorang untuk sharing. Entah itu sahabat, pacar, suami, istri atau boneka, tetap nggak ada yang bisa menggantikan pelukan ibu. The best solution whole the world. Saya memang bebas bercerita apa saja dan percaya sama tunangan saya. Tapi saya toh tetap 'anak' yang butuh ketek ibunya. hehehe, istilah saya kasar banget ya, kayaknya. No, I mean, we do need them. A trusty one and parents. they are the best.

Jumat, 22 Juni 2012

Physical & Judging

Seberapa besar pengaruh fisik untuk kita? Begitu mendominasi atau kita menjadikan fisik sebagai pelengkap penilaian kita? Sayangnya, faktor kedua hanya 1 % benar-benar diterapkan oleh semua orang di dunia ini. Orang begitu gampang memberlakukan judging dari sudut pandang mereka pribadi.

Contoh kecil, apa yang ada di pikiran kita saat melihat dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang jalan bareng, bergandengan dan, tertawa lepas? Satu, mereka pacaran. Dua, mereka saudara. Tiga, mereka sahabat. Dari ketiga asumsi itu, saya yakin kita cenderung memilih yang pertama. Because they looks so close each other. Tapi siapa yang sangka kalau mereka kebetulan dua bersaudara yang sangat akrab? Atau sahabat yang saking akrabnya jadi kayak saudara. Sehingga nggak sungkan untuk menunjukkan interaksi fisik seperti menggandeng tangan atau memeluk.

Masalahnya, budaya di masyarakat kita cenderung menilai seseorang berdasarkan fisik. From what they wear, who are they, and where they live. Dari fisik, mereka beranjak ke hal-hal yang lebih kompleks seperti sifat, attitude, personal life. Sejujurnya itu semua sangat mengganggu. Sangat gampang buat kita menilai seseorang dengan hanya melihat apa yang mereka lakukan tanpa tahu tujuan atau motivasi mereka. Kita merasa sudah sangat ahli sebagai orang dewasa, ketika dengan sekali lihat sudah cukup bagi kita untuk membuat kesimpulan. Tapi kita lupa kalau kesimpulan nggak selalu dibutuhkan dalam setiap perjalanan yang disebut mengenal. Kita cenderung memposisikan diri sebagai subjek tanpa pernah memahami posisi objek kita. Yang bikin miris, kita mewariskan kebudayaan easy judging ini pada generasi selanjutnya. Kita sebagai hakim nggak merasa rugi apa-apa dengan membuat penilaian, tapi kita sudah merampas kesempatan orang lain ketika membuat penilaian yang salah.

Sedikit curhat, nggak jarang saya merasa dirugikan hanya gara-gara hal kecil yang menurut saya masih wajar tapi dianggap berlebihan oleh orang lain. Saya juga pernah mendengar manajer saya menjelaskan duduk masalah sebenarnya ketika beliau menyelesaikan persoalan dengan caranya sendiri tapi dinilai berbeda oleh orang-orang. Susah ya, menjadi objek yang melulu disalahkan. Tapi menyenangkan ketika menjadi hakim and judging people.

Rabu, 25 April 2012

Bangganya Menjadi Perempuan


Apa jadinya dunia ini tanpa perempuan? Suram? Membosankan? Kalau masih kurang, saya bisa menambahkan kata monoton, kaku, massif. Yah, berterima kasihlah pada perempuan. Dan bersyukurlah jika dilahirkan sebagai perempuan.

Karena berkat perempuan, keturunan Nabi Adam terus bertambah sampai sekarang, selalu ada hidangan lezat tersaji di meja, selalu ada baju rapi dan sepatu mengkilat, selalu ada ruangan rapi. Berkat perempuan, para desainer punya cara untuk memamerkan koleksi mereka, berlian dan emas yang terkandung dalam bumi jadi ada gunanya. Berkat perempuan, para pria punya seseorang untuk dibanggakan dan diperjuangkan, punya alasan untuk berangkat lebih awal ke kantor, mengirim pesan singkat dan menelepon, atau membeli sebuket mawar. Berkat perempuan, para musisi selalu punya inspirasi untuk membuat lagu, Leonardo Da Vinci punya lukisan Mona Lisa. Berkat perempuan, negara-negara memiliki pemimpin, kemerdekaan negeri ini bisa kita raih.

Dan yang terpenting, berkat perempuan, saya bisa ikut kompetisi ini. I’m a woman, and proud of it. Cita-cita saya tersalurkan, suara saya didengar. Menjadi perempuan itu membanggakan dan menyenangkan. Semata-mata bukan karena mereka selalu mendapat diskon atau identik dengan kegiatan domestic rumah tangga.  Tuhan menciptakan mereka –termasik saya- sebagai  perantara kehidupan dan memeliharanya.  Perempuan adalah perhiasan dunia, permata syurga, tiang Negara, ibu bumi, inspirasi karya seni. 

Selasa, 24 April 2012

STORY FROM

Orang ketiga
Kimi menatap ponsel di tangannya kesal. Dari tadi ditelepon nggak bisa-bisa! Pasti sama cewek itu lagi deh. Gerutunya dalam hati.
“Abdi nggak bisa ditelepon lagi Kim?” Tanya Dian, teman sekantornya.
“Iya. Huh, pasti dia teleponan sama cewek itu lagi.” Sungut Kimi.
“Cewek yang mana?”
“Mantan pacarnya. Mmm… mantan pacar bukan ya?”
“Tau… lha kamu yang jadi pacarnya gimana?” Dian balik bertanya sebelum duduk di depan meja Kimi.
“Ya… Abdi bilang sih mereka udah putus. Tapi ceweknya ini nggak mau diputusin.”
“Trus si Abdi ini selingkuh sama mantan pacarnya yang nggak mau diputusin itu?”
“Nggak bisa dibilang gitu juga. Abdi selalu bilang apa pun yang dia obrolin sama cewek itu ke aku kok.”
“Kok aku nggak paham ya? Gimana sih?”

Kimi menghela napas. Apa yang dialaminya memang termasuk langka dalam sejarah hubungan asmara manusia, termasuk dirinya. Ia juga nggak nyangka bakal mengalami ini. Tadinya yang Kimi inginkan hanya punya kekasih yang sesuai keinginannya, menjalin hubungan yang baik dan menikah. Cita-cita yang sederhana. Sampai ia tahu kalau sebenarnya sang pacar masih menjalin komunikasi dengan perempuan yang pernah menjadi pacarnya. Setidaknya begitulah pengakuan Abdi. Abdi dan perempuan yang belakangan ia tahu bernama Ayu itu masih saling kontak sebagai kekasih. Itu cukup menyakitkan buat Kimi. Ia merasa dikhianati oleh orang yang ia sayangi. Tapi menurut penjelasan Abdi, ia terpaksa menuruti keinginan Ayu untuk nggak memutuskannya karena masih punya tanggungan ke Ayu.
“Jadi gitu Di, aku sama Abdi pacaran. Tapi cewek yang namanya Ayu ini juga ‘pacaran’ sama Abdi.”
“Dan kamu mau diduain gitu aja?!”
“Aku nggak diduain.”
“Haduh Kim, kamu tu stupid atau bego sih? Istilahnya apa kalo bukan diduain?! Selingkuh? Diliat dari sisi mana pun, si Abdi itu selingkuh sama Ayu. Kok ya kamu masih mau-maunya jalan sama dia?!” omel Dian.
“Selingkuh itu kalau Abdi diam-diam menjalin hubungan sama Ayu. Ini dia masih ngasi tau aku semua sms dia sama Ayu kok. Dia juga selalu bilang kalau abis ditelepon sama Ayu dan isi obrolan mereka.”
“Kimi, denger ya. Kamu itu DIDUAIN sama Abdi. Jelas?! Bisa aja kan masalah tanggungan itu Cuma alasan dia biar leluasa untuk komunikasi sama pacarnya yang lain. Trus, si Ayu ini tau kamu nggak?” Kimi diam sejenak.
“Nggak… Abdi bilang kalau Ayu tahu aku pacaran sama dia, Ayu bakal bunuh diri dan nulis surat kalau penyebab bunuh dirinya itu Abdi yang udah khianatin dia.”
“Hahahaha…” Kimi kaget ketika Dian tiba-tiba tertawa setelah mendengar penjelasannya. “emang kata ini sinetron apa?! Pake acara bunuh diri segala! Si Ayu ini lebay binti alay banget ya? Berarti Cuma satu kesimpulannya Kim. Kamu itu selingkuhan Abdi.”
“Nggak lah.” Sahut Kimi.
“Lha buktinya, kamu tau soal Ayu tapi Ayu nggak tau soal kamu. Berarti kamu yang jadi selingkuhan kan?”
“Kalo aku selingkuhan Abdi, dia nggak mungkin dong ngenalin aku keluarganya. Bahkan aku bisa sampai akrab banget sama adiknya.”
Dian terdiam. Iya juga sih. Yang namanya selingkuhan itu biasanya nggak dikenalin sama keluarga besar. Kalo ada yang masih nekad, sungguh terlalu…. –jiahhh, Rhoma Irama!-
“Trus, solusi kamu sama Abdi gimana?” Tanya Dian.
“Ya… aku pernah sih nawarin bantuan untuk menyelesaikan tanggungannya. Tapi Abdi nolak, dia ngak pengen aku ikut keseret dalam masalah dia. Jadi sementara ini aku masih biarin Abdi sama Ayu tetap komunikasi, sampai Abdi lepas tanggungannya.”
“Sampai kapan?” sahut Dian. Kimi mengangkat bahu, sementara Dian menghela napas.
“Setiap langkah yang kita ambil mengandung resiko Kim. Kalo kamu pilih diemin Abdi nyelesaiin masalah dengan caranya sendiri, kamu bakal sakit tiap hari. Nggak rela kan kalo liat cowok kita saling kirim pesan singkat romantic sama orang lain?! Tapi kalo kamu milih nyelesaiin masalah ini bareng-bareng sama Abdi, kalian bakal nyakitin orang lain dan ada kemungkinan masalah kamu tambah rumit.” Jelas Dian panjang.
Mereka berdua terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Terutama Kimi, karena ini masalahnya.
Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan dering ponsel Kimi yang nyaring.
“Halo?”
“Sayang, kamu tadi telepon ya? Maaf ya, nggak aku angkat. Tadi masih…”
“Nggak apa-apa Mas.” Potong Kimi. Senyum kecil mengembang di bibirnya. “aku ngerti.”

Jumat, 02 Maret 2012

Hari ini

Saya agak terkejut ketika melihat pengikut blog saya ada 4 orang. Well, bagaimana pun terima kasih. Pada dasarnya saya bukan orang yang harus setiap detik update di status jejaring sosial. Tapi untuk blog kan tidak harus setiap detik ya. Beberapa hari sekali atau bahkan beberapa bulan sekali juga nggak ada yang melarang. Tadinya saya berencana membuat akun baru di blogdetik.com bahkan sudah membuat akunnya. Tapi, saya pikir-pikir lagi, sepertinya saya akan kembali pada blog ini deh. Dan untuk yang di blogdetik itu, saya nggak tau bagaimana menutupnya. hehehehe

Minggu, 08 Januari 2012

Our Promises

It's not about confusion
It's just reminding about our old deal

We promised to stay together
Eat the same menu
Drink the same water
Breathe with the same air
Hand in hand when walking
Running on the same speed
Crying
Laughing
Honest each other
Complete each other

If I can write all of our deal, I will
But I prefer to keep it in my mind and my heart
Keep what we've made in other way