Selasa, 17 Februari 2015

Angel Bab 2 (Part 1)

Lanjutan Bab 1 (Part 3)

"SENDIRI DULU?!" Tanya Dewi dengan suara penuh penekanan tajam. Rika melihat bingung antara Dewi dan Dhani secara bergantian.
"Dew, aku..."
Dewi menyentak tangan Dhani dari tangannya. Ia lalu bergegas menuju pantry diiringi suara Rika yang manja dan terkesan polos.
"Kamu kenal dia, babe?"
Eukh.... rasanya Dewi ingin muntah saat itu juga. Berhari-hari tanpa kabar, begitu ketemu minta putus, dan belum lima menit mereka putus seorang perempuan yang selalu terlihat cute memanggil babe kepada mantan pacarnya. Kenapa nggak sekalian aja mereka nikah di depanku? rutuk Dewi dalam hati.

Dewi menghempaskan badannya di bangku ruang locker karyawan. Gumpalan dalam dadanya sekarang keluar berupa air mata. Dewi menangis sendirian dalam ruang locker tanpa suara. Entah kenapa ia tiba-tiba teringat saat Diana, adiknya, saat baru putus dan ia meledeknya. Ia berkata tidak seharusnya Diana menangisi cowok yang cuma main-main. Harusnya ia lega karena sudah terbebas dari cowok seperti itu. Dewi pun sempat sesumbar jika dia tidak akan menangis jika putus. Kalau cerai, mungkin saja. Tapi kenyataannya, justru dia sesenggukan sendiri tanpa ada siapa pun yang menenangkannya. Jadi ini yang dirasakan Diana waktu putus.

Sekarang apa? Apa ia harus resign dari Fishbone untuk menghindari pertemuan dengan Dhani atau ia tetap bertahan untuk menunjukkan kepada siapa pun, terutama Dhani bahwa ia tegar, baik-baik saja. Dua-duanya pilihan yang berat. Faktanya ia tidak setegar itu. Dewi kembali menangis. Ia tidak peduli jika nanti supervisor memanggilnya dan memberi surat peringatan. Surat pemecatan sepertinya lebih bagus. Atau sekalian saja Tuhan mencabut nyawanya saat ini juga supaya dia tidak merasa tertekan saat bertemu Dhani.

Dewi menghapus air matanya. Kenapa saya, Allah? Dan kenapa saya harus sesedih ini? Dhani mungkin bukan yang terbaik, jadi tolong hentikan air mata saya. Tapi dia kembali menangis. Sedetik kemudian dia mengambil tas dan jaket. Dia tidak peduli shift-nya masih lama, dia hanya ingin pulang sekarang. Besok dia siap menghadap supervisor atau bahkan Rosaline sekali pun. Dewi memakai jaketnya sambil sesenggukan lalu berjalan cepat keluar restoran saat ponselnya berbunyi.

"Halo?" sapanya dengan suara bergetar.
"Hai, Dew. Kemarin kakakku pulang dari Solo bawain baju batik buat kamu. Bagus deh. Sepasang lho. Bisa kamu pake kembaran sama Dhani. Nanti aku bawain ya...." air mata Dewi mengucur makin deras. Suara Risa yang ceria kabur. Dia tiba-tiba saja tidak menangkap apa yang ia katakan. Dia butuh Risa. Dia ingin bicara dengan sahabatnya itu saat ini juga. Kenapa sih Risa mesti pulang ke Blitar di saat seperti ini? Kenapa Allah suka sekali melihat dia menderita?
"Halo, Dew? kamu nangis?" Dewi hanya menjawabnya dengan senggukan. Hanya itu yang bisa dia katakan sekarang. Mungkin Risa baru menyadari kalau Dewi menjawab setiap kalimatnya dengan senggukan.
"Kamu nangis kenapa Dew? Cerita dong sama aku. Siapa yang udah bikin gara-gara sama kamu? Jangan bilang Dhani ya?! Kalo sampe dia..."
BRAAKKKK!!!
Risa tersentak saat mendengar suara benturan di telinganya.
"Ha... halo, Dew?" Tidak ada jawaban. Bahkan senggukan seperti yang baru saja ia dengar. Malah suara dengung panjang yang menandakan komunikasi mereka putus yang tertangkap telinganya.
Perasaan cemas tiba-tiba menyergapnya. Risa takut sesuatu yang buruk terjadi pada Dewi. Ia buru-buru lari ke kamarnya.
"Hei, ati-ati dong." gerutu kakaknya yang hampir ia tabrak.
***

Diana sedang menyiapakan cemilan sore saat ponselnya berdering.
"Halo?... Iya, saya Diana. Adiknya..." Diana mendengarkan suara orang yang meneleponnya, kemudian mendadak seluruh tenaganya habis. Ia buru-buru berpegang pada tepian meja.
"Bu..." panggil Diana. Suaranya nyaris tak terdengar tapi anehnya ibu menjawab panggilannya.
"Kenapa Di? Lho, kamu ngapain duduk di lantai?" Diana memandang ibunya dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca.
"Mbak Dewi..." jawabnya dengan suara tercekat.
Tiba-tiba perasaan ibunya tidak enak.
***

Jam 6 petang tepat saat Risa turun dari bus yang ditumpanginya dari Blitar. Ia lalu menumpang becak menuju Fishbone. Perasaannya campur aduk membayangkan yang tidak-tidak terjadi pada Dewi. Sahabatnya itu tidak mungkin menangis sampai tidak bisa bicara kalau tidak ada sesuatu yang memukul telak perasaanya. Dewi adalah pribadi yang sangat sensitif dan lugu. Risa pernah mengatakan padanya untuk tidak terlalu memikirkan apa kata orang dan lebih berani. Tapi sepertinya terlalu sulit bagi Dewi untuk melakukannya.
"Terima kasih, Pak." ujar Risa saat membayar ongkos becak. Ia bergegas menuju Fishbone yang lumayan ramai. Didorongnya pintu kaca lalu menuju kasir.
"Wulan, mana Dewi?"
"Lho, kamu bukannya cuti Ris?" tanya Wulan balik.
"Nggak usah dipikirin. Sekarang mana Dewi?"
Wulan baru akan menjawab tepat saat ponsel Risa berbunyi.
"Halo?"
"Mbak Risa. Ini Diana, mbak?"
"Eh, Di. Kenapa?"
Bukannya menjawab, Diana malah menangis. Risa mengerutkan kening. Kenapa semua orang yang dihubunginya menangis si? Oke, nggak semua. Cuma dua. Dewi dan Diana, adiknya. Tapi masalahnya Risa nggak bisa menerjemahkan tangisan seseorang.
Diana masih menangis beberapa saat. Lalu dengan terbata-bata ia bercerita. Dewi mengalami kecelakaan lalu lintas saat pulang kerja. Untungnya si penabrak bertanggung jawab dan bersedia menanggung semua biaya pengobatan sampai sembuh. Tapi berdasarkan diagnosa dokter, Dewi mungkin akan koma dalam beberapa waktu karena mengalami trauma yang sangat hebat.
Tanpa membalas sedikit pun apa yang disampaikan Diana, Risa memutuskan sambungan. Ia berharap Diana mengerti, ia terlalu shock untuk menjawab.
"Ris, kenapa? Itu tadi adiknya Dewi kan? Dewi kenapa?" Berondong Wulan dengan raut khawatir.
"Lan, Dewi itu orangnya ati-ati banget kan? Kamu pasti tau apa yang bikin dia ceroboh sampe sekarang... dia di rumah sakit." Risa tidak sanggup dan bakan ragu saat akan mengatakan jika Dewi koma.
"Dewi di rumah sakit? Jangan becanda kamu."
"Diana yang barusan kasih tau sampe nangis-nangis. Kamu seharian di sini kan? Sekarang jelasin."
Wulan menghela napas sejenak. Ia lalu bercerita tentang cewek 'Korea' yang siang tadi datang ke Fishbone, pembicaraan pribadi Dhani dan Dewi, sampai Dewi yang berteriak di depan Dhani dan menangis di belakang. Wulan tidak tahu jika Dewi akirnya pulang lalu mengalami kecelakaan dan sekarang di rumah sakit.
Risa mengepalkan tinjunya di atas meja kasir.
"Kampret tuh si Dhani!" umpatnya. Wulan menggamit lengannya dan menunjuk ke belakang Risa dengan dagu. Risa menolah dan seketika hatinya mendidih saat melihat siapa yang ditunjuk Wulan.
"Dhani!"
Dhani yang sudah membuka pintu, dan semua orang di restaurant menoleh ke arah suara yang meneriaakan namanya bersamaan dengan bogem mentah yang mendarat mulus di wajahnya.
"Ya ampun! Baby...!!" teriak Rika histeris.
"Diem kamu, perek! Baby, baby....! Babi yang bener!"
"Ris... udah Ris. Nanti kamu bisa dipecat." Wulan buru-buru menahan tangan Risa yang siap melancarkan tinju kedua. Sementara Rika menangis tersedu-sedu di sebelah Dhani.
"Bodo amat! Mending jadi pengangguran daripada kacung babi kayak dia!"
"Risa!"
Keempatnya menoleh. Begitu juga dengan semua orang di ruangan itu. Rosaline menyilangkan kedua tangannya.
"Ke ruangan saya." katanya singkat, lalu menuju ruang manajerial. "liat apa? Semuanya kembali kerja. Layani para tamu." Ia menarik salah satu pelayan yang dilewatinya. "bilang Pak Braham, kasih semua tamu malam ini seporsi tom yam sebagai compliment dari Fishbone."
"Siap bu."

Bersambung.....

Kamis, 31 Juli 2014

Angel (Bab I Part 3)

Udah baca Angel (Bab I Part 2) kan? Silahkan baca lanjutannya... :)

"Meja 14!" seru Layla dari balik counter. Dewi segera mengambil nampan berisi dua porsi gurami bakar yang masih hangat dan mengantarkannya ke meja yang dimaksud. Risa menyusul di belakangnya dengan jus tomat dan teh hijau pesanan meja yang sama.

Fishbone di hari libur, hari sibuk untuk semua staff-nya. Entah kenapa resto ini jadi tujuan favorit hampir semua orang. Sepertinya harga yang lumayan menguras kantong tidak menjadi masalah. Yah, setidaknya ini menjadi alasan senyum lebar di wajah Rosalin yang tidak luntur sejak jam 9 pagi tadi. Sama seperti Dewi yang sudah mulai capek tapi belum memiliki kesempatan untuk istirahat. Semua orang tidak bisa istirahat. Begitu satu meja kosong, langsung terisi oleh pengunjung baru. Dewi melirik jam tangannya yang sudah ganti baterai. Jam 1 siang. Berarti dia sudah wara-wiri selama 4 jam. Hebat, untung saja nggak pingsan. Tapi kakinya mulai pegal. Dia bertanya-tanya apa Rosalin nggak merasa lelah seperti dirinya kalau terus bekerja selama 4 jam? Tapi mungkin nggak, mengingat manajer-nya itu hanya duduk sepanjang waktu di ruangannya yang sejuk dengan berbagai gadget yang terus terkoneksi dengan klien dan bukan di dapur bergelut dengan bau amis sea food.

Seruan staff dapur yang menyatu dengan riuh pengunjung dan denting alat makan lama kelamaan membuat Dewi pusing. Dia mendorong troley yang penuh peralatan makan kotor ke dapur.
"Pak, saya minta ijin istirahat bentar ya." katanya pada Rafi, lelaki perusia 45 tahun yang menjadi supervisor bagian dapur.
"Kamu sakit Dew?" tanya Rafi.
"Nggak pak. Cuma capek. Dan lagi, ini sudah lewat jam makan siang. Apa nggak sebaiknya sebagian dari kami istirahat?" usul Dewi. Rafi melihat ke ruang restaurant. Para waiters masih sibuk melayani para pengunjung yang seolah tidak habis dengan wajah seramah mungkin. Tapi siapa pun tahu kalau mereka sudah kelelahan.
"Oke, kamu istirahat dulu. Saya akan minta sebagian untuk makan siang juga." jawab Rafi.
Dewi mengucapkan terima kasih dengan wajah lega sebelum melepas sepatunya dan berjalan ke ruang ganti untuk istirahat. Tiba-tiba Ragil, salah seorang staff dapur memanggilnya.
"Ya?" jawab Dewi.
"Gua tadi bikin udang saus Inggris kebanyakan. Daripada ketahuan Pak Braham trus dimarahin, nih lo makan deh."
"Wah, makasih ya." kata Dewi sambil menerima lunch box yang diberikan Ragil.
Sambil  menikmati udang, Dewi membuka handphone yang sejak tadi nggak disentuhnya. Hm, tumben dia belum sms? Batin Dewi.Sejak kejadian di mobil itu, Dewi memang agak menjaga jarak dengan Dhani. Ia ingin pacarnya itu mengerti bahwa hal-hal intimate bukanlah yang ia kejar dari hubungan mereka. Tapi…. Apa ya? Dewi tercenung. Garpunya berhenti di udara. Ya, apa yang ia cari dari sosok Dhani? Apakah Dhani sudah memenuhi kriteria suami idamannya? Mengapa ia menerima Dhani sebagai pacar? Bukankah yang ia cari seharusnya pendamping hidup di usianya yang sekarang?

“Hei, ngelamun aja?” Risa menepuk pundaknya pelan. Dewi hanya tersenyum kecil. “Dhani jarang ke sini Dew?”
“Katanya lagi banyak tugas. Maklumlah, udah mau skripsi.” Risa tertawa mendengar jawaban Dewi.
“Aku juga pernah kuliah Dew, ya meskipun nggak sampe jadi sarjana. Tapi sesibuk-sibuknya orang, apalagi mau skripsi. Dia pasti nyempetin lah kalo buat pacar. Kamu yakin dia nggak punya cewek lain?”
“Apa sih?” sahut Dewi.
“Ih, serius ini. Biasanya cowok kalo udah mulai jarang hubungi kita atau datengin kita. Itu artinya dia bosen atau yang lebih parah, punya cewek lain.” Ucap Risa dengan wajah serius lalu sibuk dengan makan siangnya. Sementara Dewi tercenung. Apa iya? Ah, tapi Dhani bukan tipe laki-laki seperti itu. Atau mungkin hanya setahu Dewi ia tidak seperti itu. Kalau mereka lagi nggak berdua kan siapa yang tahu?
***
Nanti aku ke Fish Bone jam 1.

Itu saja yang dikatakan Dhani dalam SMS yang diterima Dewi pagi itu. Setelah menghilang tanpa kabar selama dua minggu –sampai Dewi hampir lupa kalau ia punya pacar- akhirnya Dhani muncul kembali. Lewat SMS. Dewi tersenyum kecut. Yah, setidaknya dia masih ingat dengan pacarnya.
Hari ini Risa nggak masuk. Dia harus mengunjungi Mamanya di Blitar. Dewi jadi agak kesepian, karena dari semua waitress di Fish Bone, dia paling akrab dengan Risa. Huh, kali lain aku akan coba ngobrol dengan yang lain. Batin Dewi bersamaan dengan denting bel pintu restaurant. Seorang perempuan muda berusia awal 20-an melangkah masuk. Dewi menebak dia pasti seorang pengeemar drama Korea. Dari mulai baju, sepatu, tas, bahkan ekspresi wajahnya saat mencari meja sangat negeri ginseng. Dewi lalu mendatangi perempuan itu dengan membawa daftar menu saat si perempuan ‘Korea’ itu menempati meja di dekat kasir.
“Selamat siang. Selamat datang di Fish Bone. Mau pesan apa mbak?” kata Dewi dengan ramah. Perempuan itu menerima buku menu yang ia sodorkan sambil tersenyum.
“Ehm… saya baru kali ini ke sini mbak. Yang special apa ya?” Tanya perempuan ‘Korea’ itu.
“ Oh, banyak mbak.”
“Jangan panggil mbak lah.” Sahut perempuan itu. “panggil aja Rika.”
“Baik mbak. Eh, maksud saya Rika.” Mereka berdua tertawa kecil, lalu Dewi melanjutkan, “kita ada Dori steak with oriental sauce. Trus juga ada Grilled Lobster with Brown Sauce and Potato. Nah, yang ini baru dari kami mbak, eh, Rik, Traditional Bandeng Steak.” Tutup Dewi.
“Wah, mbak cocok lho jadi marketing. Kenapa justru jadi waitress?” komentar Rika. Dewi tertawa kecil.
“Takdir kali ya, Rik. Jadi mau pesan yang mana?”
Rika mebolak-balik buku menu di tangannya. “Sebenernya saya nggak terlalu laper. Tapi Dori Steak ini kayaknya enak. Saya pesen ya. Sama lemon squash nggak pake gula.” Katanya.
“Baik. Silahkan ditunggu. Nanti kalau perlu bantuan bisa dengan saya, Dewi. Atau rekan yang lain.”
Dewi menggantungkan menu di counter lalu membunyikan bel bersamaan dengan bel pintu berbunyi pelan. Ah, tumben hari ini rame? Dewi tersenyum kecil dan bersiap menyambut tamu selanjutnya. Senyumnya makin lebar saat ia mengetahui siapa si tamu. Dhani. Laki-laki yang sulit dihubunginya dan membuatnya khawatir akhir-akhir ini.
“Dhani…” Dewi menghambur memeluk kekasihnya. Dhani sedikit terkejut namun balas memeluk Dewi .
“Kamu ke mana aja sih? Aku udah kirim SMS berkali-kali, telepon, WA, semua nggak dijawab.” Tanya Dewi dengan nada kesal campur rindu.
“Maaf Dew, kan aku udah bilang kalo lagi ngerjakan skripsi.” Jawab Dhani. Dewi mengernyit kecil. Ada yang aneh dengan nada bicaranya. Tapi apa ya? “oh, ya. Aku mau ngomong sesuatu. Kamu lagi sibuk?”
“Nggak terlalu. Mau ngomong apa?”
Dani tidak langsung menjawab. Ia melihat sekeliling. Lalu menarik Dewi ke balik dekorasi kaca pembatas ruang. Ia menghela napas sejenak diikuti tatap mata penasaran Dewi.
“Dew, sebelumnya aku minta maaf. Aku mengatakan ini bukan denga maksud apa-apa. Tapi ini demi kebaikan kita, terutama kamu.” Dhani berhenti lagi, “aku kayaknya… nggak bisa lanjut sama kamu.” Dewi terbelalak. Ia yakin telinganya salah dengar.
“Tolong kamu jangan marah Dew. Aku masih sayang kamu. Tapi aku nggak mau terus-terusan bikin kamu nggak nyaman…”
“Nggak nyaman?” putus Dewi. “kapan aku nggak nyaman sama kamu?”
“Aku… itu… hh…, kamu memang nggak bilang kalo nggak nyaman sama aku. Tapi dari gerak-gerik kamu selama kita jalan. Kayaknya kamu menjaga jarak sama aku.” Dewi mengernyitkan keningnya lagi. Kali ini lebih dalam. Apa itu salah?
“Aku ngerti kita maasih pacaran. Tapi gimana aku bisa tau kamu kalo kamu jaga jarak? Jadi maaf Dew, mungkin kita sampe di sini aja. Lagipula aku sekarang menghadapi skripsi. Aku nggak mau ngecewain Papa. Jadi, aku butuh waktu buat sendiri dan konsentrasi sama pendidikanku.” Jelas dhani panjang. “Tolong kamu ngerti.”
“Bukan karena kamu udah punya pacar baru kan?” Tanya dewi penuh selidik.
Dhani tertawa kecil. Dewi baru menyadari kalau kekasihnya yang akan segera menjadi mantan ini lebih tampan kalau tertawa. “Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu? Aku murni melakukan ini buat kita. Biar kamu lebih konsentrasi kerja. Dan aku konsentrasi ke pendidikan. Itu aja. Kan aku udah bilang kalau mau sendiri dulu.” Jawabnya.
Dewi tercenung. Ia nggak terima ini. Jujur, dalam hati kecilnya meskipun selama ini ia seperti yang dituduhkan Dhani, menjaga jarak, tapi bukan berarti ia nggak sayang dengan Dhani. Ia menyayangi Dhani dengan caranya sendiri. Tapi mungkin ia juga salah. Yang dibutuhkan Dhani bukan sekedar kalimat atau text berisi kata sayang, ia butuh tindakan nyata. Ekspresi cinta yang terlihat. dan inilah yang harus terjadi. Dhani memilih mengakhiri hubungan mereka setelah menghilang. Hanya karena Dewi yang terlalu pasif. Egois sekali. Pikirnya.
“Kamu jangan diem aja Dew.” Kata Dhani. Gesture-nya terlihat gelisah.
“Apa kita nggak bisa perbaiki Dhan? Aku nggak pengen putus dari kamu.” Kata Dewi.
Dhani menggeleng. “Maaf Dew. Aku juga berat melakukan ini. Tapi, hubungan kita udah mentok.”
Dewi menghela napas dengan berat. Yah, sabar aja lah. Toh, kami masih bisa berteman.
“Ya udah kalo itu mau kamu.” Dhani tersenyum lebar. Entah kenapa Dewi merasa kalau Dhani benar-benar ingin mereka putus.
“Makasih Dew. Kita masih bisa berteman kok.” Dhani menggenggam tangannya.
“ Ya….” Jawab Dewi malas. Ia tidak berminat membalas genggaman Dhani. Ya sudah, sampai di sini saja ia dan Dhani. Tapi Dewi ragu ia bisa kuat menerima kenyataan kalau ia dan Dhani hanya berteman mulai sekarang. Bagaimana pun, suatu saat Dhani akan mengambil alih Fishbone dan itu semakin memperbesar kesempatan mereka bertemu. Ya Allah, kenapa Anda begitu jahat pada saya?

Dewi masih tercenung sejenak sementara Dhani telah beranjak dari sampingnya. Ia sudah menyiapkan diri jika hal seperti ini terjadi. Tapi ternyata persiapan dan kenyataan itu dua hal yang sangat berbeda.

Ada sesuatu yang besar dan menggumpal mendesak untuk keluar dari dalam jantungnya. Dewi ingin mengeluarkan gumpalan itu, tapi yang ada malah tetesan air dari kedua sudut matanya. Ia mengusapnya lalu menarik napas beberapa kali. It's ok. Semuanya bakal baik-baik saja. 

"BABY...!!! Kamu di sini? Ya ampun, seneng banget aku ketemu kamu...." Suara nyaring Rika terdengar terkejut namun senang saat melihat seseorang.
"Ka... Kamu ngapain di sini?"
"Ya makan lah. Aku mau minta anter kamu jalan-jalan, tapi kamu selalu alesan nggak bisa. Jadi ya aku pergi sendiri. Eh, mbak Dewi. Sini mbak." Rika menarik tangan Dewi. "kenalin, ini pacar aku, Dhani. Kita baru jadian lhoh."
Raut bersalah campur tertangkap basah tampak jelas di wajah Dhani, sementara Dewi menatap tajam tepat ke matanya.
"Sendiri dulu, huh?!" gumamnya tajam.

To Be Continued.....................

Kamis, 03 Oktober 2013

Ketika Aku Ingin Bicara Dengan Tuhan

Sungguh Tuhan,
Bukan ini yang aku inginkan dari komitmen yang sudah kami buat.
Kami terlalu berat menanggungnya. Bahkan kami ragu, apakah benar ini kasih sayangMu?
Terlalu banyak yang kami pikirkan. Yang harus kami tanggung. Sampai-sampai kami bingung bagaimana harus menyelesaikannya.
Mungkin kami tahu apa yang harus kami lakukan. Tapi sepertinya masih terlalu berat untuk kami. Atau kamilah yang merasa berat.
Tuhan,
Bicara itu mudah sekali ya? 

Kamis, 26 September 2013

Catatan Katak

Tidak ada yang tahu siapa saya. Seperti apa saya hidup. Dan bagaimana saya bersikap.
Sejak dulu saya seperti dilatih untuk curiga pada apa yang saya temui. Tujuannya mungkin biar saya waspada. Tapi itu berlanjut menjadi paranoid berkepanjangan yang akhirnya membuat saya terisolasi dari dunia. Saya menjadi terbiasa untuk menunduk, memalingkan wajah, atau memicingkan mata ketika berhadapan dengan dunia. Tidak (atau belum) ada yang berhasil meyakinkan saya bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak perlu dicurigai.

Ada banyak orang yang seperti saya, tapi hanya saya yang belum bisa keluar menyapa dan menyalami dunia seperti kawan lama. Hanya saya yang masih membawa tempurung untuk melindungi diri. Hanya saya yang lebih memilih untuk tinggal di rumah pada saat semua orang bersenang-senang. Hanya saya yang masih mencari celah untuk lari tapi tidak pernah menemukan.

Dulu saya merasa nyaman menjadi makhluk dalam tempurung. Tapi sekarang, saya seperti narapidana yang harus menunggu antrian untuk sidang padahal tidak pernah berbuat salah. Menjadi makhluk dalam tempurung bukan keinginan saya. Menjadi seseorang yang menutup diri dari dunia tidak pernah ada dalam daftar keinginan hidup saya. Tapi melepaskan tempurung begitu saja, belum rela saya lakukan.

Kamis, 10 Januari 2013

IT WILL RAIN



            "God, I knew You have the cure for my wound"

            4 tahun. Dan dia masih sama seperti saat kami bertemu. Caranya bicara, berjalan, caranya memandangku bahkan saat tertawa. Daftar lagu di MP3-nya masih Frank Sinatra dan Nat King Cole. Dan ketika kami dinner berdua seperti sekarang, dia selalu memesan secangkir espresso setelah makan.

            “Kamu inget nggak waktu kali pertama kita bertemu?” dia bertanya.
            “Mana mungkin lupa?! Itu adalah peristiwa paling memalukan seumur hidupku.” Wajahnya langsung cemberut begitu mendengar jawabanku. Sementara aku malah tertawa kecil. “becanda, sayang. Nggak mungkin lah aku malu pernah kenal sama kamu.” Kataku sambil mengacak rambutnya.
            “Tapi kalo dipikir-pikir, waktu itu memalukan juga sih. Kita sampe jadi perhatian seluruh cafĂ© gara-gara rebutan meja.” Gantian dia yang tertawa. Matanya yang sipit jadi semakin kecil.
            “Nggak terasa udah empat tahun.” Gumamku.
            “Iya. Ternyata kita udah selama ini.”

            Sunyi. Kami berdua sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sesekali saling pandang dan melempar senyum seakan kami bertelepati. Terlalu banyak hal yang sudah aku jalani bersama Amanda. Dia perempuan yang cantik, baik, sopan dan penurut. Nggak ada hal yang paling aku inginkan di dunia ini selain menikahinya dan hidup bersama. Tapi cita-cita sederhana itu ternyata nggak mudah untuk diwujudkan. Apa pun yang aku miliki sekarang, masih belum bisa untuk mendapatkan dan memiliki Amanda seutuhnya.

            “Eka.” Panggilnya.
            “Hm, kenapa sayang?” aku sedikit heran dia hanya memanggil namaku.

            Sunyi kembali. Amanda memainkan cangkir espresso-nya beberapa saat. Lalu memandangku yang menunggu kalimat selanjutnya. Mata itu berbeda dengan beberapa menit yang lalu yang terlihat berbinar.

            “Aku ingin kita putus.” Tidak ada kata pengantar atau kalimat petunjuk. Singkat dan beberapa saat membuatku berpikir kalau aku salah dengar. Tapi meskipun pantai di belakangku saat ini terkena gelombang tsunami pun, aku rasa kalimat itulah yang dia ucapkan.
            “Kamu serius?” aku nggak tau harus mengatakan apa. Hanya ini satu-satunya yang aku pikirkan.
            “Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Hubungan kita nggak mungkin dipertahankan.” Jelas Amanda.
            “Kita sudah jalan selama empat tahun. Pasti masih bisa lebih lama dari itu.” Dia menggeleng. Wajahnya terlihat putus asa.
            “Nggak, Eka. Sejak awal kamu tau kalo pada akhirnya akan begini. Hubungan kita nggak mungkin diteruskan.”
            “Trus buat apa dulu kita susah-susah bikin rencana buat masa depan?” sambungku cepat. “Anda, aku udah berkorban banyak buat hubungan kita. Aku sudah memikirkan segala resikonya ketika pacaran sama kamu. Dan setelah empat tahun, kamu minta putus?”
            “Aku juga nggak menginginkan ini. Tapi Cuma ini jalan satu-satunya yang bisa memperjelas status kita.” Jawabnya. “kita berbeda, Ka.”
            “Nggak ada yang salah dengan perbedaan. Kita masih tetep bisa menjalaninya sama-sama kok.”
            “Nggak. Terkadang sebuah perbedaan nggak harus bersatu. Kita nggak seiman. Aku nggak mungkin mengikuti keyakinan kamu. Kalo pun kita nekad untuk menikah dengan tetap menganut keyakinan masing-masing, Mamiku nggak setuju.” Katanya.

            Aku membuang pandang ke arah pantai yang berjarak hanya beberapa meter dari kami. Berharap suasana hatiku akan lebih baik. Ini bukan kado yang aku harapkan di ulang tahun kami yang keempat. Dan aku nggak berharap bukan ini solusi yang tepat untuk hubungan kami yang terlalu banyak perbedaan. Ya, aku dan Amanda memang terlalu berbeda. Aku Jawa, dia Tionghoa. Aku bartender, dia pelukis. Aku shalat di masjid, sedangkan dia tidak pernah absen mengikuti misa di gereja. Sejak awal pertemuan kami di pulau dewata ini sampai menjalin hubungan hingga sekarang, aku tahu ini tidak akan mudah.

            “Kamu sudah tahu sejak menghadap ke Mami tiga tahun yang lalu, Mami dan keluarga besarku nggak akan merestui kita. Tapi kamu masih ingin kita jalan.” Kata Amanda setelah menunggu aku tidak mengatakan apa pun. “sudahlah, Ka. Ini semua sia-sia aja. Meskipun ibu kamu nggak masalah dengan keyakinanku, tapi kita tetap nggak bisa menikah tanpa restu dari Mami. Aku minta maaf kalo akhirnya harus mengatakan ini sama kamu.” Sambungnya.
            “Tolong lihat aku kalo lagi ngomong!” suaranya agak meninggi saat aku masih serius memandangi pantai. Mau tidak mau aku menoleh ke arah wajahnya yang kesal bercampur marah. “aku minta maaf.” Dia mengatakannya lagi. “tolong kamu ngerti.”

            Aku tidak menjawab. Hanya tersenyum samar dan mengacak rambutnya lalu berdiri dan berjalan menuju kasir. Amanda memandangku bingung dari meja kami. Setelah melunasi bill makan malam, aku mendatanginya kembali.
            “Ayo ikut.” Ajakku.
            “Ke mana?”
            “Jalan-jalan.” Dia menurut. Diraihnya tanganku yang terulur dan mengikutiku.

            Sepanjang jalan kami hanya saling diam. Sesekali Amanda memainkan ombak yang menyapa kakinya yang telanjang sementara tangan kirinya menggenggam erat tanganku. Entah sudah berapa jauh kami menyusuri pantai. Saat bertemu dengan pohon kelapa yang tumbang, aku mengajaknya duduk untuk beristirahat. Langit sudah sangat gelap, tapi aku belum ingin pulang. Diam-diam aku berdoa supaya Allah mengirim tsunami saat ini. Supaya kami bisa sama-sama menghadapNya. Hhhh…. Tapi itu pikiran konyol.

            “Sini.” Kutarik tangannya dan Amanda pun menempelkan tubuhnya padaku. Aku lalu melingkarkan lenganku ke tubuhnya yang kecil sementara kepalanya bersandar di bahuku. Kami kembali diam. Hanya menikmati suara debur ombak yang terdengar malas. Semilir angin berhembus pelan, membuat Amanda sedikit gemetar dan semakin merapatkan tubuhnya kepadaku.
            “Dingin ya?” tanyaku.
            “Iya.” Jawabnya yang lebih terdengar seperti menggumam. Aku melepas jaket yang kukenakan lalu menyelimutkan ke tubuhnya sambil mengeratkan pelukanku.
            “Makasih.” Katanya sambil tersenyum memandangku. Aku balas tersenyum lalu mengecup bibirnya. Suara debur ombak masih terdengar malas bahkan saat aku menjauhkan wajahnya dariku. Tanpa terasa kami sudah berpelukan sepanjang malam saat matahari samar-samar menyemburatkan cahayanya.

            Pelan-pelan kulepaskan tubuhnya, berdiri lalu berbalik pergi. Kubiarkan dia tetap mengenakan jaketku. Meninggalkan jejak pelukanku di tubuhnya. Aku berjalan cepat dan tiba-tiba saja pandanganku kabur. Seorang turis asing tanpa sengaja kutabrak. “Sorry.” Kataku lalu kembali berjalan cepat.

            Secerah apa pun hari ini, bagiku tetap saja mendung. Siapa yang sangka kalau putus ternyata sesakit ini. Sudahlah, ini memang yang terbaik. Dia hanya ingin aku bahagia. Dan pasti mengatakan kalimat terkutuk itu juga menyakitkan buat Amanda. Aku hanya perlu mencari obat untuk menyembuhkan kesedihan ini. Sudahlah Eka. Semua bakal baik-baik saja. Aku mengusap sudut mataku lalu menyalakan mesin motor dan segera pergi. Pulang.

-FIN-

PS: Untuk sahabatku yang baru berpisah. Percayalah, Allah will gives you the cure for your wound.
            

Rabu, 26 Desember 2012

Idola (Tidak) Sama Dengan Dewa

Ada satu fenomena menarik yang akhir-akhir ini saya bahas bareng seorang teman kantor. Tentang groupies atau fanatis mungkin lebih tepatnya. Mereka ini adalah fans yang bisa dibilang gila-gilaan lah mendukung idolanya. Mohon dikoreksi kalo istilah saya salah ya. Apalagi dengan mudahnya teknologi seperti sekarang, sangat gampang bagi seorang idola menggalang dukungan dan memperoleh fans sebanyak-banyaknya. Pun untuk para fans, gampang banget buat mereka berinteraksi dengan idolanya meskipun cuma di dunia maya.

Tapi seiring berjalannya waktu, lama kelamaan saya jadi mendapati ada semacam bullying antar fans -jiah... bahasa saya kayak editor tabloid aja... hahaha...- Yang paling gampang diinget aja, pas Selena Gomez pacaran sama Justin Bieber , para beliebers langsung mention ke akun twitter Selena Gomez pake ancaman yang nggak cuma ekstrim, tapi triple ekstrim. Pake mau ngebunuh segala. Udah gitu yang kena ancem bukan cuma idolanya, tapi juga fans-nya. Pernah denger cerita dari temen juga kalo dia pernah in touch sama seorang K-Pop Lovers. Temen saya nih kebetulan seorang Japanesia. Orang Indonesia yang suka segala hal tentang Jepang. Nah, si K-Pop Lovers ini suka nggak terima tuh waktu temen saya membahas kekurangan para Idol K-Pop. Dia ngebelain orang-orang negeri ginseng yang belum tentu kenal sama dia ini sengotot-ngototnya bahkan kalo perlu sampe mati kali. Hahaha... Miris banget denger ceritanya. Belum lagi kalo suka baca berita para seleb di internet -ampun dah...!!!- yang melibatkan para fans di garda depan sebagai Pasukan Pembela Idolanya, kadang suka ketawa sendiri. Bukan berarti saya nggak menghargai idola setiap orang. Saya sendiri juga punya idola. Mungkin sama dengan idola kamu, tapi saya nggak akan -dan mudah-mudahan nggak akan pernah- se-brutal para groupies yang ngebelain idolanya mati-matian. Mulai dari nyerang orang lain yang mengritik idolanya, bullying via twitter, sampe curhat di-wall facebook dan yang lebih parah adalah memuja idolanya setinggi langit. Padahal belum tentu mereka ngebelain ibunya sendiri se-ekstrim itu

It's ok kalo kamu mau appreciate prestasi idola kamu, tapi nggak usah langsung menghujat haters ketika mereka menghina idola kamu. Bukannya itu malah nunjukin kalo kamu bukan fans yang qualified untuk mengidolakan sosok yang WOW? Rasanya saya pengen gitu ngomong ke fans yang lebay ini, cobalah lihat gimana idola kamu menghadapi haters. Kalo dia menanggapi komen para haters dengan cara elegant, ya kamu harus menirunya juga. Tapi kalo idola kamu menanggapi para haters dengan brutal dan kamu menirunya, berarti kamu salah memilih idola. Hahaha... -maksa sekali- Dan satu lagi. Idola juga manusia. Jadi ketika mereka tersandung masalah dan jadi bulan-bulanan media, kita dukung seperlunya aja. Cukup support moril tanpa mengabaikan kekurangan dia. Jangan tutup mata karena itu sama saja kita mendewakan mereka.

At least, silahkan jika kamu mau mendukung idolamu dalam karyanya dan menguatkan mereka dalam musibahnya. Tapi be elegant, itu yang menunjukkan kalau kita adalah fans yang cerdas. Banggakan kelebihannya, dan terima kekurangannya. Maka para haters pun akan menghargai idola kamu dan para fans-nya.

Minggu, 23 Desember 2012

A Day before The Day

Aku mondar-mandir dengan cemas dalam kamar. Sesekali berhenti di depan cermin pintu lemari. Memerhatikan diriku dengan seksama. Wajah bulat dengan hiasan beberapa bintik jerawat, rambut sebahu yang tampak tipis -it's ok. Nanti bisa pake conditioner merk baru setelah keramas- dan tubuh kurus yang nggak terlalu tinggi -well, sebenernya perut yang sedikit berlemak itu nggak benar-benar mengesankan kurus- setelah itu menghempaskan diri di atas kasur yang sengaja digelar tanpa ranjang. Duduk tanpa melakukan apa-apa.

Kupandangi sekeliling kamar dan mendengar lalu lalang orang-orang yang sibuk di luar. Besok. Kuambil bantal dan mulai merebahkan diri. 12 tahun yang lalu aku menempati kamar ini sebagai gadis berusia 12 tahun. Setelah itu meninggalkannya untuk mengejar mimpi dan melihat-lihat dunia. Dan sekarang aku kembali lagi untuk menghadapi hari yang benar-benar bersejarah. Ternyata waktu memang sangat cepat berlalu. Aku sendiri nggak menyangka sudah sebesar ini. Aku lalu bangun dan membuka pintu. Kampir saja menabrak seorang ibu yang datang terburu-buru membawa bungkusan besar.
"Eh, ini tho calon pengantennya?" aku tersenyum menjawab pertanyaannya yang ramah.
"Selamat ya nduk. Nggak nyangka lho, akhirnya kamu nyusul adikmu juga." katanya disusul derai tawa.
"Terima kasih." jawabku singkat. Aku sedang nggak ingin bicara malam ini.
"Oh iya. Ibumu mana? Bulik ada titipan ini."
"Mmmm... tadi sepertinya di belakang bulik. Mari saya antar." aku berjalan mendahului perempuan paruh baya itu menuju dapur yang nggak kalah sibuk. Semua orang menyambutku ramah. Sepertinya mereka ikut berbahagia meskipun bertugas di dapur yang semrawut.
Aku mendatangi seorang wanita paruh baya yang sibuk mengupas bawang.
"Bu." aku menyentuh pundaknya.
"Kenapa nduk?"
"Ada bulik." jawabku pendek. Ibuku menoleh dan langsung terlibat obrolan seru dengan tamu yang datang tadi. Aku kemudian meninggalkan dua orang wanita itu di dapur yang semakin ramai. Saat sampai di pintu aku berhenti dan menoleh ke arah ibuku yang wajahnya terlihat bahagia dan segar. Padahal jejak usia terlihat jelas di wajah 64 tahunnya. Badannya yang berubah kendor dibalut daster lengan panjang. Dan rambut itu sepertinya lebih banyak uban daripada kemarin.
Tiba-tiba aku seakan mendengar suara piano yang mengalun pelan mengiringi perasaan melankolis yang tiba-tiba datang. Ibu tertawa dan memperlihatkan giginya yang mulai tanggal. Tangannya masih sibuk mengupas bawang sambil sesekali menanggapi obrolan tamunya. Ibu ternyata sudah setua ini. Atau cuma perasaanku karena selama ini jarang di rumah? Kemarin aku mencium tangan itu selepas shalat 'isya. Baru benar-benar aku rasakan teksturnya yang lebih kasar dari tanganku sendiri. Kemudian beliau melanjutkan wirid dan mengaji. Suaranya terdengar agak sengau tapi tetap jelas. Sepertinya dulu suara ibu lebih merdu ketika mengaji. Apa karena sudah tua? Tapi, suara itulah yang selalu melantunkan do'a buatku. Tangan itulah yang bekerja keras untukku. Membelai kepalaku saat meminta restu dan bibir itu yang mencium pipiku selama 24 tahun ini dengan penuh sayang. Ada sedikit perasaan bersalah mengingat besok aku akan dinikahi oleh orang yang baru kukenal 2 tahun ini. Ibu kira-kira marah nggak kalo aku tinggal? Ibu kecewa nggak kalo aku jarang menemaninya? Ibu sakit hati nggak kalo aku lebih jarang pulang?
Tiba-tiba saja suara piano itu berhenti dan berganti dengan keriuhan semula. Aku langsung menghapus air mata yang tiba-tiba merembes dan berlalu ke kamarku lagi. Tepat saat pintu kamar menutup, ponselku berbunyi, memainkan single Payphone milik Maroon 5.
"Halo?" sapaku sambil menahan tangis.
"Sayang, kamu lagi apa?" ternyata calon suamiku.
"Nggak... apa-apa..." jawabku sedikit tersedak. Aku bener-bener nggak bisa nahan tangis.
"Kamu kepikiran ibu ya?" aku mengangguk lalu buru-buru menjawab 'iya' mengingat dia tidak ada di hadapanku sekarang.
"Insya Allah ibu bakal baik-baik aja. Dia justru bahagia bisa lihat kamu menikah. Jangan nangis dong, masa calon pengantin matanya bengkak? Nanti aku dikira nikah sama panda lagi..." candanya yang membuatku sedikit terhibur dan tertawa kecil di sela tangis.
"Kalo... nanti.... aku kangen ibu,... boleh pulang nggak?" tanyaku.
"Boleh, sayang. Nanti aku sendiri yang anter kamu pulang." jawabnya. Aku menggumamkan terima kasih lalu diam. Hanya sesekali terisak karena tidak tahu harus bicara apa lagi. Calon suamiku masih menyalakan teleponnya, sebelum menyuruhku ke kamar mandi dan mengambil wudhlu.