Tidak ada yang tahu siapa saya. Seperti apa saya hidup. Dan bagaimana saya bersikap.
Sejak dulu saya seperti dilatih untuk curiga pada apa yang saya temui. Tujuannya mungkin biar saya waspada. Tapi itu berlanjut menjadi paranoid berkepanjangan yang akhirnya membuat saya terisolasi dari dunia. Saya menjadi terbiasa untuk menunduk, memalingkan wajah, atau memicingkan mata ketika berhadapan dengan dunia. Tidak (atau belum) ada yang berhasil meyakinkan saya bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak perlu dicurigai.
Ada banyak orang yang seperti saya, tapi hanya saya yang belum bisa keluar menyapa dan menyalami dunia seperti kawan lama. Hanya saya yang masih membawa tempurung untuk melindungi diri. Hanya saya yang lebih memilih untuk tinggal di rumah pada saat semua orang bersenang-senang. Hanya saya yang masih mencari celah untuk lari tapi tidak pernah menemukan.
Dulu saya merasa nyaman menjadi makhluk dalam tempurung. Tapi sekarang, saya seperti narapidana yang harus menunggu antrian untuk sidang padahal tidak pernah berbuat salah. Menjadi makhluk dalam tempurung bukan keinginan saya. Menjadi seseorang yang menutup diri dari dunia tidak pernah ada dalam daftar keinginan hidup saya. Tapi melepaskan tempurung begitu saja, belum rela saya lakukan.
Kamis, 26 September 2013
Kamis, 10 Januari 2013
IT WILL RAIN
"God, I knew You
have the cure for my wound"
4 tahun. Dan dia masih sama seperti saat kami bertemu.
Caranya bicara, berjalan, caranya memandangku bahkan saat tertawa. Daftar lagu
di MP3-nya masih Frank Sinatra dan Nat King Cole. Dan ketika kami dinner berdua
seperti sekarang, dia selalu memesan secangkir espresso setelah makan.
“Kamu inget nggak waktu kali pertama kita bertemu?” dia
bertanya.
“Mana mungkin lupa?! Itu adalah peristiwa paling
memalukan seumur hidupku.” Wajahnya langsung cemberut begitu mendengar
jawabanku. Sementara aku malah tertawa kecil. “becanda, sayang. Nggak mungkin
lah aku malu pernah kenal sama kamu.” Kataku sambil mengacak rambutnya.
“Tapi kalo dipikir-pikir, waktu itu memalukan juga sih.
Kita sampe jadi perhatian seluruh cafĂ© gara-gara rebutan meja.” Gantian dia
yang tertawa. Matanya yang sipit jadi semakin kecil.
“Nggak terasa udah empat tahun.” Gumamku.
“Iya. Ternyata kita udah selama ini.”
Sunyi. Kami berdua sama-sama tenggelam dalam pikiran
masing-masing. Sesekali saling pandang dan melempar senyum seakan kami
bertelepati. Terlalu banyak hal yang sudah aku jalani bersama Amanda. Dia perempuan
yang cantik, baik, sopan dan penurut. Nggak ada hal yang paling aku inginkan di
dunia ini selain menikahinya dan hidup bersama. Tapi cita-cita sederhana itu
ternyata nggak mudah untuk diwujudkan. Apa pun yang aku miliki sekarang, masih
belum bisa untuk mendapatkan dan memiliki Amanda seutuhnya.
“Eka.” Panggilnya.
“Hm, kenapa sayang?” aku sedikit heran dia hanya
memanggil namaku.
Sunyi kembali. Amanda memainkan cangkir espresso-nya
beberapa saat. Lalu memandangku yang menunggu kalimat selanjutnya. Mata itu
berbeda dengan beberapa menit yang lalu yang terlihat berbinar.
“Aku ingin kita putus.” Tidak ada kata pengantar atau kalimat
petunjuk. Singkat dan beberapa saat membuatku berpikir kalau aku salah dengar.
Tapi meskipun pantai di belakangku saat ini terkena gelombang tsunami pun, aku
rasa kalimat itulah yang dia ucapkan.
“Kamu serius?” aku nggak tau harus mengatakan apa. Hanya
ini satu-satunya yang aku pikirkan.
“Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Hubungan kita nggak
mungkin dipertahankan.” Jelas Amanda.
“Kita sudah jalan selama empat tahun. Pasti masih bisa
lebih lama dari itu.” Dia menggeleng. Wajahnya terlihat putus asa.
“Nggak, Eka. Sejak awal kamu tau kalo pada akhirnya akan
begini. Hubungan kita nggak mungkin diteruskan.”
“Trus buat apa dulu kita susah-susah bikin rencana buat
masa depan?” sambungku cepat. “Anda, aku udah berkorban banyak buat hubungan
kita. Aku sudah memikirkan segala resikonya ketika pacaran sama kamu. Dan
setelah empat tahun, kamu minta putus?”
“Aku juga nggak menginginkan ini. Tapi Cuma ini jalan
satu-satunya yang bisa memperjelas status kita.” Jawabnya. “kita berbeda, Ka.”
“Nggak ada yang salah dengan perbedaan. Kita masih tetep
bisa menjalaninya sama-sama kok.”
“Nggak. Terkadang sebuah perbedaan nggak harus bersatu.
Kita nggak seiman. Aku nggak mungkin mengikuti keyakinan kamu. Kalo pun kita
nekad untuk menikah dengan tetap menganut keyakinan masing-masing, Mamiku nggak
setuju.” Katanya.
Aku membuang pandang ke arah pantai yang berjarak hanya
beberapa meter dari kami. Berharap suasana hatiku akan lebih baik. Ini bukan
kado yang aku harapkan di ulang tahun kami yang keempat. Dan aku nggak berharap
bukan ini solusi yang tepat untuk hubungan kami yang terlalu banyak perbedaan.
Ya, aku dan Amanda memang terlalu berbeda. Aku Jawa, dia Tionghoa. Aku
bartender, dia pelukis. Aku shalat di masjid, sedangkan dia tidak pernah absen
mengikuti misa di gereja. Sejak awal pertemuan kami di pulau dewata ini sampai
menjalin hubungan hingga sekarang, aku tahu ini tidak akan mudah.
“Kamu sudah tahu sejak menghadap ke Mami tiga tahun yang
lalu, Mami dan keluarga besarku nggak akan merestui kita. Tapi kamu masih ingin
kita jalan.” Kata Amanda setelah menunggu aku tidak mengatakan apa pun. “sudahlah,
Ka. Ini semua sia-sia aja. Meskipun ibu kamu nggak masalah dengan keyakinanku,
tapi kita tetap nggak bisa menikah tanpa restu dari Mami. Aku minta maaf kalo
akhirnya harus mengatakan ini sama kamu.” Sambungnya.
“Tolong lihat aku kalo lagi ngomong!” suaranya agak
meninggi saat aku masih serius memandangi pantai. Mau tidak mau aku menoleh ke
arah wajahnya yang kesal bercampur marah. “aku minta maaf.” Dia mengatakannya
lagi. “tolong kamu ngerti.”
Aku tidak menjawab. Hanya tersenyum samar dan mengacak
rambutnya lalu berdiri dan berjalan menuju kasir. Amanda memandangku bingung
dari meja kami. Setelah melunasi bill makan malam, aku mendatanginya kembali.
“Ayo ikut.” Ajakku.
“Ke mana?”
“Jalan-jalan.” Dia menurut. Diraihnya tanganku yang
terulur dan mengikutiku.
Sepanjang jalan kami hanya saling diam. Sesekali Amanda
memainkan ombak yang menyapa kakinya yang telanjang sementara tangan kirinya
menggenggam erat tanganku. Entah sudah berapa jauh kami menyusuri pantai. Saat
bertemu dengan pohon kelapa yang tumbang, aku mengajaknya duduk untuk
beristirahat. Langit sudah sangat gelap, tapi aku belum ingin pulang. Diam-diam
aku berdoa supaya Allah mengirim tsunami saat ini. Supaya kami bisa sama-sama
menghadapNya. Hhhh…. Tapi itu pikiran konyol.
“Sini.” Kutarik tangannya dan Amanda pun menempelkan
tubuhnya padaku. Aku lalu melingkarkan lenganku ke tubuhnya yang kecil
sementara kepalanya bersandar di bahuku. Kami kembali diam. Hanya menikmati
suara debur ombak yang terdengar malas. Semilir angin berhembus pelan, membuat
Amanda sedikit gemetar dan semakin merapatkan tubuhnya kepadaku.
“Dingin ya?” tanyaku.
“Iya.” Jawabnya yang lebih terdengar seperti menggumam.
Aku melepas jaket yang kukenakan lalu menyelimutkan ke tubuhnya sambil
mengeratkan pelukanku.
“Makasih.” Katanya sambil tersenyum memandangku. Aku
balas tersenyum lalu mengecup bibirnya. Suara debur ombak masih terdengar malas
bahkan saat aku menjauhkan wajahnya dariku. Tanpa terasa kami sudah berpelukan
sepanjang malam saat matahari samar-samar menyemburatkan cahayanya.
Pelan-pelan kulepaskan tubuhnya, berdiri lalu berbalik
pergi. Kubiarkan dia tetap mengenakan jaketku. Meninggalkan jejak pelukanku di
tubuhnya. Aku berjalan cepat dan tiba-tiba saja pandanganku kabur. Seorang
turis asing tanpa sengaja kutabrak. “Sorry.” Kataku lalu kembali berjalan
cepat.
Secerah apa pun hari ini, bagiku tetap saja mendung.
Siapa yang sangka kalau putus ternyata sesakit ini. Sudahlah, ini memang yang
terbaik. Dia hanya ingin aku bahagia. Dan pasti mengatakan kalimat terkutuk itu
juga menyakitkan buat Amanda. Aku hanya perlu mencari obat untuk menyembuhkan
kesedihan ini. Sudahlah Eka. Semua bakal baik-baik saja. Aku mengusap sudut
mataku lalu menyalakan mesin motor dan segera pergi. Pulang.
-FIN-
PS: Untuk sahabatku yang baru berpisah. Percayalah, Allah will gives you the cure for your wound.
Rabu, 26 Desember 2012
Idola (Tidak) Sama Dengan Dewa
Ada satu fenomena menarik yang akhir-akhir ini saya bahas bareng seorang teman kantor. Tentang groupies atau fanatis mungkin lebih tepatnya. Mereka ini adalah fans yang bisa dibilang gila-gilaan lah mendukung idolanya. Mohon dikoreksi kalo istilah saya salah ya. Apalagi dengan mudahnya teknologi seperti sekarang, sangat gampang bagi seorang idola menggalang dukungan dan memperoleh fans sebanyak-banyaknya. Pun untuk para fans, gampang banget buat mereka berinteraksi dengan idolanya meskipun cuma di dunia maya.
Tapi seiring berjalannya waktu, lama kelamaan saya jadi mendapati ada semacam bullying antar fans -jiah... bahasa saya kayak editor tabloid aja... hahaha...- Yang paling gampang diinget aja, pas Selena Gomez pacaran sama Justin Bieber , para beliebers langsung mention ke akun twitter Selena Gomez pake ancaman yang nggak cuma ekstrim, tapi triple ekstrim. Pake mau ngebunuh segala. Udah gitu yang kena ancem bukan cuma idolanya, tapi juga fans-nya. Pernah denger cerita dari temen juga kalo dia pernah in touch sama seorang K-Pop Lovers. Temen saya nih kebetulan seorang Japanesia. Orang Indonesia yang suka segala hal tentang Jepang. Nah, si K-Pop Lovers ini suka nggak terima tuh waktu temen saya membahas kekurangan para Idol K-Pop. Dia ngebelain orang-orang negeri ginseng yang belum tentu kenal sama dia ini sengotot-ngototnya bahkan kalo perlu sampe mati kali. Hahaha... Miris banget denger ceritanya. Belum lagi kalo suka baca berita para seleb di internet -ampun dah...!!!- yang melibatkan para fans di garda depan sebagai Pasukan Pembela Idolanya, kadang suka ketawa sendiri. Bukan berarti saya nggak menghargai idola setiap orang. Saya sendiri juga punya idola. Mungkin sama dengan idola kamu, tapi saya nggak akan -dan mudah-mudahan nggak akan pernah- se-brutal para groupies yang ngebelain idolanya mati-matian. Mulai dari nyerang orang lain yang mengritik idolanya, bullying via twitter, sampe curhat di-wall facebook dan yang lebih parah adalah memuja idolanya setinggi langit. Padahal belum tentu mereka ngebelain ibunya sendiri se-ekstrim itu
It's ok kalo kamu mau appreciate prestasi idola kamu, tapi nggak usah langsung menghujat haters ketika mereka menghina idola kamu. Bukannya itu malah nunjukin kalo kamu bukan fans yang qualified untuk mengidolakan sosok yang WOW? Rasanya saya pengen gitu ngomong ke fans yang lebay ini, cobalah lihat gimana idola kamu menghadapi haters. Kalo dia menanggapi komen para haters dengan cara elegant, ya kamu harus menirunya juga. Tapi kalo idola kamu menanggapi para haters dengan brutal dan kamu menirunya, berarti kamu salah memilih idola. Hahaha... -maksa sekali- Dan satu lagi. Idola juga manusia. Jadi ketika mereka tersandung masalah dan jadi bulan-bulanan media, kita dukung seperlunya aja. Cukup support moril tanpa mengabaikan kekurangan dia. Jangan tutup mata karena itu sama saja kita mendewakan mereka.
At least, silahkan jika kamu mau mendukung idolamu dalam karyanya dan menguatkan mereka dalam musibahnya. Tapi be elegant, itu yang menunjukkan kalau kita adalah fans yang cerdas. Banggakan kelebihannya, dan terima kekurangannya. Maka para haters pun akan menghargai idola kamu dan para fans-nya.
Tapi seiring berjalannya waktu, lama kelamaan saya jadi mendapati ada semacam bullying antar fans -jiah... bahasa saya kayak editor tabloid aja... hahaha...- Yang paling gampang diinget aja, pas Selena Gomez pacaran sama Justin Bieber , para beliebers langsung mention ke akun twitter Selena Gomez pake ancaman yang nggak cuma ekstrim, tapi triple ekstrim. Pake mau ngebunuh segala. Udah gitu yang kena ancem bukan cuma idolanya, tapi juga fans-nya. Pernah denger cerita dari temen juga kalo dia pernah in touch sama seorang K-Pop Lovers. Temen saya nih kebetulan seorang Japanesia. Orang Indonesia yang suka segala hal tentang Jepang. Nah, si K-Pop Lovers ini suka nggak terima tuh waktu temen saya membahas kekurangan para Idol K-Pop. Dia ngebelain orang-orang negeri ginseng yang belum tentu kenal sama dia ini sengotot-ngototnya bahkan kalo perlu sampe mati kali. Hahaha... Miris banget denger ceritanya. Belum lagi kalo suka baca berita para seleb di internet -ampun dah...!!!- yang melibatkan para fans di garda depan sebagai Pasukan Pembela Idolanya, kadang suka ketawa sendiri. Bukan berarti saya nggak menghargai idola setiap orang. Saya sendiri juga punya idola. Mungkin sama dengan idola kamu, tapi saya nggak akan -dan mudah-mudahan nggak akan pernah- se-brutal para groupies yang ngebelain idolanya mati-matian. Mulai dari nyerang orang lain yang mengritik idolanya, bullying via twitter, sampe curhat di-wall facebook dan yang lebih parah adalah memuja idolanya setinggi langit. Padahal belum tentu mereka ngebelain ibunya sendiri se-ekstrim itu
It's ok kalo kamu mau appreciate prestasi idola kamu, tapi nggak usah langsung menghujat haters ketika mereka menghina idola kamu. Bukannya itu malah nunjukin kalo kamu bukan fans yang qualified untuk mengidolakan sosok yang WOW? Rasanya saya pengen gitu ngomong ke fans yang lebay ini, cobalah lihat gimana idola kamu menghadapi haters. Kalo dia menanggapi komen para haters dengan cara elegant, ya kamu harus menirunya juga. Tapi kalo idola kamu menanggapi para haters dengan brutal dan kamu menirunya, berarti kamu salah memilih idola. Hahaha... -maksa sekali- Dan satu lagi. Idola juga manusia. Jadi ketika mereka tersandung masalah dan jadi bulan-bulanan media, kita dukung seperlunya aja. Cukup support moril tanpa mengabaikan kekurangan dia. Jangan tutup mata karena itu sama saja kita mendewakan mereka.
At least, silahkan jika kamu mau mendukung idolamu dalam karyanya dan menguatkan mereka dalam musibahnya. Tapi be elegant, itu yang menunjukkan kalau kita adalah fans yang cerdas. Banggakan kelebihannya, dan terima kekurangannya. Maka para haters pun akan menghargai idola kamu dan para fans-nya.
Minggu, 23 Desember 2012
A Day before The Day
Aku mondar-mandir dengan cemas dalam kamar. Sesekali berhenti di depan cermin pintu lemari. Memerhatikan diriku dengan seksama. Wajah bulat dengan hiasan beberapa bintik jerawat, rambut sebahu yang tampak tipis -it's ok. Nanti bisa pake conditioner merk baru setelah keramas- dan tubuh kurus yang nggak terlalu tinggi -well, sebenernya perut yang sedikit berlemak itu nggak benar-benar mengesankan kurus- setelah itu menghempaskan diri di atas kasur yang sengaja digelar tanpa ranjang. Duduk tanpa melakukan apa-apa.
Kupandangi sekeliling kamar dan mendengar lalu lalang orang-orang yang sibuk di luar. Besok. Kuambil bantal dan mulai merebahkan diri. 12 tahun yang lalu aku menempati kamar ini sebagai gadis berusia 12 tahun. Setelah itu meninggalkannya untuk mengejar mimpi dan melihat-lihat dunia. Dan sekarang aku kembali lagi untuk menghadapi hari yang benar-benar bersejarah. Ternyata waktu memang sangat cepat berlalu. Aku sendiri nggak menyangka sudah sebesar ini. Aku lalu bangun dan membuka pintu. Kampir saja menabrak seorang ibu yang datang terburu-buru membawa bungkusan besar.
"Eh, ini tho calon pengantennya?" aku tersenyum menjawab pertanyaannya yang ramah.
"Selamat ya nduk. Nggak nyangka lho, akhirnya kamu nyusul adikmu juga." katanya disusul derai tawa.
"Terima kasih." jawabku singkat. Aku sedang nggak ingin bicara malam ini.
"Oh iya. Ibumu mana? Bulik ada titipan ini."
"Mmmm... tadi sepertinya di belakang bulik. Mari saya antar." aku berjalan mendahului perempuan paruh baya itu menuju dapur yang nggak kalah sibuk. Semua orang menyambutku ramah. Sepertinya mereka ikut berbahagia meskipun bertugas di dapur yang semrawut.
Aku mendatangi seorang wanita paruh baya yang sibuk mengupas bawang.
"Bu." aku menyentuh pundaknya.
"Kenapa nduk?"
"Ada bulik." jawabku pendek. Ibuku menoleh dan langsung terlibat obrolan seru dengan tamu yang datang tadi. Aku kemudian meninggalkan dua orang wanita itu di dapur yang semakin ramai. Saat sampai di pintu aku berhenti dan menoleh ke arah ibuku yang wajahnya terlihat bahagia dan segar. Padahal jejak usia terlihat jelas di wajah 64 tahunnya. Badannya yang berubah kendor dibalut daster lengan panjang. Dan rambut itu sepertinya lebih banyak uban daripada kemarin.
Tiba-tiba aku seakan mendengar suara piano yang mengalun pelan mengiringi perasaan melankolis yang tiba-tiba datang. Ibu tertawa dan memperlihatkan giginya yang mulai tanggal. Tangannya masih sibuk mengupas bawang sambil sesekali menanggapi obrolan tamunya. Ibu ternyata sudah setua ini. Atau cuma perasaanku karena selama ini jarang di rumah? Kemarin aku mencium tangan itu selepas shalat 'isya. Baru benar-benar aku rasakan teksturnya yang lebih kasar dari tanganku sendiri. Kemudian beliau melanjutkan wirid dan mengaji. Suaranya terdengar agak sengau tapi tetap jelas. Sepertinya dulu suara ibu lebih merdu ketika mengaji. Apa karena sudah tua? Tapi, suara itulah yang selalu melantunkan do'a buatku. Tangan itulah yang bekerja keras untukku. Membelai kepalaku saat meminta restu dan bibir itu yang mencium pipiku selama 24 tahun ini dengan penuh sayang. Ada sedikit perasaan bersalah mengingat besok aku akan dinikahi oleh orang yang baru kukenal 2 tahun ini. Ibu kira-kira marah nggak kalo aku tinggal? Ibu kecewa nggak kalo aku jarang menemaninya? Ibu sakit hati nggak kalo aku lebih jarang pulang?
Tiba-tiba saja suara piano itu berhenti dan berganti dengan keriuhan semula. Aku langsung menghapus air mata yang tiba-tiba merembes dan berlalu ke kamarku lagi. Tepat saat pintu kamar menutup, ponselku berbunyi, memainkan single Payphone milik Maroon 5.
"Halo?" sapaku sambil menahan tangis.
"Sayang, kamu lagi apa?" ternyata calon suamiku.
"Nggak... apa-apa..." jawabku sedikit tersedak. Aku bener-bener nggak bisa nahan tangis.
"Kamu kepikiran ibu ya?" aku mengangguk lalu buru-buru menjawab 'iya' mengingat dia tidak ada di hadapanku sekarang.
"Insya Allah ibu bakal baik-baik aja. Dia justru bahagia bisa lihat kamu menikah. Jangan nangis dong, masa calon pengantin matanya bengkak? Nanti aku dikira nikah sama panda lagi..." candanya yang membuatku sedikit terhibur dan tertawa kecil di sela tangis.
"Kalo... nanti.... aku kangen ibu,... boleh pulang nggak?" tanyaku.
"Boleh, sayang. Nanti aku sendiri yang anter kamu pulang." jawabnya. Aku menggumamkan terima kasih lalu diam. Hanya sesekali terisak karena tidak tahu harus bicara apa lagi. Calon suamiku masih menyalakan teleponnya, sebelum menyuruhku ke kamar mandi dan mengambil wudhlu.
Kupandangi sekeliling kamar dan mendengar lalu lalang orang-orang yang sibuk di luar. Besok. Kuambil bantal dan mulai merebahkan diri. 12 tahun yang lalu aku menempati kamar ini sebagai gadis berusia 12 tahun. Setelah itu meninggalkannya untuk mengejar mimpi dan melihat-lihat dunia. Dan sekarang aku kembali lagi untuk menghadapi hari yang benar-benar bersejarah. Ternyata waktu memang sangat cepat berlalu. Aku sendiri nggak menyangka sudah sebesar ini. Aku lalu bangun dan membuka pintu. Kampir saja menabrak seorang ibu yang datang terburu-buru membawa bungkusan besar.
"Eh, ini tho calon pengantennya?" aku tersenyum menjawab pertanyaannya yang ramah.
"Selamat ya nduk. Nggak nyangka lho, akhirnya kamu nyusul adikmu juga." katanya disusul derai tawa.
"Terima kasih." jawabku singkat. Aku sedang nggak ingin bicara malam ini.
"Oh iya. Ibumu mana? Bulik ada titipan ini."
"Mmmm... tadi sepertinya di belakang bulik. Mari saya antar." aku berjalan mendahului perempuan paruh baya itu menuju dapur yang nggak kalah sibuk. Semua orang menyambutku ramah. Sepertinya mereka ikut berbahagia meskipun bertugas di dapur yang semrawut.
Aku mendatangi seorang wanita paruh baya yang sibuk mengupas bawang.
"Bu." aku menyentuh pundaknya.
"Kenapa nduk?"
"Ada bulik." jawabku pendek. Ibuku menoleh dan langsung terlibat obrolan seru dengan tamu yang datang tadi. Aku kemudian meninggalkan dua orang wanita itu di dapur yang semakin ramai. Saat sampai di pintu aku berhenti dan menoleh ke arah ibuku yang wajahnya terlihat bahagia dan segar. Padahal jejak usia terlihat jelas di wajah 64 tahunnya. Badannya yang berubah kendor dibalut daster lengan panjang. Dan rambut itu sepertinya lebih banyak uban daripada kemarin.
Tiba-tiba aku seakan mendengar suara piano yang mengalun pelan mengiringi perasaan melankolis yang tiba-tiba datang. Ibu tertawa dan memperlihatkan giginya yang mulai tanggal. Tangannya masih sibuk mengupas bawang sambil sesekali menanggapi obrolan tamunya. Ibu ternyata sudah setua ini. Atau cuma perasaanku karena selama ini jarang di rumah? Kemarin aku mencium tangan itu selepas shalat 'isya. Baru benar-benar aku rasakan teksturnya yang lebih kasar dari tanganku sendiri. Kemudian beliau melanjutkan wirid dan mengaji. Suaranya terdengar agak sengau tapi tetap jelas. Sepertinya dulu suara ibu lebih merdu ketika mengaji. Apa karena sudah tua? Tapi, suara itulah yang selalu melantunkan do'a buatku. Tangan itulah yang bekerja keras untukku. Membelai kepalaku saat meminta restu dan bibir itu yang mencium pipiku selama 24 tahun ini dengan penuh sayang. Ada sedikit perasaan bersalah mengingat besok aku akan dinikahi oleh orang yang baru kukenal 2 tahun ini. Ibu kira-kira marah nggak kalo aku tinggal? Ibu kecewa nggak kalo aku jarang menemaninya? Ibu sakit hati nggak kalo aku lebih jarang pulang?
Tiba-tiba saja suara piano itu berhenti dan berganti dengan keriuhan semula. Aku langsung menghapus air mata yang tiba-tiba merembes dan berlalu ke kamarku lagi. Tepat saat pintu kamar menutup, ponselku berbunyi, memainkan single Payphone milik Maroon 5.
"Halo?" sapaku sambil menahan tangis.
"Sayang, kamu lagi apa?" ternyata calon suamiku.
"Nggak... apa-apa..." jawabku sedikit tersedak. Aku bener-bener nggak bisa nahan tangis.
"Kamu kepikiran ibu ya?" aku mengangguk lalu buru-buru menjawab 'iya' mengingat dia tidak ada di hadapanku sekarang.
"Insya Allah ibu bakal baik-baik aja. Dia justru bahagia bisa lihat kamu menikah. Jangan nangis dong, masa calon pengantin matanya bengkak? Nanti aku dikira nikah sama panda lagi..." candanya yang membuatku sedikit terhibur dan tertawa kecil di sela tangis.
"Kalo... nanti.... aku kangen ibu,... boleh pulang nggak?" tanyaku.
"Boleh, sayang. Nanti aku sendiri yang anter kamu pulang." jawabnya. Aku menggumamkan terima kasih lalu diam. Hanya sesekali terisak karena tidak tahu harus bicara apa lagi. Calon suamiku masih menyalakan teleponnya, sebelum menyuruhku ke kamar mandi dan mengambil wudhlu.
Jumat, 07 Desember 2012
Ketika Sama-Sama Sulit... (Baca dan Renungkan)
Pernahkah dalam kondisi di mana kamu sedang kesulitan dan butuh uang, sementara temanmu juga mengalami hal yang sama? Saya menyebut kondisi ini sebagai dilemma. Ketika ada orang yang meminta pertolongan kita sementara kita sendiri juga sedang kesulitan.
Sekitar 5 hari yang lalu, ada seorang teman yang meminjam uang ke saya dengan nominal yang lumayan besar. Bukan untuk kebutuhan primer, melainkan untuk kebutuhan skundernya yang juga penting. Sebenernya saya juga sedang membutahkan uang yang dia pinjam. Tapi entah apa yang ada di pikiran saya saat itu, saya langsung meminjamkan saja. Dia mengucapkan terima kasih dan berjanji akan mengembalikannya secepat mungkin.
Tapi setelah itu, jadi hal yang sedikit banyak membuat saya menyesal meminjamkan uang itu. Karena begitu pacar saya tahu, dia marah bukan main. Soalnya kami memang sedang butuh dana lebih untuk pernikahan nanti. Sampai-sampai, dia bilang saya ini pahlawan kesiangan. Kami akhirnya beradu argumen via SMS. That was sucks. Karena seakan-akan saya ini nggak punya otak dan bersikap seolah-olah saya punya segalanya dengan meminjamkan uang yang saya butuhkan. Ketika saya curhat pada seorang teman pun. Kurang lebih mendapatkan jawaban yang sama. Memang nggak se-ekstrim jawaban pacar saya, tapi dia menyesalkan kenapa saya justru dengan mudah mengasihani orang tanpa melihat kondisi diri sendiri?! Saya nggak tahu mesti berargumen apa. Sempat ada bayangan kalau uang yang saya pinjamkan akan lama kembalinya dan merusak rencana-rencana saya. Karena rencana awal, uang itu akan digunakan untuk mengganti uang yang saya pinjam dari ibu ketika mengurus berkas pernikahan.
Di tengah suasana hati yang serba nggak menyenangkan itu, saya teringat beberapa cerita di mana sang tokoh utama yang kesulitan menolong orang lain yang juga sama kesulitannya dengan dia. Misalnya, cerita tentang seorang pelacur yang meninggal hanya gara-gara memberikan air yang dia dapat dengan susah payah kepada seekor anjing. Pelacur dan anjing itu sama-sama makhluk yang dibenci oleh orang-orang di agama kami. Tapi Allah menaikkan derajat si pelacur dan memberinya tempat di surga gara-gara menolong sesama makhlukNya yang kesulitan. Si pelacur bisa saja meminum air itu sendiri dan membiarkan si anjing mati kehausan, toh dia yang susah payah mengambil air itu dari oasis yang hampir kering untuk membasahi tenggorokan.
Manusia adalah makhluk yang egois. Tapi bolehkah kita meng-halal-kan egoisme untuk hal yang mendesak. Mungkin kamu akan bilang, 'saya kerja susah-susah biar dapet uang buat makan. Kamu seenaknya aja minjem!' atau mungkin yang lebih halus 'maaf ya, saya lagi butuh uang itu.'
Entahlah, kayak ada sesuatu yang memberontak di sudut hati saya. Semacam, 'kenapa kamu biarin orang lain makan tempe sementara kamu bisa makan daging?'
Saya mungkin orang yang bodoh soal mendahulukan kepentingan diri sendiri atau orang lain. Tapi, biarlah Sang Pencipta saya yang menilai. Saya hanya berpikir, manusia diturunkan ke dunia untuk saling membantu dalam hal apa pun. Asal nggak melanggar hukum.
Maka saya berdo'a kepada Allah, kalo memang saya sangat bodoh dengan memberi pinjaman orang lain padahal saya sendiri juga butuh, maka saya nggak akan mengulangi lagi.Saya akan mengatakan alasan apa pun supaya orang berhenti meminta belas kasihan saya. Tapi kalau apa yang saya lakukan benar, maka saya minta satu keajaiban saja. Kembalikan uang saya secepatnya.
Saya bukan ahli ibadah atau ahli agama, tapi saya tahu seberapa besar pun dosa seseorang, mereka tetap berhak berdoa dan meminta kepada Tuhannya. Maka keajaiban itu memang terjadi, keesokan harinya uang itu kembali dengan jumlah yang sama saat saya meminjamkan. Saya bersyukur bisa membuktikan keajaiban secepat ini, dan semoga di masa yang akan datang, nggak akan ragu lagi menolong orang. Saya belajar bahwa, sesulit apa pun, manusia masih diberi kemampuan untuk menolong sesama. Dan bayarannya, sangat besar.
Sekitar 5 hari yang lalu, ada seorang teman yang meminjam uang ke saya dengan nominal yang lumayan besar. Bukan untuk kebutuhan primer, melainkan untuk kebutuhan skundernya yang juga penting. Sebenernya saya juga sedang membutahkan uang yang dia pinjam. Tapi entah apa yang ada di pikiran saya saat itu, saya langsung meminjamkan saja. Dia mengucapkan terima kasih dan berjanji akan mengembalikannya secepat mungkin.
Tapi setelah itu, jadi hal yang sedikit banyak membuat saya menyesal meminjamkan uang itu. Karena begitu pacar saya tahu, dia marah bukan main. Soalnya kami memang sedang butuh dana lebih untuk pernikahan nanti. Sampai-sampai, dia bilang saya ini pahlawan kesiangan. Kami akhirnya beradu argumen via SMS. That was sucks. Karena seakan-akan saya ini nggak punya otak dan bersikap seolah-olah saya punya segalanya dengan meminjamkan uang yang saya butuhkan. Ketika saya curhat pada seorang teman pun. Kurang lebih mendapatkan jawaban yang sama. Memang nggak se-ekstrim jawaban pacar saya, tapi dia menyesalkan kenapa saya justru dengan mudah mengasihani orang tanpa melihat kondisi diri sendiri?! Saya nggak tahu mesti berargumen apa. Sempat ada bayangan kalau uang yang saya pinjamkan akan lama kembalinya dan merusak rencana-rencana saya. Karena rencana awal, uang itu akan digunakan untuk mengganti uang yang saya pinjam dari ibu ketika mengurus berkas pernikahan.
Di tengah suasana hati yang serba nggak menyenangkan itu, saya teringat beberapa cerita di mana sang tokoh utama yang kesulitan menolong orang lain yang juga sama kesulitannya dengan dia. Misalnya, cerita tentang seorang pelacur yang meninggal hanya gara-gara memberikan air yang dia dapat dengan susah payah kepada seekor anjing. Pelacur dan anjing itu sama-sama makhluk yang dibenci oleh orang-orang di agama kami. Tapi Allah menaikkan derajat si pelacur dan memberinya tempat di surga gara-gara menolong sesama makhlukNya yang kesulitan. Si pelacur bisa saja meminum air itu sendiri dan membiarkan si anjing mati kehausan, toh dia yang susah payah mengambil air itu dari oasis yang hampir kering untuk membasahi tenggorokan.
Manusia adalah makhluk yang egois. Tapi bolehkah kita meng-halal-kan egoisme untuk hal yang mendesak. Mungkin kamu akan bilang, 'saya kerja susah-susah biar dapet uang buat makan. Kamu seenaknya aja minjem!' atau mungkin yang lebih halus 'maaf ya, saya lagi butuh uang itu.'
Entahlah, kayak ada sesuatu yang memberontak di sudut hati saya. Semacam, 'kenapa kamu biarin orang lain makan tempe sementara kamu bisa makan daging?'
Saya mungkin orang yang bodoh soal mendahulukan kepentingan diri sendiri atau orang lain. Tapi, biarlah Sang Pencipta saya yang menilai. Saya hanya berpikir, manusia diturunkan ke dunia untuk saling membantu dalam hal apa pun. Asal nggak melanggar hukum.
Maka saya berdo'a kepada Allah, kalo memang saya sangat bodoh dengan memberi pinjaman orang lain padahal saya sendiri juga butuh, maka saya nggak akan mengulangi lagi.Saya akan mengatakan alasan apa pun supaya orang berhenti meminta belas kasihan saya. Tapi kalau apa yang saya lakukan benar, maka saya minta satu keajaiban saja. Kembalikan uang saya secepatnya.
Saya bukan ahli ibadah atau ahli agama, tapi saya tahu seberapa besar pun dosa seseorang, mereka tetap berhak berdoa dan meminta kepada Tuhannya. Maka keajaiban itu memang terjadi, keesokan harinya uang itu kembali dengan jumlah yang sama saat saya meminjamkan. Saya bersyukur bisa membuktikan keajaiban secepat ini, dan semoga di masa yang akan datang, nggak akan ragu lagi menolong orang. Saya belajar bahwa, sesulit apa pun, manusia masih diberi kemampuan untuk menolong sesama. Dan bayarannya, sangat besar.
Minggu, 23 September 2012
Suatu Petang Di Taman Dayu...
Hidup ini penuh misteri, penuh kejutan, serba kadang-kadang, dan absurd yang semuanya terangkum dalam satu kata, takdir. Mungkin takdir juga lah yang mempertemukan aku dengan seorang sahabat lama.
Sore menjelang petang adalah waktu yang Tuhan pilih untuk mempertemukan aku dengannya di Food Terrace, sebuah pujasera yang berlokasi di Taman Dayu, tempat hangout paling hip di Pandaan, sebuah pusat industri di Kabupaten Pasuruan tempat aku mencari nafkah.
"Ups, maaf..." gumam seorang perempuan yang nggak sengaja menabrakku.
"Nggak apa-apa." kataku sambil tersenyum sekilas dan berlalu ke meja yang kuincar setelah memesan seporsi nasi bebek dan segelas wedang jahe di salah satu stand. Bersamaan dengan aku duduk, tiba-tiba smartphone-ku berbunyi. Rupanya ada pesan. Segera kuperiksa sambil menunggu pesanan datang. Hmm.... sekalian ber-twitter sepertinya nggak masalah. Pesanannya mungkin agak lama.
"Uhm... maaf mbak, boleh duduk sini?" tegur seseorang.
"Silahkan... lho?" aku tertegun sejenak. Bukan karena orang yang menegurku ini adalah orang yang menabrakku tadi, tapi dia adalah orang yang sudah lama nggak kujumpai. Perempuan itu juga sama-sama kaget.
"Lyla?" tanyaku ragu.
"Iya... kamu... Sessa, bukan?" ia balas bertanya.
"Iya. Subhanallah... apa kabar Lyl?" aku bergegas berdiri dan merangkulnya. Terkejut sekaligus senang dengan pertemuan kami yang tiba-tiba.
"Baik. Alhamdulillah... nggak nyangka ketemu kamu di sini."
"Harusnya aku yang ngomong begitu. Ayo duduk." ajakku, "aku kan emang kerja di kota ini. Sedangkan kamu, bukannya di Bandung? Kok nyasar ke Pandaan?" Lyla tertawa kecil mendengar pertanyaanku.
"Aku kan udah pulang kampung. Masa nggak tau sih?"
"Hahaha... iya, iya. Akunya yang lupa, maklum, udah menuju usia lanjut." ujarku yang diiringi tawa kami bersamaan dengan pesanan yang datang.
Lyla adalah teman sekolahku waktu di Kediri, kota kelahiranku. Kami nggak bisa dibilang dekat, tapi juga nggak terlalu renggang. Berteman biasa. Setahuku memang Lyla tinggal di Bandung setelah menikah dengan seorang pengusaha begitu lulus kuliah. Jadi aku cukup kaget ketika menjumpainya di Pandaan, kota yang setahuku belum pernah ia kunjungi. Sambil menyantap pesanan masing-masing, kami bertukar cerita saat masih SMA dulu. Gimana kabar teman-teman dan apa pekerjaan mereka. Juga keinginan untuk mengadakan reuni.
"Eh iya, gimana kabar anakmu? Siapa ya, namanya?"
"Armand." sahut Lyla.
"Nah, itu. Apa kabarnya? Udah segedhe apa sekarang?" kataku antusias.
Lyla tidak segera menjawab. "aku nggak tau." katanya pelan.
"Kok nggak tau?"
"Yah... dia kan udah punya mama baru. Jadi aku nggak tau kabarnya sekarang." jelas Lyla.
"Kamu divorced ya?" Lyla mengangguk. "sorry."
"It's ok. Aku nggak menyesal kok, Ses. Cuma yang aku sesali, kenapa Armand nggak bisa sama aku. Aku mungkin memang nggak sekaya Daryl, mantan suamiku. Tapi aku masih sanggup memenuhi kebutuhan Armand, bahkan menyekolahkan dia nanti." curhatnya.
Suasana jadi agak murung. Sementara aku melahap suapan terakhir dan Lyla meletakkan sendok. Sepertinya selera makannya lenyap.
"Udahlah, aku nggak pengen ngomongin itu sekarang. Sesekali masih bisa ketemu anakku kok. Lagian sekarang juga, aku udah punya pacar." katanya. Aku tersenyum.
"Ternyata Lyla yang dulu masih ada. Easy go, easy come." kami tertawa menanggapi kata-kataku. "kalo boleh tau, sama siapa nih sekarang? Kalo bisa jangan lama-lama pacarannya."
"Kamu kenal orangnya kok."
"Oh ya? temen kita juga dong?"
"Hm... bisa dibilang begitu."
"Wah, siapa ya? Kenapa main rahasia segala sih?" tanyaku benar-benar penasaran. Lyla tertawa, lalu mengambil smartphone-nya dan mengutak-atik sejenak. Beberapa menit kemudian ia menghadapkan layar smartphone-nya kepadaku. Foto Lyla bersama seorang pria yang wajahnya cukup familiar untukku.
"Ini... bukannya Zacky ya?" tanyaku memastikan. Aku ingat, di SMA dulu kami punya senior bernama Zacky yang sempat berpacaran dengan Lyla. Tadinya kupikir Lyla akan menggeleng, tapi di luar dugaan dia mengangguk dengan tanpa ragu.
"Tapi bukannya Zacky udah married?" tanyaku. Lebih tepatnya menggumam.
"Yup. Begitulah." jawab Lyla ringan seraya mengambil kembali smartphone-nya dari tanganku. "tapi nggak masalah. Dia memang mencintai istrinya. Tapi masih sayang sama aku." lanjutnya sambil tersenyum.
Aku balas tersenyum datar. Senang mengetahui Lyla nggak banyak berubah. Tapi miris kenapa dia harus jadi selingkuhan orang....
"Kamu nggak kasihan sama istrinya?" tanyaku setelah kami saling diam beberapa menit.
Lyla tersenyum kecil. "gimana ya? Istri Zacky, wanita yang baik. Taat sama suami. Sayang, Zacky nggak ada bedanya sama Daryl." katanya datar. Tapi suaranya terdengar muram. Aku menunggunya bicara lagi. "Olivia, istri Daryl yang sekarang, dulu posisinya sama kayak aku. She's a lucky woman. Setidaknya Daryl menikahinya. Sedangkan aku... hmh... mungkin bakal jadi pacar gelap Zacky terus." jelasnya yang disusul tawa hambar.
"Aku becanda kok, Ses. Tentu aja one day aku pengen punya suami yang bukan suami orang dan mau membimbing aku." katanya dengan nada ceria dan optimis. Tapi aku nggak yakin dia seoptimis itu. Aku ikut tersenyum. Bingung harus gimana sebenernya...
Lima menit kemudian Lyla pamit. Dia harus ke Surabaya untuk mengurus bisnis barunya. Aku dengan tulus memberikan support-ku untuk yang satu ini dan memeluknya sebelum dia berlalu menuju mobilnya. Aku masih duduk di meja dan menatap kosong pada tumpukan tulang dan mentimun di piring, lalu mengambil smartphone-ku dan mencari nama seseorang di buku telepon.
Nada sambung terdengar sebelum kemudian seseorang berkata,
"Halo, sayang..."
"Assalamu'alaikum, honey."
"Wa'alaikumussalam... tumben kamu telepon?" katanya lembut.
"Kamu sayang aku kan?" tanyaku tanpa basa-basi.
Sunyi. Tapi selanjutnya aku mendengar dengan sangat jelas dan tidak perlu merasa khawatir lagi.
"Aku sayang kamu kemarin, hari ini, besok dan seterusnya meskipun kamu nggak tanya dan nggak mau tahu."
Aku tersenyum, bersamaan dengan gerimis yang membasahi bumi Pandaan..
--End--
Sore menjelang petang adalah waktu yang Tuhan pilih untuk mempertemukan aku dengannya di Food Terrace, sebuah pujasera yang berlokasi di Taman Dayu, tempat hangout paling hip di Pandaan, sebuah pusat industri di Kabupaten Pasuruan tempat aku mencari nafkah.
"Ups, maaf..." gumam seorang perempuan yang nggak sengaja menabrakku.
"Nggak apa-apa." kataku sambil tersenyum sekilas dan berlalu ke meja yang kuincar setelah memesan seporsi nasi bebek dan segelas wedang jahe di salah satu stand. Bersamaan dengan aku duduk, tiba-tiba smartphone-ku berbunyi. Rupanya ada pesan. Segera kuperiksa sambil menunggu pesanan datang. Hmm.... sekalian ber-twitter sepertinya nggak masalah. Pesanannya mungkin agak lama.
"Uhm... maaf mbak, boleh duduk sini?" tegur seseorang.
"Silahkan... lho?" aku tertegun sejenak. Bukan karena orang yang menegurku ini adalah orang yang menabrakku tadi, tapi dia adalah orang yang sudah lama nggak kujumpai. Perempuan itu juga sama-sama kaget.
"Lyla?" tanyaku ragu.
"Iya... kamu... Sessa, bukan?" ia balas bertanya.
"Iya. Subhanallah... apa kabar Lyl?" aku bergegas berdiri dan merangkulnya. Terkejut sekaligus senang dengan pertemuan kami yang tiba-tiba.
"Baik. Alhamdulillah... nggak nyangka ketemu kamu di sini."
"Harusnya aku yang ngomong begitu. Ayo duduk." ajakku, "aku kan emang kerja di kota ini. Sedangkan kamu, bukannya di Bandung? Kok nyasar ke Pandaan?" Lyla tertawa kecil mendengar pertanyaanku.
"Aku kan udah pulang kampung. Masa nggak tau sih?"
"Hahaha... iya, iya. Akunya yang lupa, maklum, udah menuju usia lanjut." ujarku yang diiringi tawa kami bersamaan dengan pesanan yang datang.
Lyla adalah teman sekolahku waktu di Kediri, kota kelahiranku. Kami nggak bisa dibilang dekat, tapi juga nggak terlalu renggang. Berteman biasa. Setahuku memang Lyla tinggal di Bandung setelah menikah dengan seorang pengusaha begitu lulus kuliah. Jadi aku cukup kaget ketika menjumpainya di Pandaan, kota yang setahuku belum pernah ia kunjungi. Sambil menyantap pesanan masing-masing, kami bertukar cerita saat masih SMA dulu. Gimana kabar teman-teman dan apa pekerjaan mereka. Juga keinginan untuk mengadakan reuni.
"Eh iya, gimana kabar anakmu? Siapa ya, namanya?"
"Armand." sahut Lyla.
"Nah, itu. Apa kabarnya? Udah segedhe apa sekarang?" kataku antusias.
Lyla tidak segera menjawab. "aku nggak tau." katanya pelan.
"Kok nggak tau?"
"Yah... dia kan udah punya mama baru. Jadi aku nggak tau kabarnya sekarang." jelas Lyla.
"Kamu divorced ya?" Lyla mengangguk. "sorry."
"It's ok. Aku nggak menyesal kok, Ses. Cuma yang aku sesali, kenapa Armand nggak bisa sama aku. Aku mungkin memang nggak sekaya Daryl, mantan suamiku. Tapi aku masih sanggup memenuhi kebutuhan Armand, bahkan menyekolahkan dia nanti." curhatnya.
Suasana jadi agak murung. Sementara aku melahap suapan terakhir dan Lyla meletakkan sendok. Sepertinya selera makannya lenyap.
"Udahlah, aku nggak pengen ngomongin itu sekarang. Sesekali masih bisa ketemu anakku kok. Lagian sekarang juga, aku udah punya pacar." katanya. Aku tersenyum.
"Ternyata Lyla yang dulu masih ada. Easy go, easy come." kami tertawa menanggapi kata-kataku. "kalo boleh tau, sama siapa nih sekarang? Kalo bisa jangan lama-lama pacarannya."
"Kamu kenal orangnya kok."
"Oh ya? temen kita juga dong?"
"Hm... bisa dibilang begitu."
"Wah, siapa ya? Kenapa main rahasia segala sih?" tanyaku benar-benar penasaran. Lyla tertawa, lalu mengambil smartphone-nya dan mengutak-atik sejenak. Beberapa menit kemudian ia menghadapkan layar smartphone-nya kepadaku. Foto Lyla bersama seorang pria yang wajahnya cukup familiar untukku.
"Ini... bukannya Zacky ya?" tanyaku memastikan. Aku ingat, di SMA dulu kami punya senior bernama Zacky yang sempat berpacaran dengan Lyla. Tadinya kupikir Lyla akan menggeleng, tapi di luar dugaan dia mengangguk dengan tanpa ragu.
"Tapi bukannya Zacky udah married?" tanyaku. Lebih tepatnya menggumam.
"Yup. Begitulah." jawab Lyla ringan seraya mengambil kembali smartphone-nya dari tanganku. "tapi nggak masalah. Dia memang mencintai istrinya. Tapi masih sayang sama aku." lanjutnya sambil tersenyum.
Aku balas tersenyum datar. Senang mengetahui Lyla nggak banyak berubah. Tapi miris kenapa dia harus jadi selingkuhan orang....
"Kamu nggak kasihan sama istrinya?" tanyaku setelah kami saling diam beberapa menit.
Lyla tersenyum kecil. "gimana ya? Istri Zacky, wanita yang baik. Taat sama suami. Sayang, Zacky nggak ada bedanya sama Daryl." katanya datar. Tapi suaranya terdengar muram. Aku menunggunya bicara lagi. "Olivia, istri Daryl yang sekarang, dulu posisinya sama kayak aku. She's a lucky woman. Setidaknya Daryl menikahinya. Sedangkan aku... hmh... mungkin bakal jadi pacar gelap Zacky terus." jelasnya yang disusul tawa hambar.
"Aku becanda kok, Ses. Tentu aja one day aku pengen punya suami yang bukan suami orang dan mau membimbing aku." katanya dengan nada ceria dan optimis. Tapi aku nggak yakin dia seoptimis itu. Aku ikut tersenyum. Bingung harus gimana sebenernya...
Lima menit kemudian Lyla pamit. Dia harus ke Surabaya untuk mengurus bisnis barunya. Aku dengan tulus memberikan support-ku untuk yang satu ini dan memeluknya sebelum dia berlalu menuju mobilnya. Aku masih duduk di meja dan menatap kosong pada tumpukan tulang dan mentimun di piring, lalu mengambil smartphone-ku dan mencari nama seseorang di buku telepon.
Nada sambung terdengar sebelum kemudian seseorang berkata,
"Halo, sayang..."
"Assalamu'alaikum, honey."
"Wa'alaikumussalam... tumben kamu telepon?" katanya lembut.
"Kamu sayang aku kan?" tanyaku tanpa basa-basi.
Sunyi. Tapi selanjutnya aku mendengar dengan sangat jelas dan tidak perlu merasa khawatir lagi.
"Aku sayang kamu kemarin, hari ini, besok dan seterusnya meskipun kamu nggak tanya dan nggak mau tahu."
Aku tersenyum, bersamaan dengan gerimis yang membasahi bumi Pandaan..
--End--
Rabu, 05 September 2012
Mengaplikasikan Cinta
Judulnya mungkin sedikit membuat kita mengerutkan kening. Tapi inilah yang saya ingin share dengan siapa pun yang mengunjungi blog saya. Mengaplikasikan Cinta. Bagaimana cara menerapkan cinta dalam hidup kita. Saya mungkin akan berbicara di posisi orang yang sedang menjalin hubungan. Tapi buat yang sendiri pun nggak dilarang untuk membaca posting kali ini.
Intinya adalah, seperti judulnya, mengaplikasikan cinta. Saya baru saja mendapat 'nasihat' dari seseorang tentang pernikahan. Membuat komitmen. Semacam itulah. Dan terpikir untuk menuangkannya lewat catatan di blog. Saya memberi tanda kutip karena saya pikir, saya agak defensif ketika mendengarkannya. Sehingga menurut saya itu bukan sepenuhnya nasihat. Karena sedikit seperti melarang saya. Well, saya bukannya menganggap kalau nasihatnya buruk, justru isi nasihatnya harus didengar oleh siapa pun yang jarang menggunakan logika dalam menjalin hubungan.
Orang ini menasihati saya supaya jangan terburu-buru membuat keputusan untuk melangkah lebih jauh dalam menjalin hubungan. Dia melarang saya untuk mengandalkan emosi ketika membuat keputusan karena itulah karakter asli saya sebagai perempuan. Dikhawatirkan saya akan membuat kesalahan yang akan saya sesali seumur hidup. Tidak hanya itu, seakan tersirat kalau pernikahan atau hubungan macam apa pun, seperti persahabatan, keluarga dan lain-lain, nggak cukup kalau hanya didasarkan pada cinta. We are in a real world, di mana yang ada hanya kenyataan dan bukan dongeng yang serba indah. Tentu logika dibuthkan di sini.
Sebuah pernikahan memang tidak melulu didasari oleh cinta. Saya setuju soal itu. Kita juga butuh yang namanya kepercayaan, komunikasi, dan komitmen. Artinya, kita harus yakin dengan pilihan kita. Dan kita mesti siap dengan segala resikonya. Masalahnya, kita juga harus melihat sisi luar dari seseorang. Tidak bisa dipungkiri memang, jika materi juga berperan. Kita butuh pekerjaan tetap yang bagus dan menghasilkan cukup banyak uang. Semata-mata untuk bertahan hidup, sekolah dan berlibur. Tapi tidak pernahkah kita berpikir untuk memasukkan ibadah juga? Well, you can say ibadah itu nggak harus shalat atau misa di gereja. Bentuknya bisa macam-macam. Benar. Tapi pernahkah berpikir atas dasar apa kamu melakukan itu semua?
Saya masih percaya kalau faktor cinta berperan di sini. Sangat wajib mereka ada. Dan saya kurang setuju dengan pendapat kalau cinta nggak akan bisa bikin kita kenyang atau mendapat pendidikan tinggi. Sebenarnya salah.
Yang salah adalah bagaimana kita memahami dan mengaplikasikan cinta itu sendiri. Ada seorang teman yang pernah mengatakan, di tahun pertama pernikahan seseorang, mereka cuma memikirkan sex and how to have fun with it. Hahaha... jangan berpikir saya porno atau ngeres. Kita sama-sama dewasa dan saya pikir wajar kalau bicara topik seperti ini secara blak-blakan. Back to the topic, saya pikir benar juga. Seperti pacaran, di awal-awal kemesraan itu jadi hal yang penting dan menggebu-gebu buat pasangan yang menjalin hubungan. But next, what else? Sebuah pernikahan bukanlah akhir, melainkan awal masalah. Yes, i told you that.
Begini, kamu dan pasanganmu menikah, you both happy at the first time. Bahagianya dalam artian lebih ke emosi, karena sudah menyatu dalam ikatan resmi dan suci -bahasa saya agak lebay- tapi kemudian, pasti ada hal-hal yang nggak bisa kita hindari. Kebutuhan sehari-hari yang harus terpenuhi, perbedaan-perbedaan antara kita dan pasangan, sampai ketika sudah memiliki anak. Kita harus memenuhi kebutuhan mereka juga kan? Masa depan mereka yang harus dipersiapkan sedini mungkin.
Buat para perempuan mungkin gampang saja, tinggal cari laki-laki yang memiliki pekerjaan tetap, posisi bagus di perusahaan, baik dan tampan. Faktor terakhir masih jadi prioritas sih, kadang-kadang. Tapi buat para laki-laki, mereka yang nantinya akan jadi tulang punggung keluarga, nggak bisa diatasi dengan cara mencari perempuan kaya atau punya karier bagus. Mereka harus bekerja keras.
Tapi saya berpikir lagi, apakah semudah itu dalam prakteknya? Absolutely not. Tapi bisa jadi gampang kalo kita punya faktornya. Faktor yang saya maksud tentu saja cinta. Jika kamu cinta sama pacarmu, kamu akan berusaha menikahinya, setelah menikah kamu akan bekerja keras mencari uang supaya dia nggak kelaparan, kamu akan membangun rumah supaya dia nggak kedinginan dan kamu akan berusaha memberikan masa depan yang terbaik buat anak kalian. Maka, nggak salah kalau Rossa punya lagu 'Atas Nama Cinta'. Karena semua tindakan kita pasti didasari oleh cinta. Kecuali tindakan kriminal. Sekarang bukan faktornya yang harus kita pikirkan, tapi bagaimana menerapkannya. Kalau kamu cinta sama pacar, istri, suami, anak, keluarga, atau sahabatmu, apa yang akan kamu lakukan biar mereka bahagia?
Intinya adalah, seperti judulnya, mengaplikasikan cinta. Saya baru saja mendapat 'nasihat' dari seseorang tentang pernikahan. Membuat komitmen. Semacam itulah. Dan terpikir untuk menuangkannya lewat catatan di blog. Saya memberi tanda kutip karena saya pikir, saya agak defensif ketika mendengarkannya. Sehingga menurut saya itu bukan sepenuhnya nasihat. Karena sedikit seperti melarang saya. Well, saya bukannya menganggap kalau nasihatnya buruk, justru isi nasihatnya harus didengar oleh siapa pun yang jarang menggunakan logika dalam menjalin hubungan.
Orang ini menasihati saya supaya jangan terburu-buru membuat keputusan untuk melangkah lebih jauh dalam menjalin hubungan. Dia melarang saya untuk mengandalkan emosi ketika membuat keputusan karena itulah karakter asli saya sebagai perempuan. Dikhawatirkan saya akan membuat kesalahan yang akan saya sesali seumur hidup. Tidak hanya itu, seakan tersirat kalau pernikahan atau hubungan macam apa pun, seperti persahabatan, keluarga dan lain-lain, nggak cukup kalau hanya didasarkan pada cinta. We are in a real world, di mana yang ada hanya kenyataan dan bukan dongeng yang serba indah. Tentu logika dibuthkan di sini.
Sebuah pernikahan memang tidak melulu didasari oleh cinta. Saya setuju soal itu. Kita juga butuh yang namanya kepercayaan, komunikasi, dan komitmen. Artinya, kita harus yakin dengan pilihan kita. Dan kita mesti siap dengan segala resikonya. Masalahnya, kita juga harus melihat sisi luar dari seseorang. Tidak bisa dipungkiri memang, jika materi juga berperan. Kita butuh pekerjaan tetap yang bagus dan menghasilkan cukup banyak uang. Semata-mata untuk bertahan hidup, sekolah dan berlibur. Tapi tidak pernahkah kita berpikir untuk memasukkan ibadah juga? Well, you can say ibadah itu nggak harus shalat atau misa di gereja. Bentuknya bisa macam-macam. Benar. Tapi pernahkah berpikir atas dasar apa kamu melakukan itu semua?
Saya masih percaya kalau faktor cinta berperan di sini. Sangat wajib mereka ada. Dan saya kurang setuju dengan pendapat kalau cinta nggak akan bisa bikin kita kenyang atau mendapat pendidikan tinggi. Sebenarnya salah.
Yang salah adalah bagaimana kita memahami dan mengaplikasikan cinta itu sendiri. Ada seorang teman yang pernah mengatakan, di tahun pertama pernikahan seseorang, mereka cuma memikirkan sex and how to have fun with it. Hahaha... jangan berpikir saya porno atau ngeres. Kita sama-sama dewasa dan saya pikir wajar kalau bicara topik seperti ini secara blak-blakan. Back to the topic, saya pikir benar juga. Seperti pacaran, di awal-awal kemesraan itu jadi hal yang penting dan menggebu-gebu buat pasangan yang menjalin hubungan. But next, what else? Sebuah pernikahan bukanlah akhir, melainkan awal masalah. Yes, i told you that.
Begini, kamu dan pasanganmu menikah, you both happy at the first time. Bahagianya dalam artian lebih ke emosi, karena sudah menyatu dalam ikatan resmi dan suci -bahasa saya agak lebay- tapi kemudian, pasti ada hal-hal yang nggak bisa kita hindari. Kebutuhan sehari-hari yang harus terpenuhi, perbedaan-perbedaan antara kita dan pasangan, sampai ketika sudah memiliki anak. Kita harus memenuhi kebutuhan mereka juga kan? Masa depan mereka yang harus dipersiapkan sedini mungkin.
Buat para perempuan mungkin gampang saja, tinggal cari laki-laki yang memiliki pekerjaan tetap, posisi bagus di perusahaan, baik dan tampan. Faktor terakhir masih jadi prioritas sih, kadang-kadang. Tapi buat para laki-laki, mereka yang nantinya akan jadi tulang punggung keluarga, nggak bisa diatasi dengan cara mencari perempuan kaya atau punya karier bagus. Mereka harus bekerja keras.
Tapi saya berpikir lagi, apakah semudah itu dalam prakteknya? Absolutely not. Tapi bisa jadi gampang kalo kita punya faktornya. Faktor yang saya maksud tentu saja cinta. Jika kamu cinta sama pacarmu, kamu akan berusaha menikahinya, setelah menikah kamu akan bekerja keras mencari uang supaya dia nggak kelaparan, kamu akan membangun rumah supaya dia nggak kedinginan dan kamu akan berusaha memberikan masa depan yang terbaik buat anak kalian. Maka, nggak salah kalau Rossa punya lagu 'Atas Nama Cinta'. Karena semua tindakan kita pasti didasari oleh cinta. Kecuali tindakan kriminal. Sekarang bukan faktornya yang harus kita pikirkan, tapi bagaimana menerapkannya. Kalau kamu cinta sama pacar, istri, suami, anak, keluarga, atau sahabatmu, apa yang akan kamu lakukan biar mereka bahagia?
Langganan:
Postingan (Atom)
